Berita

foto :net

Kesehatan

Dokter Jangan Malas, Lihat Obat Dikasih Asli Atau Palsu

JUMAT, 24 JUNI 2016 | 14:56 WIB | LAPORAN:

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tidak bisa dipersalahkan atas beredarnya vaksin dan obat-obatan palsu.

Begitu ditegaskan anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani kepada wartawan, Jumat (24/6).

Menurut dia, pengawasan obat-obatan di seluruh wilayah Indonesia membutuhkan anggaran yang memadai. Tapi yang justru terjadi anggaran BPOM dipangkas oleh Kementerian Kesehatan.


"Anggaran cuma sekitar Rp 1 triliun. Sementara yang mau diawasi se-Indonesia," cetusnya.

Apalagi, tambah Irma, BPOM tidak punya kewenangan memberi sanksi apapun atas temuan vaksin maupun obat-obatan palsu.

"Mereka hanya bisa lapor ke polisi. Iya kalau polisi menindaklanjuti. Kalau tidak, kongkalingkong lagi. Enggak ada efek jera. Ini masalah klasik yang tidak pernah selesai," ucapnya.

Seharusnya, masih kata Irma, hal-hal seperti ini menjadi perhatian pemerintah, utamanya Menteri Kesehatan. Karena tugas Menkes bukan semata untuk mengawasi rumah sakit pemerintah tapi juga swasta.

"Ini (vaksin dan obat palsu) berbahaya bagi anak," tegas politisi Nasdem itu.

Karena itu ia meminta para dokter untuk tidak malas memperhatikan resep yang diberikannya.

"Dokter jangan cuma menyerahkan tugasnya ke perawat. Lihat obatnya apakah itu asli atau palsu," jelasnya.

Irma menceritakan, di luar negeri seorang dokter mengerjakan semua yang menjadi tugas dan kewajibannya. Tugas perawat hanya mengurusi administrasi yang dibutuhkan pasien dan dokter. Bandingkan dengan kebanyakan dokter di dalam negeri.

"Saya tidak yakin dokter ada yang nakal. Tapi saya kira ini oknum dan mafia di RS yang cari untung dari obat dan vaksin palsu. Ada RS seperti itu harus laporkan. Cabut izinnya. Harus ada sidak Menkes dan Polisi," pungkasnya.[wid]

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

UPDATE

Direktur Namarin Bongkar Deretan Kekecewaan Iran terhadap Indonesia

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:58

Malaysia Lolos Selat Hormuz, Indonesia Masih Tahap Lobi

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:56

Pemerintah Harus Siapkan Langkah Terukur Antisipasi Krisis Pangan

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:26

Doa di KM 50, PUI Singgung Dugaan Pengaburan Fakta

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:24

Perintah Trump Lumpuhkan Listrik Iran adalah Kejahatan Perang

Jumat, 27 Maret 2026 | 17:11

Pemulihan Pascabencana di Sumut Masih Tahap Perencanaan

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:43

Perbakin DKI-Jabar-Banten Gelar Kejuaraan Menembak Multi Event 2026

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:23

Awalil Rizky Wanti-wanti Dampak Lonjakan Energi Global terhadap RI

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:14

Wali Kota Pendudukan Kiryat Shmona Murka ke Netanyahu Cs

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:11

Optimisme Purbaya Harus Dibarengi Kinerja Nyata

Jumat, 27 Maret 2026 | 15:48

Selengkapnya