Berita

ilustrasi/net

Politik

Isu Komunis Untuk Tutupi Kegagalan Negara Dan Kejahatan Konglomerat

SENIN, 09 MEI 2016 | 19:01 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Isu kebangkitan komunisme yang dikobarkan akhir-akhir ini sebetulnya tidak relevan lagi untuk dihidupkan. Isu itu tidak menunjukkan persoalan riil yang dihadapi bangsa.

"Pendekatan menghabisi lawan politik dengan isu ideologi sudah tidak relevan karena pertarungan geopolitik internasional meniscayakan rubuhnya bangunan simbol yang tidak orisinil setelah terbukti hanya jadi alat yang dimanfaatkan untuk mengkhianati makna," kata Ketua Presidium ProDEM, Andrianto, kepada wartawan, Senin (9/5).

Dia memberi contoh, masyarakat Amerika Serikat yang menjadikan komunisme dan sosialisme sebagai musuh bersama pun sebagian ikut mendukung Bernie Sanders yang beraliran sosialis demokrat sebagai calon presiden potensial. Sebaliknya Republik Rakyat China yang merupakan negara komunis sekarang menjadi pemimpin baru kapitalisme dunia.


"Di Indonesia, komunisme terlibat dalam luka dan duka bangsa, para aktornya pada umumnya sudah meninggal, yang tertinggal adalah anak dan keluarganya yang mati perdata," kata Andrianto.

Ia juga menyinggung Ketetapan MPR yang menegaskan perlunya integrasi dalam kasih sayang sesama anak bangsa. Seharusnya, negara menjalankan amanat MPR tersebut.

"Maka apa yang dibesar-besarkan phobia komunis hanyalah pengulangan dari pola lama, menghabisi lawan dengan mempermainkan simbol yang khianat pada makna," lanjutnya.
 
Isu komunisme jelas menjadi pengalihan isu yang canggih, di mana negara saat ini dirundung kegagalan pengelolaan berbagai hal seperti keretakan internal yang parah di tengah derasnya isu reshuffle, ekonomi makin terpuruk karena tidak menyatunya visi dan implementasi yang terbukti dengan kasus kereta cepat dan reklamasi. Di bidang sosial budaya, muncul fenomena kekerasan dan alpanya negara.

Masih menurut Andrianto, isu komunisme ini dimanfaatkan oleh para konglomerat hitam untuk menyembunyikan kejahatan. Lebih jauh ia menarik fenomena ini ke isu-isu penting di DKI Jakarta.

Ia sebutkan, ada tiga pihak yang ambil untung dari kondisi di atas. Pertama, para konglomarat properti yang dirundung masalah dalam proyek reklamasi Teluk Jakarta. Kemudian, para koruptor yang sedang berkasus. Mereka diuntungkan kendornya opini media massa dalam kasus RS Sumber Waras. Dan terakhir, para loyalis dan "spin doctor" dari kubu incumbent jelang Pilkada DKI Jakarta.

"Yang harus dilakukan adalah segera putus biang cancer-nya, yaitu Ahok (Gubernur Jakarta, Basuki Purnama)," tegas dia. [ald] 

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya