Berita

henrykus sihaloho/ist

Sekapur Sirih Perombakan Kabinet

JUMAT, 15 JULI 2016 | 20:04 WIB | OLEH: HENRYKUS SIHALOHO

SEBELUM menulis lebih jauh, perkenankan Penulis memulainya dengan mengungkapkan sebuah kata-kata mutiara orang Batak, "ndang diida mata diida roha."  Terjemahan bebas kata-kata itu kurang lebih bermakna, "hati bisa membaca apa yang tidak bisa dibaca oleh mata."

Dalam kaitan dengan perombakan kabinet jilid II yang mungkin akan dilakukan Presiden dalam waktu dekat, Penulis mengajak kita untuk melihat apa yang ingin dilakukan Presiden dengan menggunakan mata kepala, namun membacanya dengan memakai mata hati.

Kita beruntung, Presiden telah memberi kita pengalaman bagaimana menggunakan mata hati kita dengan melihatnya dari empat pengambilan keputusan Presiden berkaitan dengan penyusunan kabinet jilid I, pengangkatan Kapolri Badrodin Haiti, perombakan kabinet jilid I, dan pengangkatan Kapolri Tito Karnavian.


Terlepas dari besar kecilnya tekanan dari sana-sini, kita harus mengatakan, berdasarkan bacaan mata hati kita, Presiden kita ini memang seorang pengambil keputusan dengan pendekatan thinking out of the box.

Karena berpikir out of the box itulah Presiden akhirnya bisa keluar dari tekanan dengan mulus dan bahkan keputusannya pun pada akhirnya bisa diterima oleh pihak yang semula menekannya.

Meski hingga sejauh ini semua keputusan yang diambil Presiden relatif bisa diakomodasi oleh banyak pihak, dengan mata hati, kita melihat Presiden sendiri tidak puas dengan pekerjaan para pembantunya.  Menurut Penulis, ini saatnya semua pihak, tanpa kecuali, membiarkan Presiden benar-benar berdaulat dan dengan tulus membiarkan beliau menggunakan dengan leluasa hak prerogratifnya.

Sudah saatnya kita tidak lagi mengatakan, "Perombakan kabinet adalah hak prerogatif Presiden yang boleh beliau gunakan sambil memperhatikan kepentingan partai pengusung dan pendukung."

Selama ini, bila menggunakan nurani kita (membaca dengan mata hati), kita melihat Presiden, sembari memberi teladan dan memotivasi kita, telah menjalankan revolusi mental yang beliau gagas.

Misalnya, di tengah kelaziman pejabat memanfaatkan jabatannya, termasuk berbagai fasilitas yang melekat pada jabatannya, sekurang-kurangnya sudah dua kali beliau menggunakan pesawat komersial sekadar untuk menyadarkan kita bagaimana memisahkan kepentingan pribadi dengan kepentingan bangsa dan negara.

Karena itu pada tempatnya kini kita tidak hanya membiarkan beliau menjalankan revolusi mental dengan ing ngarso sung tulodo dan bekerja keras tak kenal lelah sebagai wujud dari ing madyo mangun karso, namun dengan tut wuri handayani kita seyogianya juga mendukung (dan mendorong) beliau memenuhi amanat hati nurani rakyat dengan menjalankan konsep Trisakti Bung Karno melalui sembilan agenda prioritas (nawa cita) yang beliau canangkan bersama Jusuf Kalla.

Bukan Politik Transaksional

Usai pemberian mandat PDI Perjuangan kepada Joko Widodo pada 14 Maret 2014, tidak sedikit orang yang meragukan ketulusan Megawati.  Pada masa kampanye, partai-partai pendukung (Koalisi Indonesia Hebat) rajin membantah soal ketidaktulusan ini.

Mereka menyebut, mereka tidak sedang menjalankan politik transaksional.  Lebih dari sekadar keraguan atas ketulusan Megawati, banyak pihak menyebut Joko Widodo akan menjadi presiden boneka bila terpilih menjadi Presiden.

Pascapembacaan pemberian mandat oleh Puan Maharani, Penulis menyatakan dalam akun di Facebook bahwa pemberian mandat oleh Megawati sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan itu dilakukan oleh seorang negarawan kepada seseorang yang diyakini bisa menjalankan konsep Trisakti Bung Karno.

Pentingnya menjalankan konsep ini telah diingatkan oleh Buya Syafii Maarif saat Joko Widodo (ketika itu masih menjadi calon presiden) mengunjungi tokoh Muhammadiyah itu di rumahnya di Yogyakarta 3 Mei 2014.

Hingga saat ini Penulis berkeyakinan, Megawati adalah seorang negarawan.  Sebagai negarawan yang notabene anak biologis dan ideologis Bung Karno, beliau tidak hanya hafal luar kepala bunyi Trisakti, yang salah satunya berdaulat secara politik, tetapi beliau juga mengamalkannya secara penuh.

Beliau pasti menyadari sepenuhnya, mustahil bagi Presiden melaksanakan konsep Trisakti jika Presiden sendiri tidak berdaulat secara politik dalam merombak kabinetnya.  Bagi Penulis, hak prerogatif dan berdaulat secara politik ibarat dua sisi mata uang.

Jika sebelum 14 Maret 2014, Penulis dan mayoritas orang Indonesia menunggu pemberian mandat itu dilakukan oleh Megawati, kini pun orang menanti perombakan kabinet yang lahir dari seorang Presiden yang sungguh-sungguh menjalankan konsep Trisakti Bung Karno secara penuh yang ia mulai dari dirinya.

Bagi Penulis, seperti telah Penulis ungkapkan di muka, inilah saatnya bagi Megawati dan partai-partai pengusung dan pendukung, termasuk PAN dan Partai Golkar, untuk membuktikan bahwa mereka tidak sedang menjalankan politik transaksional dan makan siang yang mereka sajikan adalah hidangan ala lebaran.  Bila partai-partai pengusung dan pendukung membiarkan Presiden merombak kabinet berdaulat secara penuh, itu berarti memberi Presiden kesempatan melunasi hutangnya kepada rakyatnya, dan itu sekaligus berarti partai-partai pengusung dan pendukung beserta para wakil rakyatnya berkesempatan pula melunasi hutang kampanye mereka.

Ibarat kata pepatah, "Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui."

Bila partai-partai pengusung dan pendukung menolak melakukannya, itu berarti mereka telah melakukan dosa politik, yakni "politik tanpa prinsip" yang merupakan salah satu dari tujuh dosa sosial menurut Mahatma Gandhi. [***]

Penulis adalah  adalah Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor dan dosen pada Universitas Katolik Santo Thomas, Medan.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya