Berita

foto:net

Kesehatan

Umumkan Nama Rumah Sakit Dan Distributor Vaksin Palsu!

BPOM & Kemenkes Jangan Makan Gaji Buta
RABU, 29 JUNI 2016 | 09:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Publik media sosial Tanah Air geram pada pelaku pembuat vak­sin palsu. Postingan foto pelaku pasangan suami-istri; Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustin beserta rumah dan mobil me­wah jadi viral. Netizen tak habis pikir, kok bisa belasan tahun pemerintah kecolongan.
 
Kasus peredaran vaksin palsu selama 13 tahun membuat geram masyarakat. Muncul petisi on­line mendesak Pemerintah Jokowi membeberkan kepada publik nama distributor, rumah sakit dan layanan kesehatan penyebar vaksin palsu.

Petisi online tersebut disampai­kan melalui laman Change.org. Petisi berjudul 'Selamatkan Nyawa Bayi/balita Indonesia. Usut tuntas Pemalsuan Vaksin di Indonesia, sudah ditandatangani 20 ribu lebih netizen. Petisi tersebut terpampang sejak Selasa (28/6) pukul 09.30 WIB, dibuat oleh Niken Rosady.


Petisi menuliskan keresahan pasca terungkapnya kasus tersebut. "Rasa aman tersebut terusik dengan ter­ungkapnya kasus pemalsuan vaksin di Bekasi, dengan salah satu ter­sangkanya adalah pasangan suami istri (mantan perawat). Yang lebih mengerikan lagi, ternyata tindakan pemalsuan ini telah dilakukan sejak tahun 2003. Artinya, sindikat pemalsu vaksin telah beroperasi selama 13 tahun dan telah tersebar ke beberapa daerah di Indonesia," tulisnya.

"Bayangkan, berapa jumlah bayi-balita yang menjadi korban? Anak-anak tak berdosa itu kini menjadi rentan terhadap penyakit berbahaya yang bisa mengancam jiwa, karena vaksin yang digunakan untuk imunisa­si bukan vaksin asli. Sebagai orang tua dan juga konsumen pengguna vaksin, kita berhak untuk mengetahui dan memastikan vaksin yang digunakan itu ASLI dan AMAN," lanjutnya.

Untuk itu, petisi mengajak para orangtua Indonesia untuk mendu­kung penyidikan kasus vaksin palsu dan meminta Polri membasmi tuntas pemalsuan vaksin, serta menindak tegas para pelaku.

Petisi itu juga mendesak Pemerintah, Polri dan pihak berwenang lain untuk mengumumkan nama-nama distributor, rumah sakit, klinik atau tempat kesehatan lain yang terindikasi atau terbukti meng­gunakan vaksin palsu. "Kita harus mendukung pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan untuk men-disclose daftar distributor, RS, klinik, tempat layanan kesehatan yang menggunakan vaksin palsu guna transparansi," tambah Niken dalam update petisinya.

Selain itu, pemerintah juga didesak melakukan vaksinasi ulang secara ser­entak. "Mendorong Pemerintah untuk melakukan vaksin ulangan terhadap anak-anak yang lahir antara tahun 2003â€"2016, guna menjamin generasi indonesia yang sehat dan bebas pe­nyakit berbahaya. Mendorong BPOM untuk lebih agresif mengawasi dan memfilter distribusi vaksin dan obat-obatan pada umumnya," demikian petisi tersebut.

Hingga tadi malam, 20 ribu lebih netizen menandatangani petisi terse­but. Mereka juga menuliskan ko­mentar pada kolom yang tersedia.

Di antaranya, akun Rea Adilla setuju pemerintah harus mengumumkan nama distributor vaksin palsu. "Sebutkan nama rumah sakit dan kliniknya. Sudah capek dengan berita lembaga kesehatan komersil yang kerjanya sembarangan. Masak bisa beredar bertahun-tahun kalau tidak ada permintaan. Hukum semua yang terlibat seadil-adilnya dan lakukan tindakan penyelamatan untuk para korban," katanya.

Akun Li Nyuk Lyawoto sep­endapat, sudah seharusnya pemer­intah membeberkan nama rumah sakit dan distributor vaksin palsu, "Pemerintah wajib mengumumkan RS/klinik yang menggunakan vak­sin palsu, audit sistem pembuangan limbah rumah sakit."

Akun Hapiz Maulana menyampai­kan, masyarakat merupakan konsumen yang merasakan langsung dampak buruk vaksin palsu, bukan pihak distri­busi atau rumah sakit. "Masalah vaksin, masyarakat adalah konsumen, yang bahkan tidak bisa menentukan apakah vaksin yang mereka gunakan baik atau tidak, asli atau palsu. Negara harus menangani masalah ini, jangan terus mengecewakan!" katanya.

Akun Lilik Handayani menegas­kan, pemerintah harus menelusuri kasus pemalsuan vaksin hingga tun­tas, agar kasus serupa tidak terulang, "Usut tuntas masalah vaksin palsu sampai ke akar-akarnya. Ini sudah merusak generasi bangsa! Hukum seberat-beratnya para pelaku..."

Akun Mutiaratih Larasati menjelas­kan, vaksin merupakan hal penting da­lam pertumbuhan anak. "Vaksin adalah hal utama sebagai tameng kehidupan manusia selanjutnya dari serangan penyakit. Jika tamengnya saja palsu, bu­kankah ini termasuk kasus pembunuhan berencana?" jelasnya.

Akun Mas Wage menceritakan pengalamannya memberikan vak­sin kepada anaknya di rumah sakit di daerah Depok. Dia khawatir, anaknya diberi vaksin palsu. "Anak-anak saya vaksinasi di Hermina, seberapa jauh ya jangkauan vaksin palsu ini dari Kemang Pratama sampai Depok? Ya Allah, jagalah anak-anak kami dari manusia nggak punya nurani ini," katanya.

Selain di kolom komentar Change. org, netizen media sosial Twitter juga mendesak pemerintah mengumumkan nama-nama distributor, rumah sakit, klinik atau tempat kesehatan lain yang terindikasi menggunakan vaksin.

Akun @sutanfck juga menyuarakan desakan senada, "Setuju... Selama ini pemerintah dan BPOM selalu menu­tupi dan melindungi dengan alasan agar masyarakat tidak resah. Justru seba­liknya (sebut nama binatang)!!! Seperti kasus susu formula, BPOM tidak mau publikasi merk-merk susunya. BPOM kerjanya cuma absen, duduk terus pu­lang alias makan gaji buta. pas ada kasus heboh baru pada SIDAK!!!! TELAT mas bro.."  ***

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

UPDATE

Direktur Namarin Bongkar Deretan Kekecewaan Iran terhadap Indonesia

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:58

Malaysia Lolos Selat Hormuz, Indonesia Masih Tahap Lobi

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:56

Pemerintah Harus Siapkan Langkah Terukur Antisipasi Krisis Pangan

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:26

Doa di KM 50, PUI Singgung Dugaan Pengaburan Fakta

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:24

Perintah Trump Lumpuhkan Listrik Iran adalah Kejahatan Perang

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:11

Pemulihan Pascabencana di Sumut Masih Tahap Perencanaan

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:43

Perbakin DKI-Jabar-Banten Gelar Kejuaraan Menembak Multi Event 2026

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:23

Awalil Rizky Wanti-wanti Dampak Lonjakan Energi Global terhadap RI

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:14

Wali Kota Pendudukan Kiryat Shmona Murka ke Netanyahu Cs

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:11

Optimisme Purbaya Harus Dibarengi Kinerja Nyata

Jumat, 27 Maret 2026 | 15:48

Selengkapnya