Berita

Tb Ardi Januar/Dok

Publika

Bukit Duri Dan Akhir Rezim Basuki

KAMIS, 29 SEPTEMBER 2016 | 13:45 WIB

KEMARIN di sela kesibukan saya menyempatkan diri untuk mengupdate informasi via media online dan sosial media. Salah satu yang menjadi pokok bahasan adalah eksekusi pemukiman warga di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Ya, kemarin Gubernur Basuki (Ahok) kembali mengerahkan aparat untuk berhadapan dengan rakyat. Rakyat yang asli anak kandung bangsa, rakyat yang tiap saat membayar pajak kepada negara, rakyat yang berhak mendapat tempat tinggal dari negara, dan sebagian rakyat yang memilih Jokowi-Ahok untuk menduduki tahta Ibu Kota.

Penggusuran dengan dalih relokasi bukanlah kali pertama dilakukan Ahok. Sebelum Bukit Duri, sejumlah kawasan pemukiman masyarakat kelas bawah sudah lebih dulu merasakan kebengisan rezim. Sebut saja Kampung Aquarium, Luar Batang, Kali Jodo, Kampung Pulo dan Rawajati. Namun, yang membuat penggusuran Bukit Duri menuai kecaman karena persoalan ini sedang dalam proses gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.


Proses hukum yang sedang berjalan tepatnya sudah tahap ke-sembilan nampak tak digubris Ahok. Dia seakan ingin menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat bahwa dia adalah orang kuat yang keinginannya tak bisa digugat, masa bodoh dengan air mata serta hajat hidup rakyat.

Selain itu, penggusuran di Bukit Duri juga terasa amat menyakitkan karena di tempat yang sama empat tahun lalu, Ahok bersama Jokowi pernah berjanji akan membuat kampung deret, tidak akan  melakukan penggusuran, apalagi dengan mengerahkan aparat. Seniman Sandyawan Sumardi alias Romo Sandy menjadi saksi. Namun janji tinggallah janji, kampung deret yang diimpikan berubah menjadi deretan aparat bersenjata lengkap.

Untuk kesekian kali Ahok inkar janji. Momentum pencalonan untuk kedua kali yang seharusnya jadi ajang unjuk prestasi malah blunder untuk ukuran strategi. Ratting yang sebelumnya sudah turun pun diprediksi akan semakin terdegradasi. Maksud hati mencuri simpati dan puja puji, malah berbuah caci maki. Potensi menang dalam pilgub pun semakin jauh panggang dari api.

Dalam perjalanannya Ahok ternyata tidak hanya inkar janji kepada rakyat, namun juga kepada teman sejawat. Teman yang rela mengumpulkan KTP dari timur ke barat. Hanya untuk memenuhi sebuah syarat. Apa daya, tawaran partai politik dirasa lebih memikat. Kalau saya disuruh pilih. Teman Ahok tapi tidak jadi gubernur, atau jadi gubernur tapi tinggalin Teman Ahok, maka saya lebih memilih tidak menjadi gubernur" janji Ahok kala itu disambut riuh tepuk tangan para pendukungnya.

Selain memberi janji palsu kepada sekumpulan ABG, Ahok juga seakan menjadi beban bagi partai pendukungnya. Alih-alih nekat mengusung Ahok agar ratting membaik di pemilu 2019, yang ada malah terancam mengalami penurunan suara dan kehilangan simpati publik.

Terlebih, dua parpol pengusung Ahok adalah parpol yang paling getol mengklaim paling dekat dengan rakyat dan selalu merasa jadi partainya wong cilik. Ya, partai Si Papa dan partai Si Mama. Para kader dan akar rumput dari dua partai tersebut sedikit demi sedikit menarik dukungan. Ada yang sembunyi-sembunyi, ada pula yang terang-terangan melawan keputusan. Belum lagi cerita lucu si Abang yang rajin koar-koar sebagai ketua tim sukses, nyatanya tak diakui oleh Sang Jagoan.

Ahok ternyata tidak hanya menjadi persoalan bagi warga Ibu Kota, tetapi juga sebuah beban bagi mitra koalisinya. Sementara kubu pesaing semakin di terima oleh warga. Bahkan tak sedikit desain gambar (meme) yang berpesan Anies-Sandi dan Agus-Sylvi sama saja, asal jangan dia”. Ada juga meme yang menuliskan tiga cagub DKI: Agus, Anies dan Ah.. sudahlah…

Turut berduka dan bersimpati untuk warga di Bukit Duri. Tangisanmu dapat kami dengar dan jeritanmu dapat kami rasakan. Rabu pagi menjadi sebuah tragedi yang melukai hati serta menyayat nurani. Semoga Bukit Duri akan menjadi akhir dari rezim Basuki dan digantikan oleh pemimpin yang lebih manusiawi dalam mencari solusi.[***]


Tb Ardi Januar

Pemerhati Sosial


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya