Berita

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek:net

Kesehatan

Dewan Salahkan Menkes

Rapat Mendadak Membahas Vaksin Palsu
SELASA, 28 JUNI 2016 | 09:08 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Terungkapnya kasus vaksin palsu membuat Komisi IX DPR dan Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek sibuk. Kemarin, dua pihak mengadakan rapat mendadak untuk membahas masalah ini. Di dalam rapat, DPR menyalahkan Menkes, namun Menkes membantah telah lalai.

Kemarin, Komisi IX me­mang ada agenda rapat dengan Menkes. Agenda awal itu sebe­narnya hanya menyangkut pem­bahasan anggaran dalam ran­cangan APBN-P 2016. Namun, karena kasus peredaran vaksi palsu telah meresahkan publik, Komisi IX dan Menkes sepa­kat untuk membuka sesi khusus membahas masalah itu.

Dalam rapat itu, Menkes sendirian. Dia didampingi Plt Kepala BPOM Tengku Bahdar Johan Hamid, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Aman Bhakti Pulungan, serta perwakilan Biofarma. Rapat dipimpinan Ketua Komisi IX Dede Yusuf.


Dede merasa pembahasan itu penting. Apalagi, kasus penemuan vaksin palsu tersebut sudah terjadi sejak 2003. Dia khawatir kasus yang terungkap hanya bagian kecil seperti pun­cak gunung es yang terlihat di lautan.

Rapat itu berjalan seru dan sedikit panas. Dede dan beberapa anggota DPR sempat menyalah­kan pemerintah atas peredaran vaksin palsu itu. "Dalam konteks ini, pemerintah lalai. Masalah obat-obatan dan vaksin ini tang­gung jawab pemerintah," tegas politisi Demokrat ini.

Untuk menghilangkan ke­resahan warga, Dede mem­inta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendata vaksin yang dipalsukan dan anak-anak sudah terlanjur disuntik dengan vaksin itu. "Secara proaktif dan intensif mendata masyarakat atau pasien penerima vaksin palsu, mendata fasyankes (fasilitas pe­layanan kesehatan) agar segera dilakukan vaksinasi ulang."

Anggota Komisi IX dari Fraksi Nasdem Irma Suryani Chaniago bicara sama kerasnya. Dia curiga ada mafia yang bermain dari pembuat, pemasok, sampai pihak rumah sakit. Indikasinya terlihat dari rapinya peredaran vaksin sehingga 13 tahun baru terbongkar.

"Saya tidak yakin paramedis tidak bisa membedakan vaksin asli dan palsu karena harganya beda sekali. Dari sini (harga) saja, rumah sakit dan paramedis harusnya tahu kalau ini palsu. Tapi mengapa bisa sekian lama tidak diketahui," cetusnya.

Anggota Komisi IX dari Fraksi PAN Saleh Daulay mengaku tidak puas dengan penjelasan Kemenkes yang menyebut bahwa vaksin palsu itu cuma 1 persen. Penjelasan seperti itu telah mengesankan pemerintah tidak menganggap masalah ini sebagai hal yang serius dan membahayakan.

"Vaksin palsu ini disebut han­ya 1 persen. Ini menyepelekan masalah. Kalau ada 1 persen yang meninggal karena vaksin ini, ini pelanggaran," ujar Saleh.

Menkes Nila Moeloek menegaskan bahwa pemerintah tidak lalai. "Ini bukan kelalaian. (Ini) ada oknum," tegasnya.

Nila juga menepis anggapan bahwa Kemenkes hanya ber­pangku tangan. Nila mengklaim pihaknya terus bekerja sama dengan Kepolisian untuk mem­bongkar jaringan ini. "Kalau RS dan dokter terlibat, itu ke pidana. Kalau tahu itu palsu dan tetap memberikan, itu kriminal," tegasnya.

Saat ini, Kemenkes juga tengah menelusuri rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang memanfaatkan vaksin palsu itu. Bila sudah ada data, Kemenkes bisa memberikan vaksin ulang ke anak-anak yang pernah disuntik vaksin palsu itu.

Pihak BPOM juga membantah anggapan telah teledor dalam pengawasan vaksin palsu. Plt Kepala BPOM Tengku Bahdar Johan mengklaim sudah melaku­kan pengawasan maksimal terhadap produsen obat dan vaksin. "Pengawasannya ada, kami tetap lakukan pengawasan. (Tapi) ini kan masalahnya kriminal. Ada orang jahat yang melakukan pemalsuan. Jadi, ini kriminal," tegasnya. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya