Calon Ketum PSSI, Bernhard Limbong secara tegas tetap mendukung penyelenggaraan Kongres Luar Biasa pemilihan Exco pada 17 Oktober mendatang di Yogyakarta.
Menurutnya, rekomendasi Kemenpora itu bukan tanpa dasar. Di samping itu, lanjut Bernhard, Yogyakarta merupakan tempat lahirnya PSSI tahun 1930.
"Ini moment ya pas agar sepakbola kita kembali ke titik nol. Semua pihak harus bersatu membangun sepakbola," jelas mantan Exco era kepengurusan Nurdin Halid ini.
Dia mengancam akan mengundurkan diri sebagai calon bila KLB tidak digelar di tempat netral.
"Kalau tidak di tempat netral saya lebih baik mundur," tegasnya.
Hal senada dikatakan jurubicara Kelompok 85, GH Sutedjo bahwa mayoritas pemilik suara Kongres PSSI setuju tidak berangkat ke Makassar. Keputusan tersebut mengacu hasil rapat konsolidasi K85 di Jakarta, pada Selasa (20/9) lalu yang dihadiri sebanyak 87 pemilik suara sah Kongres PSSI.
"Kira-kira kalau kami tidak berangkat, kongres itu bisa digelar atau tidak? Tidak, kan? Ini seperti halnya waktu PSSI mengagendakan kongres di Balikpapan pada 3 Agustus 2016 yang kami tidak mau akhirnya PSSI memindahkannya ke Ancol di Jakarta," ujar GH Sutedjo.
Apa yang dilontarkan K85 memang memberi ancaman. Sebab, kongres berpotensi tidak kuorum bila pemilik suara mayoritas memilih boikot. Dengan begitu agenda Kongres Luar Biasa untuk memilih Ketua Umum PSSI dan lain-lain bisa gagal terselenggara.
[wid]