Berita

aliran Agama Keagungan Ilahi (AKI):net

On The Spot

Tempat Berkumpul Jemaah Agama Keagungan Ilahi Sepi

Setelah Dilaporkan Ke Babinkamtibmas
RABU, 18 MEI 2016 | 09:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Rumah yang dijadikan tempat kumpul pengikut aliran Agama Keagungan Ilahi (AKI) di Depok, Jawa Barat belakangan ini mendadak sepi. Biasanya, tempat tersebut kerap didatangi warga dari wilayah lain.

Tidak terdengar ada aktivitas dalam bangunan yang terletak di Kampung Sawah, Cilodong, Depok, Jawa Barat tersebut. Pintu dan jendela rumah bercat merah muda tersebut tertutup rapat.

Dari celah ventilasi udara terlihat, lampu di rumah tersebut dalam kondisi menyala. Diduga, bangunan tersebut masih ditem­pati. Namun, ketika beberapa kali pintu rumah itu diketuk, tidak ada yang menjawab. Pria berinisial A, sang pemilik, tampaknya sedang tidak berada di rumah.


"Setahu saya orangnya ada di rumah, tadi sempat lihat soalnya. Cuma belakangan ini memang begitu, suka ngurung diri di ru­mah, dan tak mau keluar," ujar Indra, salah seorang warga yang tinggal tak jauh dari lokasi.

Karyawan yang bekerja di Tebet ini menyatakan, biasanya setiap hari Aberjualan sayur-mayur di sebelah rumahnya. Namun belakangan ini, yang bersangkutan tidak terlihat ber­jualan lagi. Rumah dan warung miliknya, hampir selalu tertu­tup rapat. "Yang saya tahu sih minggujuga sudah tutup. Sejak isu aliran ini ramai, jadi serba tertutup begitu," ucap Indra.

Warung yang Indra maksud tepat berada di samping ru­mah. Bangunan warung tersebut hanya berukuran 2 x 4 meter, dan dicat kuning-hijau. Bagian tempat untuk menjual sayur mayurnya tertutup papan, dan bohlam yang ada di atasnya dalam kondisi mati.

Di sebelah bangunan warung tadi terdapat meja bercat kun­ing, dengan sebuah rak kaca di atasnya. Tidak diketahui benda tersebut digunakan untuk men­jual dagangan apa. Namun, rak kaca itu dalam kondisi kosong dan berdebu.

"Mungkin buat dagang maka­nan. Saya cuma tahu dia jualan sayur di warung," kata Indra.

Indra mengaku tidak tahu perihal terjadinya aktivitas kea­gamaan di rumah tersebut. Dia hanya tahu rumah tersebut seringdijadikan tempat berkumpul sejumlah orang. Info itu, dia den­gar dari tetangga di sekitarnya. Sebab, dia lebih sering berada di kontrakannya di wilayah Tebet, Jakarta Selatan.

"Capek kalau bolak-balik keseringan. Jadi kalau kegiatannya, saya cuma pernah li­hat sesekali. Itu pun kelihatan biasa saja, seperti warga kumpul dan ngobrol-ngobrol kayak biasanya," tuturnya.

Hal senada disampaikan Sarmili, warga lain yang juga ting­gal tak jauh dari lokasi. Menurut dia, orang yang berkumpul di rumah tersebut tidak pernah banyak, sehingga warga tidak langsung curiga. Hal itu terpan­tau dari jumlah kendaraan yang parkir di sekitar rumah ketika ada kegiatan. "Paling 5-6 motor. Tidak pernah ada mobil. Jadi warga juga tidak mikir ada acara khusus," ucapnya.

Tak hanya itu, lanjut Sarmili, aktivitas bersama yang dilaku­kan juga tidak mengindikasikan terjadinya kegiatan keagamaan yang ekslusif. Mereka kerap berkumpul di teras rumah. Kalau pun kumpul di dalam, pintu rumah kerap dibiarkan terbuka. Oleh karena itu, warga melihat­nya sebagai kumpul biasa.

"Walau ada juga orang yang tidak kami kenal, tapi kami tak langsung curiga. Kami pikir bu­kan urusan kamilah yang kumpul siapa saja," tuturnya.

Terkait anggota wanita yang dikatakan kerap berpenampilan seksi, Sarmili mengaku tidak ta­hu. Pria paruh baya ini mengaku tidak pernah memperhatikan soal itu. Sebab, dirinya hanya sekilas melihat setiap pertemuan yang berlangsung.

"Saya tidak perhatikan detail karena mikirnya bukan urusan kami," tegasnya.

Sarmili menyatakan, dirinya baru mengetahui bahwa orang-orang yang sering berkumpul di sana, diduga mengikuti aliran itu selama satu bulan belakangan. Info tersebut diperolehnya dari obrolan para tetangga. Sebab, dirinya sendiri tidak pernah menyaksikan ritual keagamaan dalam bentuk apa pun di rumah tersebut. "Maklum, berangkat kerja pagi, pulangnya baru jam 8 malam. Jadi tak sempat ngurusin urusan orang," ucapnya.

Di samping rumah Sarmili terdapat tiga petak kontrakan bercat merah muda. Antara kontrakan dengan rumah Sarmili hanya dipisahkan jalan selebar tiga meter. Masing-masing petak kontrakan berukuran 3x4 meter. Salah satu kontrakan ditinggali pria berinisial R, bekas anggota AKI. Namun, yang bersangkutan sedang tidak ada di rumah.

"Jam segini masih kerja. Pulangnya biasanya jam 10 malam," kata Sarmili.

Sarmili mengaku tidak mengenal sosok R dan wanita beri­nisial Ep, istri R yang kabarnya masih menjadi anggota AKI. Menurut dia, pasangan terse­but jarang bersosialisasi dengantetangga.Sebab, keduanya bekerja. Namun, Sarmili tidak mengetahui tempat keduanya bekerja. "Warga sini banyak kok yang jarang sosialisasi karena kerja. Jadi kami juga tak curiga," jelas dia.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Hidayat menyatakan, saat ini perkumpulan aliran tersebut sudah tidak ada lagi. Dia mengaku sudah mengimbau warga untuk tetap kondusif. "Ini dari laporan warga, dita­mbah R juga melaporkan ke saya," kata Hidayat.

Hidayat memaparkan, aliran yang meresahkan warga Cilodong, Depok itu sudah ada sejak tiga tahun lalu. Awalnya, jemaahnya selalu berkumpul hingga malam hari setiap malam Kamis. Warga yang mulai resah pun meminta dirinya bertindak.

"Akhirnya saya coba telusuri. Lalu saya dapat Informasi dari bekas anggotanya yang sekarang sudah keluar, R, bahwa aliran itu diduga sesat. Dari situ, warga se­makin resah terhadap gerak-gerik para jemaahnya," paparnya.

Hidayat menjelaskan, berdasarkan penuturan R diketahui, dalam aliran itu anggotanya tidak wajib salat dan puasa. Bahkan, ucapan syahadat pun diduga diselewengkan. Dalam aliran ini, guru dianggap sebagai Tuhan. Bahkan, untuk jemaah wanita diminta berpenampilan seksi dan merokok.

"Setiap malam Kamis meng­gelar pengajian zikir di musala. Untuk wanita muda dianjurkan berzikir di dalam kamar dalam keadaan minim penerangan," ceritanya.

Pemimpin aliran ini adalah Ed. Di lingkungan Hidayat memimpin, ada dua wanita yang masuk ke aliran itu. Sedangkan dari lingkungan lain ada lima orang lagi. Namun, pemimpin aliran ini, sekarang tidak dike­tahui keberadaannya. "Pelaku sekarang sudah ngumpet. Tapi kadang nongol,"  kata dia.

Hidayat menambahkan, menurut R, Ep (istrinya) sering jalan bersama Ed, guru aliran itu. "Ke arah Serab dari laporan R ke saya. Katanya, mereka penyatuan sinar. Dilakukan di rumah Ed," tuturnya.

Menurut Hidayat, R juga menunjukkan SMS antara Ed dengan Ep. SMS itu, menurutnya, tak pantas dikirimkan antara orang yang bukan suami-istri. Masih berdasarkan pengakuan R kepada Hidayat, setelah ikut ajaran ini, istrinya, Ep men­jadi berubah penampilannya. Sekarang Ep melepas hijabnya. "Pakaiannya seksi dan merokok," paparnya.

Hidayat menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan anggota Babinkamtibmas dan Babinsa wilayah untuk melaku­kan pengontrolan terhadap aliran ini. Pihaknya juga mengantisipasi tindakan main hakim warga dengan cara melakukan pertemuan dengan warga untuk menyerahkan semuanya ke tanganpihak berwajib.

"Kami sih berharap kasus ini segera ditindaklanjuti pihak berwajib. Jangan sampai ada korban. Warga sudah lama resah. Khawatir main hakim sendiri," tandasnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya