Pelaku Industri Kecil MeÂnengah (IKM) untuk komponen otomotif mengaku kesulitan unÂtuk menggarap pembuatan suku cadang motor dan mobil karena keterbatasan bahan baku. Karena itu, mereka meminta impor baÂhan bahan baku dipermudah.
Sekjen Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif Indonesia (PIKKO) Rony Hermawan mengatakan, IKM otomotif belum mendapÂatkan pembebasan bea masuk impor dari pemerintah. Ini berÂbeda dengan industri besar yang mendapatkan kemudahan impor karena mendapatkan fasilitas negara, seperti Bea Masuk DiÂtanggung Pemerintah (BMDP).
"Akibatnya biaya produksi meningkat yang mengakibatkan sulit bersaingnya harga komÂponen di pasar," ujar Rony di Jakarta, kemarin.
Selain itu, pelaku IKM otoÂmotif juga tidak bisa impor langsung. Menurut dia, selama ini IKM otomotif masih keterÂgantungan impor melalui para trader. Ini alasan utama keÂnapa pelaku IKM komponen otomotif di Indonesia belum mampu membuat komponen asli produksi dalam negeri.
Karena itu, kata dia, sangat wajar jika IKM otomotif di IndoÂnesia tidak bisa bersaing dengan negara lain. "Bahan baku kebuÂtuhan komponen kita sebagian besar masih diimpor dari China dan beberapa negara produsen bahan baku lain," terangnya.
Selain itu, menurut Rony, akibat keterbatasan bahan baku membuat IKM otomotif tidak bisa berkembang dan hanya bisa membuat aksesoris moÂtor dan mobil. "Sekarang baru perusahaan industri komponen besar saja yang sudah mampu memproduksi komponen seperti suku cadang untuk mobil dan motor," jelasnya.
Ketua umum PIKKO, RosaÂlina Faried mengatakan, IKM terus berupaya memperluas jangkauan pasarnya. Dia opÂtimistis, meski dihimpit oleh pemain industri besar tapi IKM otomotif masih bisa berkembang dan memperluas pasar di dalam negeri. Bahkan para pekerjanya pernah mendapat kesempatan dididik negara Jepang.
Lebih lanjut, dia berharap, agar IKM mendapat perhatian juga dari pemerintah. Dia ingin, IKM otomotif dilibatkan dalam membuat suku cadang. "Kami juga ingin agar pelaku industri otomotif besar melakukan alih teknologi dan bekerja sama dengan IKM mengembangkan komponen otomotif yang lebih berkualitas," ucapnya.
Wilayah Khusus IKMDirjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian PerÂindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih berencana memÂberikan sebuah kawasan khusus IKM, salah satunya bidang komponen otomotif. "Jadi, nanti rencananya kita mau bikin suatu kawasan yang namanya kawasan IKM untuk bahan jadinya," katanya.
Kawasan IKM tersebut juga akan berperan untuk mengevaluÂasi dan menilai hasil produk jadi yang akan dijual ke industri besar dalam maupun luar negeri. Jika hasilnya bagus maka akan lebih mudah untuk diproses lagi untuk ke depannya. "Jika terjadi masalah, kawasan terseÂbut juga dapat menjadi pemecah masalah," ujar Gati.
Saat ini, kata dia, terdapat beberapa daerah potensial yang memproduksi komponen otomoÂtif, seperti Tegal, Pekalongan, Purbalingga, Klaten dan Slawi. Kendati demikian, Gati tak ingin IKM dalam kawasan tersebut menjadi manja, justru ia berharap IKM memiliki nilai tawar lebih dengan menawarkan produk yang kualitasnya baik. ***