Berita

Letjen (Purn) Agus Widjojo:net

Wawancara

WAWANCARA

Letjen (Purn) Agus Widjojo: Apapun Yang Mereka Katakan, Mereka Tak Pernah Merasakan Bapaknya Dibunuh PKI

JUMAT, 20 MEI 2016 | 09:02 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Dalam satu kesempatan konferensi pers beberapa waktu lalu, salah satu tokoh Front Pancasila Alfian Tanjung menuding Gubernur Lemhanas (Lembaga Ketahanan Na­sional) Letjen (Purn) Agus Widjojo cenderung PKI (Partai Komunis Indonesia). Pernyataannya itu beredar luas di situs berbagi video: Youtube.

Tudingan itu muncul ditengah upaya pemerintah, salah satu­nya lewat Lemhanas, melakukan upaya rekonsiliasi terhadap korban tragedi 65, dengan men­gadakan simposium.

Namun, simposium yang ikut digagas Agus, selaku Ketua Pengarah, menimbulkan kecurigaan-kecurigaan. Sejumlah pihak men­duga simposium yang dilaksana­kan pada pertengahan April lalu itu adalah pertanda kebangkitan PKI. Tak ayal, wacana simposium tandingan pun bermunculan yang kabarnya didukung oleh sejumlah purnawirawan TNI.


Tak hanya terkait simposium tandingan, di tubuh pemerintah juga kental terasa adanya perbe­daan pendapat ihwal pengungka­pan tragedi 1965 itu. Khususnya terkait perintah Presiden Joko Widodo untuk mencari kuburan massal. Apa yang sebenarnya terjadi?

Simak wawancara Rakyat Merdeka dengan Agus Widjojo berikut ini:

Beberapa waktu lalu, tokoh front Pancasila menuding Anda cenderung PKI?

Sebetulnya saya... Karena sekarang ini banyak ungkapan-ungkapan yang datang dari lua­pan emosi dari pada akal sehat. Kalau dari akal sehat saya bisa mempertanyakan kepada dia tunjukkan bukti-buktinya dari­mana. Sekarang pun, terutama dengan adanya teknologi infor­masi, orang bisa melemparkan informasi itu secara tidak ber­tanggung jawab tanpa akuntabilitas, sebetulnya itu fitnah.

Untuk apa mereka melaku­kan fitnah?

Nah kalau mereka mengklaim dirinya anti-PKI, dan dulu PKI melakukan fitnah dan itu yang diperjuangkan untuk diberan­tas, sekarang banyak sekali komponen-komponen yang da­hulunya berlawanan dengan PKI memberantas fitnah, menggu­nakan fitnah itu sebagai senjata mereka. Itu kan ironis.

Pesan Anda?

Saya harus katakan juga pada mereka, apapun yang mereka katakan, mereka tidak pernah merasakan bapaknya itu dibunuh oleh PKI. Itu aja saya berikan contoh.

Kajian Lemhanas, paham komunisme mengancam ket­ahanan negara atau tidak?

Perasaan mengancam ini kan juga kita ambil dari pengalaman sejarah. Bagaimana mereka berkali-kali muncul dengan pola dan strategi yang sama yang berujung pada usaha perebutan kekuasaan melalui tindakan kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban.

Karena itu kita hadapi terus menerus di dalam perjalanan sejarah bangsa, yang menimbul­kan trauma. Bagaimanapun, rasa takut ada pada kelompok yang berlawanan.

Cara mengantisipasinya?

Oleh karena itu diperlukan sikap menahan diri dan mem­bangun rasa saling percaya kepada pihak yang saling ber­lawanan. Meninggalkan dan menanggalkan masa lalu nya, memulai kehidupan yang baru dengan memulihkan harkat dan martabat manusia dalam masyarakat Indonesia baru.

Komunisme itu katanya akan tetap ada selama kemiski­nan dan kesenjangan masih ada. Menurut anda?

Ya kita perlu melakukan anali­sis secara cermat terhadapa semua faktor yang berlaku, termasuk konteksnya. Apa yang dulu menyebabkan komunisme dan apa bedanya dengan seka­rang.

Walaupun tidak bisa dikata­kan bahwa kita belum melaku­kan eksperimentasi demokrasi. Tapi demokrasi yang coba kita praktikkan dulu masih kental dengan kultur tradisional yang paternalistik.

Maksudnya?
Karena masyarakat belum mempunyai instrumen untuk mencari solusi terhadap per­bedaan. Terutama perbedaan politik secara damai. Dan juga sistem politiknya belum dibekali instrumen check and balances dan kontrol yang efektif. Dan ini termakan oleh sikap kita yang cenderung absolut. Hitam putih.

Bagaimana dengan seka­rang?

Sekarang sudah berbeda, karena sudah demokrasi, check and balances sudah berjalan, kontrol semua sudah berjalan, seperti legislatif, civil society dan lainnya.

Sehingga kalau itu terjadi pada tahun ini, saya rasa tidak terjadi, oleh karena itu kita men­gadakan refleksi dalam konteks 50 tahun yang lalu. Berbeda dengan Indonesia tahun 2016 ini. ***

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Wall Street Kompak Hijau Berkat Lonjakan Saham AI

Selasa, 17 Maret 2026 | 08:03

Krisis Energi Kuba: Blokade Minyak AS Picu Pemadaman Listrik Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:45

Festival 1000 Berkah: Dari Sampah Plastik Menjadi Paket Pangan untuk Sesama

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:35

Ancaman Inflasi Global Tekan Harga Emas Dunia ke Bawah Level 5.000 Dolar AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:22

Pasar Eropa Bangkit dari Tekanan, STOXX 600 Ditutup Hijau

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:07

Melawan atau Hanyut dalam Tekanan

Selasa, 17 Maret 2026 | 06:43

Negara Harus Petakan Pola Serangan KKB di Papua Demi Lindungi Warga

Selasa, 17 Maret 2026 | 06:23

Pedro Sanchez Warisi Politik Bebas Aktif Bung Karno

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:59

TNI AL Gelar Bakti Sosial dan Kesehatan di Pesisir Tangerang

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:45

SPPG IFSR Gelar Program Makan Berbuka Gratis Tanpa APBN

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:22

Selengkapnya