Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016 akhirnya memilih 28 finalis yang berhak mendapatkan fasilitas pembinaan berstandar internasional di Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum.
Mereka menyisihkan 4.547 atlet dari sembilan kota audisi.
Hasil tersebut disampaikan Tim Pelatih PB Djarum yang diketua Fung Permadi di GOR Djarum, Kudus.
Dalam rilisnya disebutkan 28 yang lolos itu terdiri dari 14 pebulutangkis U-13 putra, 10 pebulutangkis U-13 putri dan empat pebulutangkis U-15 putri.
Menurut Yoppy Rosimin selaku Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation), keberhasilan 28 pebulutangkis muda dari berbagai daerah dalam mendapatkan Djarum Beasiswa Bulutangkis merupakan awal dari perjalanan mereka untuk berjuang menjadi pebulutangkis dunia.
"Kami mengucapkan selamat atas antusiasme peserta yang berhasil meraih Djarum Beasiswa Bulutangkis, dan tentu menyampaikan rasa bangga terhadap semangat para atlet yang kali ini belum bisa mendapatkan kesempatan mendapatkan beasiswa tersebut," ujarnya.
Pihaknya berharap awal yang baik ini dapat menjadi kekuatan baru bagi para peraih Djarum Beasiswa Bulutangkis untuk lebih semangat dalam menjalani pembinaan bulutangkis di PB Djarum.
Dari data peraih Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016, Jawa Tengah/Yogyakarta menjadi daerah asal atlet terbanyak yang berhasil meraih Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016 dengan sembilan pebulutangkis. Disusul Jawa Timur delapan atlet dan asal daerah Jawa Barat dengan tiga atletnya. Lampung, Kalimantan Timur, dan Riau berbagi rata dengan menempatkan masing-masing dua atletnya, sementara Bali dan Sulawesi Tenggara satu peserta peraih Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016.
Berdasarkan kota audisi, Surabaya menempatkan atlet terbanyak peraih Djarum Beasiswa Bulutangkis dengan tujuh atletnya, disusul oleh kota audisi Purwokerto dengan enam atletnya. Kota audisi Solo berhasil menempatkan enam atletnya, sementara Kudus ada 3 atletnya. Kota audisi Bandung, Balikpapan, Palembang masing-masing berhasil mengusung dua atletnya. Kemudian ada dari Cirebon dan Makassar yang menempatkan masing-masing 1 atletnya.
"Selama karantina, Tim Pelatih secara lebih mendalam memantau kemampuan dasar dan potensi pengembangan permainan setiap peserta. Untuk teknik dasar, kami memantau tehnik pukulan yang baik dan pergerakkan kaki dalam menjelajah lapangan,"
Namun pihak Djarum juga memberikan toleransi terkait hal teknis yang belum sempurna karena hitungan mereka masih terbilang muda,
"Selain itu, kami juga mengamati perkembangan perilaku selama karantina di PB Djarum, di dalam lapangan maupun di luar lapangan. Perilaku dan kemampuan menjaga semangat menjadi pertimbangan kami menentukan 28 peserta terbaik penerima Djarum Beasiswa bulutangkis dari keseluruhan peserta karantina," jelas Fung
.[wid]