Berita

Hanif Dhakiri

Tak Mampu Lindungi Pekerja Indonesia, Menteri Hanif Layak Dicopot

RABU, 27 JULI 2016 | 02:32 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Bahlil Lahadalia prihatin atas membanjirnya pekerja asing khususnya dari China di Indonesia.

"Ini adalah negara Republik Indonesia, bukan salah satu provinsi dari China," tegas Bahlil (Selasa, 26/7).

Apalagi dia menyesalkan Pemerintah merevisi Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) 12/2013  menjadi Permenaker 16/2015 sehingga pekerja asing tidak lagi diwajibkan untuk memiliki kemampuan berbahasa Indonesia. "Penggunaan bahasa Indonesia adalah bagian dari idealisme kita sebagai sebuah negara, bukan sebatas aturan formal Permenaker," tekannya.


Dia menegaskan klaim Menaker, M. Hanif Dhakiri, akan ada alih ketrampilan dengan kehadiran pekerja asing hanya omong kosong. Karena yang membanjiri Indonesia adalah pekerja kasar.

"Memang, pekerja China tidak sampai sepuluh juta. Tetapi, pekerja China bukan hanya mempunyai skill khusus, tapi bahkan pekerja kasar pun diboyong dari sana. Ini merupakan penghinaan bagi bangsa dan negara," ungkapnya.

Menurutnya, kehadiran para pekerja asing tersebut membawa dampak buruk bagi negara ini. Antara lain, pelanggaran undang-undang, kecemburuan sosial, dan kerusakan budaya bangsa.

"Menaker harusnya malu dan mengundurkan diri karena tidak mampu menjaga dan melindungi tenaga kerja kita, justru pada saat negara kita sedang banyak pengangguran dan membutuhkan lapangan pekerjaan," imbuhnya.

Dia mengingatkan Menaker harus mampu mendeteksi berapa jumlah pekerja China yang memakai visa turis dan overstay. Karena hal ini tak terungkap selama ini.

"Dalam konteks politik ke depan, kita tidak boleh mengabaikan keberadaan pekerja China di Indonesia hanya semata-mata bekerja. Menaker berdalih mereka bekerja hanya enam bulan. Tapi, siapa yang bisa menjamin? Di Monokwari, mereka sudah mukim satu tahun lebih untuk membangun pabrik semen. Belum lagi di Kalimantan, Sulawesi, Banten," tandas mantan Ketua BPD Papua ini. [zul]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

Pernyataan Eggi Sebut Akhlak Jokowi Baik jadi Bulan-bulanan Warganet

Selasa, 20 Januari 2026 | 01:40

Senyum Walikota Madiun

Selasa, 20 Januari 2026 | 01:19

Rapim Kemhan-TNI 2026 Tekankan Sishankamrata sebagai Kekuatan

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:55

Legislator PKS Dorong Penyaluran KUR Pekerja Migran Tepat Waktu

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:35

Digiring ke Gedung KPK, Walikota Madiun Malah Minta Didoakan

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:20

Bencana Menerjang, BUMN Datang

Senin, 19 Januari 2026 | 23:55

Polisi Bongkar Clandestine Lab Tembakau Sintetis Senilai Rp2 Miliar

Senin, 19 Januari 2026 | 23:37

Mantan Jubir KPK Ali Fikri Raih Gelar Doktor Hukum Unair

Senin, 19 Januari 2026 | 23:11

Napi Bebas Pakai Gawai di Lapas Bukan Kelalaian Biasa

Senin, 19 Januari 2026 | 23:02

Walikota Madiun Maidi Dkk Tiba di Gedung KPK, Sebagian Lewat Belakang

Senin, 19 Januari 2026 | 22:46

Selengkapnya