Berita

ilustrasi/net

Kesehatan

VAKSIN PALSU

Bagaimana Bisa Pemerintah Meminta Masyarakat Tidak Resah?

Menkes Jangan Cuma Membela Diri
SENIN, 27 JUNI 2016 | 16:31 WIB | LAPORAN:

Rapat kerja antara Komisi IX DPR dengan Menteri Kesahatan, Nila Moeloek, yang membahas peredaran vaksin palsu berlangsung penuh kecaman terhadap pemerintah.

Pemerintah dianggap sangat menyepelekan masalah lewat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan di media massa, bahkan oleh pejabat selevel Menkes.

Anggota Komisi IX, Irma Suryani, tidak bisa menerima imbauan Menkes yang meminta masyarakat tidak resah.


Apalagi sampai sekarang masyarakat belum menerima penjelasan resmi dari pemerintah soal dampak kesehatan dari penggunaan vaksin palsu. Begitu pula tentang sejauh mana penyebaran vaksin palsu yang tidak terkontrol pemerintah. Semua hal penting itu dianggap remeh oleh pemerintah.

"Saya tidak terima pernyataan itu. Ini kriminal dan fatal bagi anak bangsa. Belum selesai kasus obat anastesi yang memakan korban nyawa, masalah ini muncul," ungkap Irma dalam rapat yang masih berlangsung sekarang di ruang rapat Komisi IX, Gedung DPR, Jakarta, Senin (27/6).

Dia meminta Menkes tidak cuma sibuk membela diri dan institusinya. Secara konstitusi, Kemenkes sebenarnya berfungsi menjaga kesehatan seluruh masyarakat. Fungsi itu saja sudah gagal dijalankan hingga muncul kasus ini.

"Kalau masalah ini dibiarkan akan berdampak pada mahalnya biaya pengobatan masyarakat akibat vaksin palsu," ujar Irman.

Irma lebih curiga karena operasi distirbusi vaksin palsu itu berjalan sangat rapih selama belasan tahun.

"Ada yang bermain dari tingkat pemasok, pembuat dan penerima. Saya tidak yakin tim medis rumah sakit tidak bisa bedakan vaksin palsu dan asli. Tenaga medis pasti tahu itu, lalu kenapa mereka bisa bermain lama?" gugatnya. [ald]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya