Berita

Siti Nurbaya Bakar:net

Wawancara

WAWANCARA

Siti Nurbaya Bakar: Selama Cuti Bersama, Ada 3 Perusahaan Masih Bandel Bakar Hutan, Kita Kejar Terus

SELASA, 12 JULI 2016 | 09:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Memasuki bulan Juli-Agustus 2016, kebakaran hutan dan lahan(karhutla) gambut kembali melanda beberapa provinsi di Indonesia. Di antaranya; Riau, Sumatera Utara dan Kalimantan Barat. Dalam beberapa pekan saja, hutan di dua kabupaten di Riau yakni Pelalawan dan Siak sudah terbakar lebih dari 15 hektar. Dan berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru merilis keberadaan titik panas di kedua kabupaten tersebut mencapai 18 titik.

Di Sumatera Utara, BMKG mencatat ada 13 titik api yang tersebar di empat kabupaten yakni Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Simalungun dan Tapanuli Selatan. Sementara di Kalimantan Barat, keba­karan hutan juga telah terjadi di Kabupaten Mempawah dan Sekadau. Areal yang terbakar mencapai belasan hektare.

Jika dibandingkan tahun lalu memang di semester perta­ma 2016 ini, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan jumlah titik api (hotspot) di sejumlah daerah rawan kebakaran hutan turun signifikan, berkisar antara 70 sampai 80 persen.


Namun hal itu sejatinya ter­jadi lantaran adanya fenomena la nina. La nina adalah kon­disi cuaca yang mendorong terjadinya pendinginan suhu muka laut di Samudra Pasifik area khatulistiwa. Hal itu men­dorong bertambahnya suplai uap air bagi Indonesia. Alhasil Indonesia mendapat curah hujan yang relatif tinggi.

Anehnya meski ada fenom­ena la nina, beberapa daerah di Indonesia tetap saja terjadi karhutla. Lantas apa saja yang dilakukan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menghadapi hal tersebut. Berikut ini penjelasannya;

Di sejumlah wilayah masih saja terjadi karhutla, sebe­narnya apa saja langkah yang harus diprioritaskan dalam meminimalisir hal tersebut?

Saya kira, yang paling penting sebetulnya kontrol itu sebagai indikator hotspot, bisa ya. Tetapi lebih penting lagi operasi di lapangannya. Jadi operasi ter­padunya terus menerus.

Memang hingga kini masih ada saja perusahaan yang mem­bandel membakar hutan ya?
Selama cuti bersama ini ada kejadian di tiga perusahaan, satu di Riau, satu di Jambi, satu lagi di perbatasan antara Jambi dan Sumsel. Jadi saya minta ada dua Dirjen yang terlibat, yaitu Dirjen Produksi dan Dirjen Penegakan Hukum. Lalu, langsung ditegur formal oleh Dirjen Produksi, itu ada yang rapih langsung beres. Ada juga yang waktu ditegur, itu jawabnya urusan perambah. He..he..he..

Lalu, apa reaksi Anda waktu itu?
Waktu dibilang urusan perambah, saya bilang tetap nggak bisa. Syaratnya harus dia penuhi. Akhirnya dia beresin dengan mengerahkan 50 personel. Itu yang di Jambi. Ini masih ada ter­sisa satu, di Jambi di Kabupaten Tebo, yang sudah dua hari ini masih terbakar. Satu ini masih sa­ya ikutin betul, karena sampai tadi malam saya monitor apinya masih ada di konsesi itu. Bisa saja sih, mungkin arealnya ketinggalan, dia nggak garap karena (digarap) masyarakat. Tapi tetap tanggung jawabnya sama konsesi.

Artinya, sudah banyak pe­rusahaan yang mulai takut bakar hutan?
Saya kira usaha-usaha yang dilakukan oleh dunia usaha relatif sudah berjalan, mereka kelihatan sangat hati-hati juga. Sebab, kalau tahun lalu kebakar, tahun ini kebakar lagi pastinya rakyat marah dan pemerintah pasti ambil langkah.

Sikap tegas apa yang diterapkan terhadap perusahaan yang bandel?

Kita lagi kejar. Dirjen Produksi sudah peringatkan, sudah tulis surat. Tapi kalau satu, dua hari ini masih belum juga beres, saya minta dipanggil, langsung proses penegakan hukum aja. Sebab ka­lau dibiarin kan bisa gawat. Jadi, dinamikanya seperti itu.

Jika dibanding tahun lalu, semester pertama tahun ini titik api yang terpantau jum­lahnya turun drastis. Anda puas melihat itu?
Belum ya, kita memang sudah melewati periode kritis pertama, dari Maret ke Juni. Tetapi, selanjutnya periode kritisnya masih ada di Juli, Agustus, September. Jadi kita masih harus lewati lagi fase kritis kedua. Baru fase ketiga, kalau Oktober udaranya baik, tapi kalau berat berarti tiga kali kita ribetnya. Jadi tetap harus waspada.

Dari hasil kerja itu apa catatan penting Anda?

Kita memang sedang men­gevaluasi satu semester ini, Satgas-Satgas terpadu mana yang terbaik ya. Supaya per se­mester kita evaluasi, kita berikan award dan lain-lain. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya