Berita

foto:net

X-Files

Bareskrim Gerebek Tiga Rumah Tempat Produksi

Kasus Peredaran Vaksin Palsu
JUMAT, 24 JUNI 2016 | 09:21 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Polisi meringkus 11 tersangka kasus dugaan pembuatan dan pendistribusian vaksin palsu. Vaksin produksi rumahan itu diduga sudah beredar ke sejumlah wilayah.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Agung Setya menjelaskan, pihaknya kembali meringkus seorang tersangka anggota jaringan pembuat dan pengedar vaksin palsu. Tersangka itu diringkus, kemarin siang di wilayah Subang, Jawa Barat.

Pengejaran terhadap para pembuat dan penjual vaksin palsu polio, campak, BCG, dan lainnya itu masih dilakukan. "Semua yang terlibat perkara ini kita tindak sesuai ketentuan yang berlaku," katanya.

"Kejahatan para pelaku men­gancam masa depan anak-anak generasi penerus kita. Faktanya, ini berkaitan langsung dengan anak-anak," kata Agung.

"Kejahatan para pelaku men­gancam masa depan anak-anak generasi penerus kita. Faktanya, ini berkaitan langsung dengan anak-anak," kata Agung.

Para pelaku sudah melakukan pembuatan dan peredaran vaksin palsu ini sejak 2003. Pembuat vaksin palsu ini meraup keun­tungan hingga Rp 25 juta per pekan. Sedangkan distributornya Rp 20 juta per minggu.

Tim Bareskrim diturunkan untuk membongkar peredaran vaksin palsu ini di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. "Untuk wilayah lainnya, tim kita berkoordinasi dengan polda-pol­da untuk menindaklanjuti kasus ini. Jangan ada pengecualian. Bila terbukti ada penyelewen­gan, tindak," tandasnya.

Kasus ini terbongkar setelah polisi menangkap MF, penjual vaksin palsu di Apotek Pasar Kramat Jati Blok LO-1. Ia men­gaku bisa memperoleh untung Rp 2,5 juta tiap pekan dari pen­jualan vaksin abal-abal.

Dari keterangan tersangka MF, polisi menangkap TH di Jalan Manunggal, Kalisari, Jakarta Timur. Dia berperan sebagai kurir peredaran vaksin. Setiap minggunya, TH mengantongi keuntungan sebesar Rp 6 juta.

"Lalu tim kita bergeser ke wilayah Lampiri, Jatibening, Bekasi. Di sana petugas menangkap tersangka SN," ungkap Agung.

Sama seperti TH, SN bertugas sebagai kurir. Keuntungan yang diperoleh lewat pekerjaannya mencapai Rp 20 juta setiap minggu.

Lewat keterangan sejumlah orang yang ditangkap, polisi bisa mengetahui vaksin palsu ini diper­oleh dari tempat produksi yang terletak di perumahan Puri Hijau, Bintaro, Tangerang Selatan.

Polisi pun menangkap AGP yang diduga sebagai produsen beragam vaksin palsu. Setelah mengorek keterangan AGP, tim yang dikomandoinya pun men­datangi lokasi produksi vaksin palsu lainnya di Jalan Serma Hasibuan, Bekasi Timur. Di situ polisi menangkap SY, produsen vaksin palsu.

Dari muut SY, polisi lantas mendatangi lokasi produksi vak­sin palsu di perumahan Kemang Regency, Bekasi Timur. Di lokasi itu, polisi menangkap pasangan suami-istri RIT dan HDT. Polisi juga menyita alat-alat pemroses pembuat kemasan vaksin.

Hari berikutnya, polisi kem­bali melakukan penangkapan terhadap J, pemilik toko obat Aska Medika di wilayah Karang Satria, Bekasi.

Agung bilang, produksi vak­sin yang dilakukan para ter­sangka itu tak memenuhi stan­dar kesehatan yang ditetapkan pemerintah. "Vaksin palsu dibuat di rumah. Produksi rumahan," sebut Agung.

Vaksin palsu untuk balita ini dibuat dengan cara mencampurcairan infus dengan vaksin anti-tetanus. "Untuk pengepakan agarterlihat seperti asli, para pelaku menyempurnakan vaksin meng­gunakan alat pres," urai Agung.

Dari penggeledahan sejumlah rumah produksi, polisi menyita 195 sachet vaksin hepatitis B, 221 botol vaksin pediacel, 364 vaksin campak kering, 81 sachetvaksin polio, 55 vaksin anti-snake, doku­men, alat-alat peracik obat, dan bahan kimia.

Kilas Balik
Vaksin TBC Dibuat Dari Obat Tetes Mata Dicampur Air


Pelaksana Tugas Kepala BPOM Tengku Bahdar Johan Hamid membeberkan isi kandungan vaksin palsu produk ruma­han di Tangerang dan Bekasi.

Yakni Tubercullin untuk vak­sin penyakit TBC, Pediacel dan Triacel untuk vaksin penyakit tetanus, Bioset untuk penyakit yang disebabkan alergi, dan Hafren untuk hepatitis A.

"Kami menemukan kandungandari salah satu vaksin yang dipal­sukan. Ada gentamisin yang di­campur dengan air untuk vaksin Tubercullin. Untuk vaksin lain masih dalam pemeriksaan," katanya.

Berdasarkan penelusuran, gentamisin adalah zat yang bisa dipakai dalam obat tetes mata. Juga digunakan untuk salep kulit.

Johan mengatakan pihaknya telah menerima informasi bahwa vaksin-vaksin tersebut sudah dijual ke beberapa puskesmas dan klinik swasta.

"Mulai hari ini kami mengerahkan Balai POM seluruh Indonesia. Diduga peredaran masih di Jakarta, tapi kami be­lum tahu bagaimana persebaran­nya, mungkin saja sudah luas," ucapnya.

"Kami akan cek, semua klinik kecil yang tidak menggunakan BPJS akan diperiksa mulai hari ini," ujarnya.

Penelusuran dan pengambilan sampel dilakukan BPOM untuk mencari peredaran obat palsu di kalangan masyarakat. "Kami bekerja sama dengan Bareskrim. Untuk menangkap-menangkap saja tidak akan ketemu, dibutuh­kan intelijen untuk menelusuri," ucapnya.

Menurut Johan, kesulitan da­lam pemberantasan obat palsu antara lain produksinya di­lakukan di rumah-rumah yang sulit terdeteksi. Permintaan kon­sumen akan obat ini pun tinggi lantaran konsumen tergiur oleh harga miring yang ditawarkan.

"Obat palsu bisa lebih murah 10-50 persen. Hal yang paling mudah untuk menghindarinya adalah membeli obat di agen resmi," katanya. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Dasco Ungkap Target Closing RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:49

Ahmad Luthfi Minta Daerah Dilibatkan dalam Evaluasi MBG

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:23

Pameran "Aku Arek Suroboyo" Kuak Sisi Lain Bung Karno yang Jarang Diketahui

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:11

Usulan Natalius Pigai, Ikhtiar Hadirkan Polri Lebih Modern dan Adaptif

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:53

Pajak, Kepercayaan dan Kontrak Sosial

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:49

Jalur Titipan SPMB Masuk Pidana Korupsi, Mau Anak Pintar Kok Nyogok...

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:23

Jurus Seribu Langkah Gagal, Eksekutor Jambret Jakbar Digulung!

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:36

Ditolak Daerah, Mubes V Kosgoro 1957 Dianggap Cacat Prosedur

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:32

Hari Lingkungan Hidup, Pertamina Gaspol Inovasi Sampah dan Tanam Pohon

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:24

Ini Instruksi Khusus Prabowo ke Seskab Teddy Soal Sekolah Rakyat

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:07

Selengkapnya