Masyarakat berhak mengetahui dan mendapatkan informasi terbaru mengenai kesehatan mereka, utamanya mengenai perkembangan dan fungsi otak serta dinamikanya.
Begituu dikatakan board of honor Neuronesia Community, Amir Zuhdi di Jakarta, Jumat (3/6).
"Perlu penyuluhan-penyuluhan kesehatan di setiap segmen lapisan masyarakat secara berkelanjutan," sambungnya.
Kata Amir, untuk mempelajari mengenai fungsi otak, sejumlah dokter membentuk komunitas bernama Neuronesia. Seminar tahunan pun diadakan sebagai ajang silaturahmi. Tahun ini seminar tersebut berlangsung di Rumah Sakit Siloam TB Simatupang, kemarin (2/6).
Mereka yang tergabung dalam komunitas ini, antara lain Dr. Taruna Ikrar, PhD (yang juga board of honor Neuronesia Community) dan Dr. Daeng Faqih, SH, MH (Ketua Primkop IDI).
Amir menjelaskan, sosialisasi kesehatan sangat penting karena terkait dengan era persaingan Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Dimana setiap negara didorong untuk mengembangkan teknologi kesehatannya demi mencapai terwujudnya masyarakat yang sehat dan kuat.
"Komunitas Neuronesia mendapat dukungan Primkop IDI (Ikatan Dokter Indonesia)," kata Bambang Iman Santoso, Ketua Panitia Penyelenggara, co-founder komunitas Neuronesia.
Komunitas Neuronesia sendiri banyak sekali membahas hal-hal yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan antara lain, neuroeducation, neuroteaching, neuroparenting, neuromarketing, neuromanagement, neurocoaching, neuroleadership, neuropsychology, neurocommunication, neuropolitics, neurocultural, neuroeconomics, neuroengineering dan masih banyak lagi.
Komunitas Neuronesia dibentuk pada 29 Maret 2015, namun intensitas aktivitasnya cukup tinggi. Jaringannya pun sangat luas. Mereka yang menjadi member atau anggota komunitas ini berdomisili di dalam maupun di luar negeri. Jumlah anggota online mereka lebih dari 10.000 orang.
"Kami harapkan, komunitas Neuronesia ini dapat terus berkembang," demikian Bambang.
[sam]