Berita

maneger nasution

Penanggulangan Terorisme Harus Lebih Humanis

RABU, 20 JULI 2016 | 22:33 WIB | OLEH: MANEGER NASUTION

AKSI-Aksi terorisme yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir adalah salah satu pertanda bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi peperangan asimetris. Di mana dalam peperangan tersebut, ancaman sudah tidak lagi datang dari negara, melainkan juga dari aktor-aktor nonnegara seperti halnya terorisme.

Di negara-negara demokratis pada umumnya penangangan teroris yang terjadi di dalam negeri dilakukan oleh unsur unsur non militer seperti kepolisian yang dibantu departemen terkait. Karena memang rata-rata tindak terorisme lebih didekatkan ke unsur pidana (criminal justice system), bukan dengan pendekatan perang (approach to war).

Seperti halnya Indonesia, terorisme, berdasar UU No.16 tahun 2003 tentang Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme. Oleh karenanya, lembaga yang dianggap berwenang menangani hal ini adalah Polri.


Di Perancis, misalnya, memiliki Groupe d’Internvention de la Gendarmerie Nationale (GIGN) dan Jerman dengan Grenzschulzgruppe (GSG-9). GIGN meski dalam struktur organisasinya dibawah militer, tetapi dalam beroperasi menggunakan aturan pada umumnya kepolisian. Sedangkan GSG-9 jelas satuan ini berada di bawa kepolisian federal Jerman.

Namun, negara seperti Inggris menggunakan militernya seperti SAS (Special Air Service) untuk menangani terorisme tetapi jelas tidak berdiri sendiri tapi in conjunction with” pihak kepolisian. Jadi memang tampaknya institusi non-militer, atau tidak purely military yang digerakkan duluan untuk penanggulangan teror yang terjadi.

Sebagian publik mengapresiasi upaya pemberantasan teroris yang dilakukan oleh satgas gabungan TNI-Polri, sekaligus berharap agar berikutnya tidak ada teroris baru yang muncul di Indonesia. Sebagian publik mengapresiasi kerja TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Tinombala, yang telah bekerja keras berbulan-bulan menumpas terorisme dan menembak terduga teroris Santoso. Walaupun untuk kepastiannya tetap harus menunggu pengumuman resmi dari pihak berwenang.

Publik berharap, setelah tim identifikasi memastikan kematian Santoso, pemerintah harus menjadikannya momentum untuk mencegah munculnya "Santoso baru" lainnya, baik akibat ketidakadilan di masyarakat maupun karena lemahnya penegakan hukum. Sejatinya jangan ada lagi pembiaran bagi pihak tertentu untuk sengaja menciptakan "Santoso baru" atau dengan narasi "bersemangat" agar "drama war on terrorism" terus berjalan dengan tujuan politik, ekonomi atau yang lainnya.

Selain itu, jika target utamanya, Santoso, benar-benar meninggal dunia, maka Operasi Tinombala sejatinya segera dihentikan. Sebab rakyat Poso butuh ketenangan lahir batin. Masyarakat butuh hidup normal dalam aspek ekonomi dan lainnya. Yang lebih penting lagi, masyarakat Poso tidak ingin daerahnya dilabeli basis teroris terus-menerus.

Hal lain, pemerintah mempunyai tantangan besar ke depan jika Santoso tewas. Pemerintah diharapkan mengedepankan sikap menjauhkan orang dari aksi kekerasan ketimbang penindakan untuk urusan penanggulangan terorisme. Karena itu, butuh tindakan pemerataan pembangunan yang berkeadilan di Indonesia serta peningkatan kesejahteraan di masyarakat agar mereka tak mudah masuk dalam pusaran terorisme.

Terkait dengan kerja Satgas Tinombala, patut dipertimbangkan Satgas Tinombala ini patut mendapat penghargaan dari pemerintah atas upaya yang telah dilakukan. Sebab secara umum diketahui, Santoso sudah menjadi buronan bertahun-tahun oleh Polisi karena tindakan teror yang dilakukannya. Selama berbulan-bulan ini Satgas Tinombala juga telah berupaya keras untuk mengejar dan menangkap Santoso beserta pengikutnya. Untuk itu pemerintah harus memberikan penghargaan atas upaya itu. Kalau itu berhasil, artinya kita bisa selesaikan persoalan Poso secara menyeluruh.

Pemerintah melakukan rehabilitasi psikologis dan sosial bagi keluarga terduga teroris terutama anak-anaknya agar mereka tidak tumbuh kembang dalam bayang-bayang kekerasan dan dendam. Kalau ini tidak diselesaikan, dikhawatirkan akan memproduksi pelaku-pelaku kekerasan di masa depan.

Semoga dengan kehadiran Komjen Suhardi Alius menahkodai BNPT, terjadi perubahan paradigma. Publik menitipkan harapan besar kepada beliau, sehingga penanggulangan terorisme di Indonesia lebih humanis. [***]

Penulis Adalah Komisioner Komnas HAM

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Dasco Ungkap Target Closing RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:49

Ahmad Luthfi Minta Daerah Dilibatkan dalam Evaluasi MBG

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:23

Pameran "Aku Arek Suroboyo" Kuak Sisi Lain Bung Karno yang Jarang Diketahui

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:11

Usulan Natalius Pigai, Ikhtiar Hadirkan Polri Lebih Modern dan Adaptif

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:53

Pajak, Kepercayaan dan Kontrak Sosial

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:49

Jalur Titipan SPMB Masuk Pidana Korupsi, Mau Anak Pintar Kok Nyogok...

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:23

Jurus Seribu Langkah Gagal, Eksekutor Jambret Jakbar Digulung!

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:36

Ditolak Daerah, Mubes V Kosgoro 1957 Dianggap Cacat Prosedur

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:32

Hari Lingkungan Hidup, Pertamina Gaspol Inovasi Sampah dan Tanam Pohon

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:24

Ini Instruksi Khusus Prabowo ke Seskab Teddy Soal Sekolah Rakyat

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:07

Selengkapnya