Berita

Jaya Suprana/Net

Politik

Memohon Belas Kasihan Bagi Rakyat Tergusur

MINGGU, 04 SEPTEMBER 2016 | 13:52 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEBAGAI warga Indonesia, di usia senja saya tidak memiliki kepentingan apa pun kecuali menikmati nikmat bahagia kemerdekaan bangsa Indonesia. Apalagi kebetulan saya beruntung tidak bermukim di kawasan yang tidak terancam penggusuran. Mendadak di tengah kebahagiaan yang sedang saya nikmati, lubuk sanubari saya tersentak oleh maraknya penggusuran terhadap warga Indonesia termasuk terhadap warga Bukit Duri.

Kebetulan saya mengenal warga Bukit Duri melalui berbagai kegiatan kesenian termasuk pada tahun 2008 ketika bersama mempergelar Konser Rakyat di Gedung Kesenian Jakarta yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara beserta para menteri yang duduk bersama rakyat miskin Jakarta menyaksikan pergelaran seni-tari dan seni-musik oleh rakyat untuk rakyat. Kebetulan saya juga bersahabat dekat dengan seorang warga Bukit Duri bernama Sandyawan Sumardi yang saya selalu paksa panggil dengan sebutan Romo dalam bahasa Jawa berarti Bapak bahkan Ayah sebab saya sangat menghormati beliau sebagai pejuang kemanusiaan sejati yang siap berkorban jiwaraga demi membela kaum tertindas. Para korban tragedi Mei 1998 pasti tidak lupa betapa besar perjuangan bahkan pengorbanan Sandyawan Sumardi sebagai pemrakarsa pemrakarsa pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan Mei 1998 (TGPF).

Tokoh politik masa kini, Budiman Sudjatmiko pasti tidak lupa betapa besar pengorbanan Sandyawan Sumardi dalam menyelamatkan nyawa Budiman Sudjatmiko dari kejaran aparat keamanan pasca tragedi 27 Juli 1996. Para tukang becak di Yogyakarta, warga tergusur Kedung Ombo, kaum buruh tertindas pasti juga tidak pernah melupakan perjuangan Romo Sandy membela kaum tertindas. Ketika warga Cina Benteng digusur, Sandyawan Sumardi bersama laskar Ciliwung Merdeka ikut mendukung pembelaan. Bahkan, Romo Sandy sempat ditahan beberapa hari di Kodim Jakarta Timur karena dituduh mengkoordinasi aksi perlawanan para tukang becak di Jakarta. Selama dua hari dua malam ia dimintai keterangan di hadapan penyidik mengenai persoalan aksi perlawanan tersebut. Memang, ketika itu Sandyawan sempat mengumpulkan ratusan tukang becak untuk mengadukan masalah mereka ke DPR. Sebuah pertemuan para tukang becak yang dipimpinnya sempat dikepung oleh aparat keamanan. Kedekatan Romo Sandy dengan rakyat miskin menyebabkan dirinya merakyat dengan julukan 'Romo Pemulung'.


Sementara warga Bukit Duri pada hakikatnya merupakan sebuah komunitas warga urban sahaja di Jakarta. Namun dengan segala keterbatasan diri mereka sendiri, warga Bukit Duri pernah berjasa dalam ikut memberikan bantuan kemanusiaan scara spontan dan tulus kepada para korban maha derita akibat gempa dan tsunami Aceh dan Sumatera Utara tahun 2004. Pada tahun 2013 komunitas warga Bukit Duri memeroleh anugerah penghargaan (award) tingkat nasional dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai pejuang City Changer, sebagai Komunitas Swadaya Masyarakat yang telah terbukti mengejawantahkan semangat pembangunan berkelanjutan dalam pembangunan kota.

Namun kini mendadak sontak pemerintah melayangkan SP 1 kepada warga Bukit Duri. Berarti tidak lama lagi warga Bukit Duri akan digusur justru ketika gugatan class action warga masih sedang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (minggu lalu sidang ke VI). Namun Bukit Duri tidak sendirian dalam terancam penggusuran. Nasib naas tergusur dialami warga Kampung Pulo, Pasar Ikan, Luar Batang, Kalijodo, Cina Benteng, Rajawati, Kendeng, dan berbagai lokasi di Indonesia serta ratusan titik lokasi di Jakarta yang masih akan digusur.

Menyadari bahwa penggusuran mutlak merupakan hak dan wewenang pemerintah, maka dengan penuh kerendahan hati saya sebagai sesama warga Indonesia dengan warga tergusur memberanikan diri memohon kemurahan hati dan belas kasihan pemerintah terhadap rakyat untuk berkenan melakukan penggusuran tanpa paksaan apalagi kekerasan melalui proses musyawarah mufakat bersama rakyat sesuai asas kemanusiaan adil dan beradab serta keadilan sosial bagi segenap rakyat Indonesia. [***]

Penulis adalah pemerhati sosial, prihatin nasib rakyat tergusur.


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya