Berita

foto :net

Kesehatan

Orang-Orang Kota Besar Gampang Marah Di Jalan Raya

SENIN, 13 JUNI 2016 | 09:29 WIB | LAPORAN:

Marah adalah bagian dari sisi kemanusiaan seseorang. Namun demikian, marah yang tidak terkontrol justru mengandung makna sebaliknya dan biasa dianggap sebagai tanda ketidakmanusiawian itu sendiri. Dan tak jarang, orang yang marah lalu melontarkan kosakata binatang sebagai bentuk ekspresi makiannya.

Peneliti Merapi Cultural Institute (MCI), Gendhotwukir, yang dalam beberapa bulan terakhir ini intensif melakukan penelitian perilaku kemarahan, menemukan bahwa mayoritas orang-orang kota besar, dalam hal ini adalah mereka yang banyak beraktivitas di kota besar, ternyata banyak meluapkan atau melampiaskan kemarahannya di jalan raya.

"Mobilitas yang semakin padat membuat seseorang tidak bisa lepas dari aktivitas mengemudi atau mengendarai motor. Nah, meredam emosi saat berkendara di jalan raya memang bukan perkara mudah. Apakah ada dari kita yang belum pernah marah saat di jalan raya? Apalagi, di tengah kemacetan yang biasa menghinggapi dan menjadi ciri khas kota-kota besar di Indonesia saat ini," tegas Gendhotwukir melalui penjelasan tertulisnya, Senin (13/6).


Ia pun menemukan ada faktor internal dan eksternal yang menyebabkan kemarahan seseorang gampang meledak di jalan raya. Secara internal, tentu saja berkaitan erat dengan kecerdasan emosional (EQ). Orang yang secara emosi sangat sensitif, kemarahannya biasanya gampang meledak. Apalagi, saat terstimulasi oleh faktor eksternal.

"Pada bulan suci Ramadan saat ini, meredam emosi menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang sensitif. Tipikal pribadi yang sensitif biasanya tidak sebatas melontarkan ancaman dengan kata-kata saat marah, tetapi bisa mengintimidasi bahkan sampai menantang adu jotos di jalan raya," terang yang pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin Jerman ini.

Faktor eksternal, jelasnya, mengacu pada perilaku sesama pengemudi dan pengendara lain di jalan raya yang biasanya melakukan sesuatu yang tiba-tiba tanpa bisa diprediksi. Dan pada umumnya, perilaku ugal-ugalan dari pengemudi lain menjadi stimulus lahirnya kejengkalan dan kemarahan. Apalagi, kecenderungan pengemudi mobil atau pengendara motor yang egois dan mau menang sendiri pun kini menjadi salah satu ciri dari manusia-manusia kota besar.

"Di tengah kemacetan dan terik matahari, seseorang akan gampang terprovokasi untuk meluapkan emosinya, misalkan saat tiba-tiba motor atau mobil di depan kita belok seenak-udelnya atau tiba-tiba orang membuang puntung rokok atau sampah yang mengenai kita atau kendaraan kita," urai salah satu pendiri Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) di lereng Gunung Merapi ini merujuk pada faktor eksternal.

Ia menambahkan seseorang yang terburu-buru karena terlambat atau terbebani masalah pekerjaaan dan keluarga cenderung mudah terprovokasi untuk meluapkan kemarahannya di jalan raya, sama halnya seseorang yang sedang lapar atau lelah. Sementara itu, ciri-ciri seseorang yang sedang marah di jalan raya, menurut dia, bisa dikenali dengan mudah.

"Orang yang sedang marah di jalan raya biasanya membunyikan klakson berkali-kali, memencet klakson panjang hingga memancal atau mengeraskan suara gas mobil atau motornya," jelasnya.

Seseorang yang sedang marah pun biasanya mudah dikenali secara fisik karena emosi pada dasarnya menyebabkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah serta tingkat adrenalin dan noradrenalin yang melahirkan ekspresi lahiriah. Ekspresi lahiriah dari kemarahan dapat ditemukan dalam bentuk raut muka, bahasa tubuh dan tindakan agresi.

"Seseorang yang sedang marah di jalan raya biasanya memoloti, meneriaki dan memaki-maki. Yang lebih ekstrem lagi, ada yang langsung turun dari mobil atau motor lalu mendekati pengendara lain untuk melabrak dan memaki-maki hingga menantang adu jotos," imbuhnya.

Namun harus diakui, kemarahan di jalan raya sejatinya membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Saat marah, konsentrasi seseorang terfokus pada penyebab, sementara kontrol diri atas sekitar terabaikan. Konsentrasi terpecah. Apalagi, tak jarang seseorang lalu terprovokasi untuk melakukan aksi balas dendam dengan mengejar. Pada situasi seperti ini, keselamatan terancam. Kecelakaan telah mengintai. Namun, semua ini bukan tidak dapat dihindari.

"Saat menjalani puasa, sementara tetap harus berjibaku dengan pengendara lain di jalan raya, mulailah dengan menarik nafas panjang hingga tiga kali saat merasa mulai terprovokasi untuk marah. Teknik ini efektif untuk meredam emosi," sarannya.[wid]


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya