Berita

foto:net

Kesehatan

Menkes Ogah Ungkap 37 Fasyankes Vaksin Palsu

Sudah Diserahkan Ke Bareskrim
SELASA, 12 JULI 2016 | 09:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek sudah mengantongi 37 nama Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) yang diduga menggunakan vaksin palsu.

Datanya sudah diserahkan ke Bareskrim Polri untuk diselidiki lebih lanjut.

"Sejauh ini ada 37 Fasyankes yang diduga menggunakan vaksin palsu. Mereka diduga membeli vaksi dari distribu­tor tak resmi. Itu yang sedang kita diselidiki dan datanya sudah diberikan ke Bereskrim," kata Nila usai menghadiri acara Halal Bihalal di Kuningan.


Meski sudah mengantongi jumlah fasyankes tersebut, Nila menegaskan, tidak akan mem­publikasikan nama-namanya lantaran temuan berdaar hasil penyelidikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di sembilan provinsi di seluruh Indonesia ini masih bersifat dugaan. Sehingga, dia bilang, belum tentu semua fasyankes tersebut bisa dipastikan meng­gunakan vaksin palsu.

"Masih kita rahasiakan. Karena belum tentu vaksin yang mereka beli semuanya palsu. Tapi ini wajib dicurigai," ujarnya.

Nila sendiri mencoba memas­tikan bahwa jika ada fasyankes yang terbukti menggunakan vaksin palsu akan ditindak tegas sesuai aturan berlaku.

"Kita berikan satu teguran, kita lihat kesalahannya sampai mana. Apa itu dari oknum atau dari manajemennya. Kalau ok­num, itu kan berarti kelalaian mengawasi, bukan dari pihak rumah sakitnya," kata Nila.

Kementeriannya, akan melakukan peningkatan dalam pengawasan dan pengedaran vaksin.

"Kita tentu tingkatkan penga­wasan apa saja kelemahannya, SOP nya bagaimana kita per­baiki lagi," janji Nila.

Pada kesempatan itu, Nila menyarankan kepada seluruh orang tua sebaiknya terlebih dulu konsultasi dengan dokter sebelum memberikan vaksin ke­pada sang buah hatinya. Namun pada dasarnya, lanjut dia, jangan sembarang pilih vaksin, apalagi bukan produksi dalam negeri.

"Vaksin impor ternyata banyak yang palsu. Karena harganya yang melejit, sehingga banyak oknum yang memalsu­kan beberapa vaksin yang am­puh mencegah penyakit. Kalau merasa ragu kita anjurkan kon­sultasi ke dokter anak karena kami jelas gak bisa memantau langsung," saran Nila.

Namun demikian, Nila me­nyayangkan sejauh ini masih banyak masyarakat yang meng­gunakan vaksin impor karena tidak mengakibatkan efek samping, seperti halnya demam.

Oleh karena itu, agar tak terje­bak Nila kembali menyarankan agar masyarakat memberikan vaksin kepada anak di puskesmas.

"Selain gratis, pendistribusian vaksin di fasilitas kesehatan tersebut dijamin aman dan asli. Karena vaksin dari pemerintah pasti dicek sebelum didistribusi­kan dan sudah jelas," tukasnya

Dia menambahkan, imunisasi yang wajib diberikan kepada anak sejak lahir ada 8 jenis. Namun, ada beberapa tambahan imunisasi yang diberikan saat sang anak beranjak dewasa.

"Maka hati-hati dalam hal ini. Yang lokal lebih murah dan gak dipalsukan," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Brigjen Agung Setya mengatakan, pihaknya kini telah menetapkan 12 rumah sakit yang diduga telah menerima pasokan vaksin balita palsu. Belasan ru­mah sakit itu, tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera.

"Kami memastikan dari vak­sin palsu yang kami temukan, tersebar di Jawa Sumatera. Kita harapkan tim satgas bisa maksi­mal dengan tukar informasi se­hingga langkahnya lebih cepat," kata Agung.

Terkait sanksi yang akan diberikan kepada rumah sakit yang terbukti menggunakan vaksin palsu, Agung menegas­kan, pihaknya menyerahkan seluruhnya kepada Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Namun yang jelas, vaksin palsu dipasok oleh kesemua rumah sakit itu berasal dari distributor tidak resmi.

"Sistem distribusi vaksin harus resmi. Semua sarana kesehatan harus memperoleh dari dis­tributor resmi, dan diminta audit internal tentang vaksin yang ada stok sekarang dari mana saja," jelas Agung. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya