Berita

Foto/Net

On The Spot

Pindah Ke Rusun Rawa Bebek, Warga Keluhkan Angkutan Publik

Menengok Bekas Penduduk Bantaran Ciliwung
RABU, 24 AGUSTUS 2016 | 09:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Meski rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Rawa Bebek belum sepenuhnya selesai, Pemerintah DKI Jakarta memutuskan menggusur ratusan keluarga di bantaran Kali Ciliwung, di wilayah Bukit Duri, Jakarta Selatan. Puluhan warga pun berangsur menempati unit rusunawa itu.

Rusunawa Rawa Bebek terletak di bibir Kanal Banjir Timur, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Dari delapan blok yang direncanakan, saat ini baru empat blok yang siap dihuni. Masing-masing blok terdiri dari lima lantai dengan satu lantai dasar, dan 100 unit hunian.

Rencananya, selain warga Bukit Duri, jika sudah rampung rusunawa itu juga akan menam­pung warga gusuran Pasar Ikan, Luar Batang, Jakarta Utara. Saat ini, mereka sementara masih menempati rusun yang berada di sampingrusunawa bagi warga Bukit Duri. Rusun tersebut sebenarnya untuk pegawai Pemda DKI yang berstatus belum menikah.


Kegiatan proyek masih ber­langsung di bagian depan, yang dekat dengan pintu masuk rusu­nawa. Di empat unit rusunawa yang sudah siap huni, belum ada papan nama yang menandakan rusunawa tersebut. Tampak se­jumlah alat berat masih melaku­kan beberapa pengerjaan.

Satu unit ekskavator memin­dah-mindahkan tanah di bagian pagar depan. Pagarnya pun masih berupa seng, meski se­bagian besarnya sudah ditembok bata ringan berwarna putih. Satu unit alat berat lainnya menger­jakan bagian dalam pagar rusu­nawa yang belum selesai. Antara rusunawa yang sudah siap huni dan yang belum selesai, dibatasi pagar seng.

Memasuki bagian dalam pa­gar, beberapa warga gusuran Bukit Duri melakukan aktivitas luar ruangan. Aktivitas warga mulai terlihat meski belum se­muanya warga Bukit Duri yang terkena dampak normalisasi Ciliwung, pindah ke sana.

Di rusunawa ini, warga gusuran masing-masing mendapatkan unit hunian dengan tipe 36, atau 6 x 6 meter. Tiap hunian terdapat dua kamar tidur berukuran masing-masing 2,5 x 3 meter, sebuah dapur dan kamar mandi.

Meski terbilang bagus, namun masih ada beberapa hal yang dikeluhkan warga. Salah satunya adalah nyamuk. Abdul Rahman Gani, penghuni unit lantai 1 Blok Merpati yang pindah dari Bukit Duri pada 12 Agustus lalu mengaku, lotion anti nyamuk yang dipakainya terkadang tidak mempan untuk menghalau bina­tang tersebut.

"Di sini lumayan enak. Tapi nyamuknya itu. Saya kira karena bangunan baru, nggak akan ada nyamuk. Tapi mungkin karena sekitarnya juga masih banyak rawa. Saya pakai lotion anti nyamuk kadang nggak mem­pan," terangnya saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.

Di rusunawa ini, Abdul Rahman tinggal bersama istri dan dua orang cucunya. Satu cucu­nya kelas 3 SMP, sedangkan yang lain duduk di bangku kelas 4 SD. Namun, masalah muncul manakala kedua cucunya akan berangkat sekolah. Soalnya, kedua cucunya masih sekolah di Bukit Duri.

Kata Abdul Rahman, transpor­tasi dari dan ke rusunawa terse­but tidak pasti. Tapi yang jelas, kata dia, jam lima pagi sudah ada Bus TransJakarta yang mangkal di depan rusunawa, jurusan Rawa Bebek-Penggilingan. Tapi setelah itu, tidak menentu waktu kedatangannya.

"Padahal cucu saya seko­lahnya masih di Bukit Duri, di sekolah agama. Saya nggak mau pindahkan ke sekolah umum yang dekat, karena nanti ilmu agamanya kurang. Harusnya ada bus sekolah, karena di rusun sebelah sana ada bus sekolah dua buah," jelasnya.

Dia membandingkan transpor­tasi TransJakarta di rusun Pulo Gebang. Menurutnya, rusun tersebut disinggahi angkutan umum lebih sering daripada rusun Rawa Bebek yang ditem­patinya. "Ya jadinya kadang-kadang cucu saya tinggal di rumah orangtuanya, di Bukit Duri," bebernya.

Selama berada di rusunawa tersebut, Rakyat Merdeka hanya sekali melihat kedatangan Bus TransJakarta, ukuran medium berwarna biru. Saat itu sudah pukul setengah enam sore. Bus itu juga tidak lama berada di rusunawa. Hanya menurunkan penumpang, lalu berangkat lagi.

Di rusanawa ini, Abdul Rahman mengaku harus merogoh kocek Rp 350 ribu per bulan untuk biaya sewa. "Itu karena saya di lantai satu. Makin ke atas makin murah," ucapnya.

Biaya yang harus dikeluarkan pun bukan hanya untuk sewa hunian. Listrik dan air terpisah dari biaya-biaya yang harus dibayar warga hunian rusunawa Rawa Bebek.

Selain minimnya transportasipublik, pusat kegiatan masyarakat seperti pasar pun tidak terlihat di dekat rusun Rawa Bebek. Padahal, menurut Abdul Rahman, kebanyakan warga yang digusur bekerja di pasar sebagai kuli angkut maupun pedagang.

Keluhan terkait transportasi publik dari Rawa Bebek juga juga dilontarkan Maka. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir tembak angkutan kota ini, mengaku rugi ongkos jalan sejak dia pindah ke Rawa Bebek.

Sebagai sopir tembak, Maka mengaku penghasilannya sehari maksimal Rp 35 ribu. Sedangkan uang untuk membayar transpor­tasi dari dan ke rusunawa lebih dari Rp 20 ribu.

"Hitungannya kita rugi. Belum untuk makan. Dulu kalau makan kita bisa pulang karena dekat. Sudah begitu, saya harus jalan dua kilometer untuk naik ang­kutan umum, karena di jalan depan rusunawa tidak dilewati angkot. Kalau naik ojek mahal," keluhnya. ***

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya