Kalangan aktivis terus meÂnyerukan penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertembakauan yang sedang dibahas di DPR. RUU tersebut dinilai akan merugiÂkan rakyat Indonesia karena berusaha melonggarkan aturan pengendalian tembakau.
Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, dari sisi kesehatan, RUU Pertembakauan akan mengancam kesehatan masyarakat.
"RUU ini akan menaikÂkan jumlah produksi rokok, jika demikian masyarakat akan lebih banyak yang sakit dan tambah miskin," katanya, dalam jumpa pers di Kantor YLKI, Jalan Pancoran Barat VII, Jakarta.
Diterangkannya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukÂkan konsumsi rokok menggerus pendapatan keluarga miskin sebesar 12 persen. Jika seseÂorang mengkonsumsi sebungkus rokok seharga Rp 15 ribu per hari, sebulan dia mengeluarkan Rp 450 ribu hanya untuk rokok. "Konsumsi rokok tentunya akan terus naik jika produksi rokok dinaikkan," ujar Tulus.
Dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 63/m-IND/PER/8/2015 tentang Peta Jalan Industri Hasil Tembakau 2015-2020, produksi rokok akan ditingkatÂkan menjadi 500 miliar batang per tahun.
RUU Pertembakauan sendÂiri bakal mendukung target produksi tersebut. Ditekankan Tulus, pengendalian produk tembakau tidak akan bisa diÂlakukan jika produksi rokok ditingkatkan.
YLKI sendiri mencatat RUU Pertembakauan bakal mengamÂputasi pasal-pasal kesehatan di UU Kesehatan dan UU Cukai. "Misalnya peringatan kesehatan bergambar akan dikembalikan ke peringatan tertulis, aturan kawasan tanpa rokok diganti menjadi kewaÂjiban menyediakan smooking room," ungkap Tulus.
Anggota Dewan Pengurus Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), Kartono Mohamad, menyeÂbutkan RUU Pertembakauan tidak berusaha melindungi para petani tembakau.
Saat ini kondisi petani temÂbakau jauh dari sejahtera, tidak memiliki lahan, terus merugi karena tata niaga yang timpang, serta sulit menanam tembakau karena cuaca yang tidak menentu.
Bukti tata niaga yang timpaÂng dimulai dari praktek industri yang memberikan penawaran harga kepada petani. "Kalau mau menolong petani, jangan jadikan mereka batu pijakan bagi pemilik pabrik rokok unÂtuk menjadi kaya," katanya.
Selama ini kerjasama inÂdustri dan petani tembakau menggunakan sistem ijon. Tak hanya itu, petani juga dipaksa menurunkan harga tembakauÂnya agar bisa bersaing dengan tembakau impor asal China yang lebih murah. ***