Berita

Politik

Tax Amnesty, JK dan Dosa Sejarah

SENIN, 27 JUNI 2016 | 05:17 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

ENTAH apa maksud Jusuf Kalla mendatangi pimpinan Nahdatul Ulama, akhir April lalu, yang meminta lembaga NU tersebut mengkaji aspek hukum Islam pada Tax Amnesty?

Pertanyaan ini menyangkut 3 hal berikut:

1). Apakah ada unsur uang haram dalam sasaran Tax Amnesty tersebut, sehingga perlu melibatkan lembaga agama?


2). Bukankah Jusuf Kalla adalah ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), kenapa lembaganya tidak melakukan kajian itu sendiri?

3). Apakah masih perlu stempel sisi institusi agama, padahal pimpinan DPR, Ade komaruddin, mantan ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam, sudah menjanjikan pada Jokowi akan menyelesaikan UU Tax Amnesty tepat waktu(sebelum revisi anggaran negara via RAPBN 2016)?

Perlu kita ketahui bahwa uang sasaran Tax Amnesty itu menyangkut 2 hal, pertama uang yang dengan alasan rasional menghindari pajak; kedua, uang haram hasil kejahatan korupsi, perampokan "Blbi Krismon 98", uang sindikat kejahatan prostitusi, narkoba, perdagangan manusia, dana terorisme, dan lain-lain.

Untuk hal pertama, hal itu lumrah terjadi diberbagai negara. Sebab, sudah sifat pembayar pajak mencari tempat yang disebut "Tax Haven". Dimana tempat itu memberi kemudahan dan keringanan pajak bagi nasabah.

Namun, bagi uang yang dihasilkan dari kejahatan, tentu saja hal ini merupakan uang haram. Nah, mungkin disinilah  alasan Jusuf Kalla meminta fatwa hukum Islam dari NU. Di sini JK ingin melampaui bahasan-bahasan yang sekedar angka-angka cash in flow saja. JK menunjukkan sisi spiritualnya.

Kedatangan JK ini dapat dimaknai bahwa NU, sebagai representasi lembaga Islam terbesar, ikut bertanggung jawab, jika dana-dana yang akan masuk dalam APBN, meskipun sebagiannya, uangnya dari uang haram, harus dapat dimaklumi demi pembangunan. Karena, bisa jadi pembangunan manusia dan pesantren NU dari alokasi bantuan negara, berasal dari uang haram tersebut, nantinya.

Kita melihat pernyataan Said Aqil di berbagai media bahwa NU, melalui lembaga Bathsul Mashail, akan mengkaji halal haramnya Tax Amnesty ini. Sudah pas 2 bulan rencana fatwa NU atas Tax Amnesty ini, namun masih gelap alias tidak diketahui rakyat dan ummat Islam. Meski, selentingan kabar, minggu lalu sudah ada pertemuan ulama NU perihal ini.

Pelibatan NU, tanpa melibatkan DMI, sesungguhnya terasa ganjil. Juga tanpa meminta MUI atau Muhammadiyah. Apakah fatwa Halal Haram ini memang sengaja dibebankan JK kepada NU saja? Bagaimana kalau akhirnya setengah uang sasaran Tax Amnesty ini uang haram? Apakah DMI akan berlepas tangan dari dosa?

Tax Amnesty akan selesai dibahas minggu ini. Bahkan akan selesai rencananya besok hari. Seandainya ini adalah sebuah sejarah bahwa bangsa Indonesia melegalkan masuknya uang haram di bulan suci Ramadhan, maka ini adalah sebuah dosa sejarah.

Seharusnya JK tidak perlu melibatkan NU dalam peristiwa seperti ini. Sebab, apakah memang diperlukan fatwa Hukum Islam dalam urusan ini? Untuk apa berbagi dosa sejarah, jika  ada. Atau bukankah sebaiknya JK tidak perlu berbagi dosa sejarah? [***]

Penulis adalah pendiri Asian Institute for Information and Development Studies.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Kalah di PN Jakpus, Penggugat PPP Subadri-Toni Dihukum Bayar Biaya Perkara

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:10

Prabowo Terima Medali Kehormatan dari Angkatan Bersenjata Tailan

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:34

Buru Aset TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Geledah Kantor Don Ritto hingga Rumah Nurman Herin

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:30

Prabowo dan PM Tailan Bidik Nilai Perdagangan Rp359 Triliun dalam Lima Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:20

Ini Enam Perkara yang Dihentikan KPK

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:10

Petingginya Diperiksa Kejati DKI, Peran AFPI Disorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:52

Indonesia-Tailan Sepakat Kembangkan TRM untuk Perangi Kejahatan Transnasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49

Bawaslu Fokus Tingkatkan SDM Hadapi Tantangan Digital

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Kenang Masa Muda Bersama Raja Tailan Saat Sambut PM Anutin

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30

Prabowo Dukung PPHN Jadi Pedoman Lintas Pemerintahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya