Penolakan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi terkait dilaksanakannya kongres PSSI di Makassar merupakan tindakan yang keliru.
Direktur Kawasan Timur Indonesia (KTI) Watch, Razikin Juraid menjelaskan, Menteri Imam terkesan undrestimate terhadap kesiapan Masyarakat Makassar dalam mendukung reformasi total demi perbaikan PSSI. Padahal masyarakat Makassar menyambut baik rencana KLB PSSI dan mendukung sepenuhnya.
"Sebaiknya Menpora tidak melakukan tindakan kontraproduktif dengan keputusan PSSI yang telah memutuskan Kota Makassar sebagai tuan rumah Kongres. Saya percaya Pengurus PSSI sudah mempertimbangkan secara jernih penentuan tuan rumah kongres. Karena itu Menpora mestinya mendukung demi kemajuan sepak Nasional," terang dia dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Selasa (13/9).
Argumen Menteri Imam soal reformasi total dan perbaikan PSSI hanya dapat terwujud apabila digelar di Jogyakarta, dinilai Razikin blunder. "Itu argumen yang sangat tidak berdasar dan meremehkan insan persepakbolaan di Makassar. Dalam hal ini Menpora Imam Nahrowi kelihatannya buta huruf," kritiknya.
Bukan tanpa sebab, menurut Razikin, Makassar adalah salah satu kota yang banyak memberikan kemajuan bagi persepakbolaan nasional.
Sebelumnya, Menteri Imam akhirnya membalas surat permohonan rekomendasi kongres Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang di laksanakan di Kota Makassar. Manariknya, isi surat balasan tersebut, bukan merestukan pelaksanaan kongres di Makasar pada 17 Oktober mendatang, melainkan Menpora meminta untuk dipindahkan di Yogyakarta.
Surat yang bernomor S.2844/MENPORA/IX/2016 bersifat sangat segera, perihal rekomendsi yang ditujukan kepada Plt Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia‎ (PSSI) di Jakarta, dan Menpopora menyatakan sebagai berikut.
"Pada dasarnya kami menyambut gembira rencana penyelenggaraan Kongres PSSI pada 17 Oktober 2016, dengan harapan bahwa Kongres PSSI tersebut dapat berlangsung sesuai instruksi Bapak Presiden Joko Widodo agar reformasi persepakbolaan Indonesia bersifat total dan komprehensif," kata Menpora dalam surat yang dikeluarkan 9 September tersebut.
Sementara pada poin kedua adalah "Namun demikian, searah dengan harapan pemerintah tersebut, rekomendasi hanya akan diberikan seandainya pelaksanaan Kongres PSSI tersebut diselenggarakan di Yogyakarta dengan alasan sebagai wujud reformasi PSSI untuk kembali ke titik nol. Mengingat Yogyakarta adalah tempat lahirnya PSSI."
‎Selain itu, pada poin ketiga Menpora Imam Nahrawi menuturkan penunjukkan Yogyakarta merupakan momentum reformasi total persepakbolaan nasional dengan memperhatikan UU 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional beserta peraturan pelaksanaannya.
[sam]