Berita

BG saat menjadi ajudan Mega selaku Presiden RI/Net

Politik

Pengajuan BG Sebagai Kepala BIN Panjar Dari Jokowi Untuk Mega Agar Dukung Ahok?

JUMAT, 02 SEPTEMBER 2016 | 11:19 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Setelah lama menjadi rumor, pengajuan Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kepala Badan Intelijen Negara akhirnya menjadi kenyataan. Presiden Joko Widodo pagi ini resmi mengusulkan Wakil Kapolri tersebut ke DPR untuk menggantikan Letjen (Purn) Sutiyoso, Kepala BIN saat ini.

Penunjukan ajudan Megawati Soekarnoputri saat menjadi Presiden tersebut seakan mulai membenarkan spekulasi yang ramai beredar saat ini. Yaitu, terkait dengan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Megawati sampai saat ini belum memutuskan siapa yang akan diusung sebagai cagub DKI. Meski sejumlah sinyal sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa pilihan akan jatuh pada Basuki T. Purnama. Yang terakhir, Megawati mencopot Bambang DH, Plt Ketua DPD DKI, yang selama ini menolak keras mendukung Ahok, sapaan akrab incumbent.


Sementara Jokowi berdasarkan informasi yang berkembang dari awal sudah menyatakan dukungan terhadap Ahok. Dan dia meminta agar PDIP menjadi partai pengusung. Namun, Megawati tidak mau serta mengamini.

Meski pada akhirnya mendukung, Megawati ditengarai mengajukan sejumlah syarat. Yaitu, kocok ulang kabinet. Karena Megawati tidak sreg dengan hasil reshuffle kabinet jilid II lalu.

Karena itu, pengajuan nama Budi Gunawan ini bisa diibaratkan sebagai panjar atau 'DP' alias down payment dari Jokowi kepada Megawati. Karena selain Kepala BIN, Megawati disebut-sebut juga meminta 1 atau 2 pos kementerian lainnya, sebagai syarat PDIP akan menyokong Basuki T. Purnama.

Makanya, informasi yang berkembang, Jokowi akan melakukan reshuffle untuk yang ketiga kali dalam dua tahun pemerintahannya ini. Kocok ulang kabinet III ini akan dilakukan sebelum atau sesudah tanggal 19-21 September. Mengingat, waktu tersebut adalah masa pendaftaran calon gubernur DKI Jakarta.

Pada kocok ulang kabinet III ini pula, Presiden disebut-sebut sekalian mengumumkan Menteri ESDM defenitif, menggantikan Luhut Panjaitan yang saat ini menjadi Plt pasca pencopotan Arcandra Tahar.

Sebelumnya juga, seperti sudah dilansir media ini pada 11 Agustus lalu, seorang bekas pejabat yang pernah berada di Istana, juga dekat dengan Teuku Umar (baca: rumah Mega), menyatakan reshuffle jilid III itu akan terjadi. "September atau paling lambat Oktober," katanya, kepada Rakyat Merdeka, soal waktu reshuffle III ini.

September memang akan jadi bulan yang "panas". Tensi politik di Jakarta meninggi, karena pada tanggal 19-21 September, KPU DKI Jakarta akan membuka pendaftaran cagub-cawagub. Rakyat Jakarta, juga mungkin rakyat se-Nusantara, tak sabar menunggu sikap PDIP, apakah mendukung Ahok atau mencalonkan Risma. [Baca: Apa Megawati Mau Nego Sama Presiden]

Dalam situasi seperti ini, dikabarkan Mega akan menawarkan opsi baru kepada Jokowi agar harapan PDIP, Menteri BUMN Rini Soemarno terdepak dari kabinet terkabulkan. Caranya: PDIP akan dengan ikhlas mendukung Ahok sebagai cagub. Tapi, jika Jokowi tetap mempertahankan Rini, PDIP akan mencalonkan Risma yang dinilai banyak orang bisa menjungkalkan Ahok.

Kenapa cara ini ditempuh PDIP? Bekas pejabat ini meyakini, kalau PDIP mendukung Ahok, tentunya membuat Jokowi nyaman. Karena sebagaimana diketahui, Jokowi sangat menginginkan Ahok jadi gubernur, juga sangat menginginkan PDIP ikut menjadi partai pengusungnya. Buktinya, Jokowi turun gunung melobi Mega di mobil dinasnya, saat akan menghadiri acara Rapimnas Golkar di JCC Senayan, dua pekan lalu.

Tapi, jika PDIP malah mencalonkan Risma, tentu akan membuat Jokowi ketar-ketir. Karena, Risma diyakini akan menjadi lawan berat Ahok. Dan, sangat mungkin Risma mengalahkan Ahok.[zul]

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

UPDATE

Warga Antusias Saksikan Serah Terima Pengawalan Istana Merdeka oleh Paspampres

Minggu, 15 Februari 2026 | 18:05

Festival Bandeng Rawa Belong Dongkrak Omzet Pedagang

Minggu, 15 Februari 2026 | 17:22

Imlek Berdekatan dengan Ramadan Membawa Keberkahan

Minggu, 15 Februari 2026 | 17:03

Makan Bergizi Gratis: Konsumsi atau Investasi Bangsa?

Minggu, 15 Februari 2026 | 16:44

Kanada Minta Iran Ganti Pemimpin Atau Sanksi Ditambah

Minggu, 15 Februari 2026 | 16:09

Ini Alasan Lembaga Survei Dukung Wacana Pilkada Tak Langsung

Minggu, 15 Februari 2026 | 15:52

Jokowi Sedang Cari Muka Lewat UU KPK

Minggu, 15 Februari 2026 | 15:50

NATO Buka Data Kerugian Gila-gilaan Rusia di Perang Ukraina

Minggu, 15 Februari 2026 | 15:22

Libur Panjang Imlek, Simak 3 Kunci Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 15 Februari 2026 | 14:43

Selain UU KPK, MAKI Desak Prabowo Sahkan UU Perampasan Aset

Minggu, 15 Februari 2026 | 14:40

Selengkapnya