Berita

Anies Baswedan/Net

Politik

Anies dan Sisi Gelap Kaum Intelektual

KAMIS, 29 SEPTEMBER 2016 | 05:12 WIB | OLEH: DENNY BRATHA

SEPULUH tahun lalu, jauh sebelum Anies Rasyid Baswedan popular seperti saat ini, dia pernah menuliskan gagasannya di sebuah surat kabar nasional berjudul "Siapakah ‘Ruling Elite’ Indonesia?”. Di tangan Anies, gagasan itu tidak sekedar teoritis tapi menjadi praksis. Kini konsistensi pemikiran Anies diuji dalam Pilkada DKI Jakarta.

Dalam tesis-nya yang fenomenal itu, Anies mendefinisikan Ruling elite adalah sekelompok elite di antara kaum elite-elite yang lain yang berkuasa menentukan arah kehidupan bangsa dan negara. Tesis yang diajukan di sini adalah pembentukan ruling elite ditentukan oleh (1) perekrutan anak-anak muda dan (2) tren utama bangsa.

Anies menjabarkan tren ruling elite bangsa ini dari masa ke masa. Dimana anak-anak muda yang pada masa mudanya terlibat dalam tren utama yang mewarnai bangsa ini kelak akan menjadi aktor-aktor di dalam ruling elite.


Mantan Menteri Pendidikan itu menjabarkan 3 kelompok ruling elite. Pertama adalah Elite Intelektual yang mendominasi lingkaran kekuasan dari 1945-1960. Mereka adalah anak-anak muda yang masuk ke dunia pendidikan di periode 1900-1940-an dan menjadi bagian dari gerakan melawan kolonialisme. Ketika Indonesia meraih kemerdekaan, kaum intelektual ini menjadi ruling elite pertama di Negeri ini.

Kedua adalah Elite Militer, mereka adalah anak-anak muda yang di era tahun 1940an terlihat dalam dunia militer.  Dalam perjalanannya, anak- anak muda ini kemudian menjadi aktor-aktor penting di tubuh Angkatan Darat. Dan, ketika konflik politik di tahun 1960-an berakhir dengan kemunculan TNI AD di arena kekuasaan, muncul pula ruling elite baru Indonesia. Mereka jadi ruling elite Indonesia hingga akhir 1990-an.

Ketiga adalah Elite Akivis, para anak muda yang aktif dalam dunia organisasi internal maupun eksternal kampus di dekade 1960-an.  Organisasi mahasiswa menjadi wahana perekrutan pemimpin muda. Kemudian menjamur pula organisasi kepemudaan menjadi saluran mantan aktivis mahasiswa untuk meneruskan aktivismenya. Para mantan aktivis ini kemudian aktif melalui partai politik, dunia akademis, LSM, ornop, pers, ormas keagamaan di samping sebagian kecil masuk ke dunia bisnis.  

Benar saja, sesudah tumbangnya Presiden Soeharto, para aktivis itu menjadi motor partai-partai politik dan aktor-aktor politik dominan di Indonesia. Pada era 1900 sampai 2010, para mantan aktivislah yang mendominasi kursi-kursi lembaga perwakilan dan lembaga eksekutif dari tingkat nasional sampai dengan tingkat kabupaten. Kalangan aktivis dan organisatoris ini menjadi ruling elite baru menggantikan kalangan militer.

Anies menguraikan dengan sangat bagus tren dan proses pembentukan ruling elite dari tiga dekade. Menurutnya, bagi kalangan muda yang berambisi untuk memasuki wilayah ruling elite, diperlukan ketajaman membaca tren utama bangsa.

Anies menyakini bahwa ruling elite baru yang akan mengantikan Elite Aktivis adalah elite enterprenuer dan professional bisnis (dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta, Anies meramalkan entrepreneur akan mulai berkuasa tahun 2010 dan seterusnya).

Menurut keyakinan Anies, Kalangan enterprener dan profesional bisnis ini memiliki pengalaman kepemimpinan yang bisa dibuktikan secara konkret, sebagaimana pemimpin militer. Elite ini akan muncul pada saat momentum yang tepat, mereka akan masuk dan turut mendominasi kekuasaan politik di Indonesia.

Godaan Kekuasaan

Anies Baswedan dikenal publik sebagai bagian dari Elite Intelektual. Setidaknya sampai tahun 2013, saat dia memutuskan masuk di jalur politik dengan mengikuti konvensi calon Presiden dari Partai Demokrat. Menjadi tim sukses Presiden Jokowi pada Pilpres 2014.  

Pasca Pilres, Anies kembali ke habitatnya sebagai Kaum Intelektual. Hal itu semakin dikapitalisasi saat didaulat menjadi Menteri Pendidikan pada 26 Oktober 2014.  Pada 27 Juli 2016 Anies dicopot dari jabatan Menteri. Kini Anies menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta.

Namun era Kaum Intelektual sudah berlalu, begitu menurut Anies dalam tesis-nya. Karena saat ini adalah eranya kalangan enterprenuer atau pembisnis professional. Diperlukan kolaborasi.
Sandiaga Uno mungkin merupakan sosok yang tepat. Maka saat Anies diminta oleh Ketua Umum Partai Gerindra untuk dipasangkan dengan Sandiaga, Anies tidak menolak. Dia seolah melupakan kritik yang sebelumnya pernah dilontarkan kepada Prabowo sepanjang masa Pilpres.

Ironisnya, Anies justru seakan mengamini sisi gelap demokrasi yang pernah diuraikan dalam pembuka tesis "Siapakah ‘Ruling Elite’ Indonesia?”, bahwa pada kenyatannya kekuasaan itu tidak identik dengan rakyat kebanyakan, tetapi dengan kaum elite. Kaum elite adalah bagian dari rakyat yang mengontrol akses pada sumber daya ekonomi dan politik, seperti finansial, informasi, pendidikan, status sosial, dan agama.  

Pada Pilgub DKI Jakarta, kaum elite terpolarisasi. Kompetisi antarpolar elite itu secara vulgar dipertontonkan, seolah menjadi bagian dari eksistensi demokrasi yang melibatkan rakyat kebanyakan. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah ; dengan atau tanpa demokrasi, kaum elitelah yang tetap menentukan. Intinya, elite yang minoritas jumlahnya menentukan mayoritas nasib jutaan rakyat DKI Jakarta.

Kini Anies menjadi bagian dari Elite yang minoritas itu. Tokoh intelektual yang mempopulerkan kalimat "Jangan beri kekuasaan kepada orang yang memburu kekuasaan” kini justru terjebak pada godaan kekuasaan? Tapi itulah kekuasaan, godaannya begitu menggiurkan. [***]
 
Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Politik

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya