Berita

nila moeloek/net

Kesehatan

VAKSIN PALSU

Peredaran Vaksin Palsu Dianggap Remeh, DPR Cecar Pemerintah

SENIN, 27 JUNI 2016 | 16:08 WIB | LAPORAN:

Kasus peredaran vaksin palsu terus menjadi pusat perhatian masyarakat.

Saat ini pun sedang berlangsung rapat kerja antara Komisi IX, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, BPOM, Bio Farma dan Ikatan Dokter Anak Indonesia, di gedung DPR, Jakarta.

Rapat berlangsung "panas" karena hampir semua anggota DPR menunjukkan kemarahannya. Mereka menuntut keterangan sejelas-jelasnya dari pemerintah soal peredaran vaksin palsu yang disebut kepolisian sudah terjadi sejak 2003.


Ketua Komisi IX DPR, Dede Yusuf, menekankan bahwa para orang tua dari anak-anak Indonesia sangat dirugikan dengan kasus ini. Apalagi peredarannya sudah berlangsung belasan tahun.

"Pertanyaan kami, apakah yang palsu yang beredar itu berbahaya atau tidak untuk kesehatan anak-anak kita?" ucap Dede.
 
Dia menyatakan, fungsi pengawasan pemerintah terhadap peredaran vaksin tidak berlangsung benar. Media-media massa nasional hampir seragam menyatakan negara lalai dan pemerintah harus bertangung jawab.

Melanjutkan pernyataan itu, anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, meminta pemerintah tidak bertele-tele. Ia bahkan menyarankan pemerintah tidak perlu dikasih waktu berbicara, karena semua persoalan sudah jelas tersiar lewat media massa.

"Saya ingin tanggung jawab pemerintah. Ini bentuk kelalaian pemerintah, bukan hanya melanggar Undang-undang kesehatan tapi juga konstitusi," lontarnya.

"Melihat fenomena ini, saya khawatir negara lain bisa seenaknya memasukkan vaksin bahkan virus berbahaya ke Indonesia. Tolong dicatat," tegasnya.

Saleh juga meminta pemerintah menjawab jelas semua pertanyaan anggota DPR. Misalnya, apa saja bahaya dari vaksin palsu, apa saja campuran yang dipakai, apa saja jenis vaksin yang dipalsukan. Pemerintah juga harus punya jawaban rumah sakit atau pusat kesehatan masyarakat mana saja yang selama ini menggunakan vaksin palsu.

Saleh mengaku tidak puas dengan jawaban Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, lewat media sosial twitter. Di sana Menkes meminta masyarakat tidak resah. Selain itu Menkes menyebut peredaran vaksin palsu di DKI dan Jawa Barat  hanya 1 persen.

"Pemerintah jangan sepelekan masalah. Bagaimana kalau 1 persen itu membuat banyak anak meninggal dunia? Itu jawaban tidak tepat," tegasnya.

"Pemerintah harus jawab. Kalau tidak bisa jawab, saya akan kejar terus," lontar Daulay. [ald] 

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

UPDATE

Direktur Namarin Bongkar Deretan Kekecewaan Iran terhadap Indonesia

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:58

Malaysia Lolos Selat Hormuz, Indonesia Masih Tahap Lobi

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:56

Pemerintah Harus Siapkan Langkah Terukur Antisipasi Krisis Pangan

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:26

Doa di KM 50, PUI Singgung Dugaan Pengaburan Fakta

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:24

Perintah Trump Lumpuhkan Listrik Iran adalah Kejahatan Perang

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:11

Pemulihan Pascabencana di Sumut Masih Tahap Perencanaan

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:43

Perbakin DKI-Jabar-Banten Gelar Kejuaraan Menembak Multi Event 2026

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:23

Awalil Rizky Wanti-wanti Dampak Lonjakan Energi Global terhadap RI

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:14

Wali Kota Pendudukan Kiryat Shmona Murka ke Netanyahu Cs

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:11

Optimisme Purbaya Harus Dibarengi Kinerja Nyata

Jumat, 27 Maret 2026 | 15:48

Selengkapnya