Berita

Akbar Tandjung:net

Wawancara

WAWANCARA

Akbar Tandjung: Iuran Caketum Kalau Sudah Dimulai Di Pusat, Bukan Tidak Mungkin Dilakukan Juga Di Daerah

RABU, 04 MEI 2016 | 09:29 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung, tidak sependapat dengan adanya iuran wajib sebesar Rp 1 miliar yang mesti disetor calon ketua umum (caketum) Partai Golkar. Akbar khawatir kebijakan itu berdampak negatif. "Soalnya kalau sudah dimulai di pusat, bukan tidak mungkin juga dilakukan di provinsi. Bukan tidak mungkin lagi dilakukan di kabu­paten/kota. Dan bahkan bukan tidak mungkin dalam pemilihan-pemilihan pengurus kecamatan. Bahkan juga pengurus desa," kata bekas Ketua Umum Partai Golkar itu di Jakarta kemarin. Berikut petikan wawancaranya:

Soal iuran wajib Rp 1 miliar bagi caketum, sikap Anda?
Soal iuran, sejak awal sebetul­nya saya tidak setuju ada iuran.

Kenapa?

Kenapa?
Ya, partai ini kan organisasi perjuangan. Organisasi perjuangan itu seyogyanya diisi orang-orang yang memiliki idealisme perjuangan. Yang memiliki nilai-nilai gagasan-gagasan yang akan diperjuangkan.

Bisa dijelaskan?

Dalam perspektif itu, orang-orang yang memiliki idealisme perjuangan dan gagasan yang diperjuangkan, biasanya mereka datang dari latar belakang yang bukan orang yang mempunyai sumber dana yang besar. Atau apalagi pengusaha. Jadi karena itu tentu saja akan menyulitkan orang-orang yang mempunyai keterpanggilan dalam politik untuk jadi pemimpin. Kalau misalnya ada keharusan untuk memberikan kontribusi dalam jumlah yang cukup signifikan, itu juga akan berdampak.

Apa dampaknya?
Dia jadi berpikir, walaupun idealismenya untuk bangun partai ini mempunyai nilai yang cukup tinggi, yang betul-betul dibutuhkan, akibatnya mereka tidak bisa ikut. Dan ditambah lagi, yang saya khawatir, ini akan menjadi preseden.

Maksudnya?
Kalau sudah dimulai di pusat, bukan tidak mungkin juga di­lakukan di provinsi. Bukan tidak mungkin lagi dilakukan di kabu­paten/kota. Dan bahkan bukan tidak mungkin dalam pemilihan-pemilihan pengurus kecamatan. Bahkan juga pengurus desa. Jadi nuansa uang itu bukanlah hal yang biasa dalam politik.

Partai politik itu adalah organ­isasi yang memperjuangkan ga­gasan-gagasan, pikiran-pikiran, pandangan-pandangan, yang semuanya itu bermuara kepada memberikan kebaikan kepada masyarakat, kepada bangsa dan negara. Memberikan kesejahter­aan kepada rakyat, memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

Dalam konteks itu, belum tentu mereka punya kemampuan keuangan yang cukup. Walaupun saya tahu, banyak juga yang pu­nya kemampuan keuangan, tapi juga punya gagasan yang tidak kalah bagusnya. Tapi bagusnya kalau urusan kepemimpinan politik yang bermuara pada pengabdian bagi bangsa dan rakyat, seyogyanya nuansa uang kita hindari.

Kalau partai mengalami kesulitan pendanaan?
Ya kalau memang kesulitan, terutama dalam pengadaan Munas ini, ya sejauh partai menyampaikan secara terbuka di mana hambatannya, dan mengajak seluruh stakeholder memberikan kontribusi, saya yakin juga pasti akan banyak. Tapi jan­gan dipatok Rp 1 miliar khusus bagi caketum. Berikan saja secara terbuka kepada para stakeholder, termasuk kepada para senior, ter­masuk orang seperti saya, tentu akan ikut kontribusi.

Berapa banyak?
Ya tentu saja secara sukarela se­suai dengan kemampuan masing-masing. Persoalan munas ini kita jadikan masalah kita bersama, urusan kita bersama, gawe kita bersama. Saya yakin semua akan memberikan kontribusinya.

Sebelumnya, apakah ada iuran wajib semacam ini?
Ini baru pengalaman pertama. Munas-munas sebelumnya, apalagi Munas pada zaman Orde Baru, sama sekali tidak ada. Munas selama reformasi juga tidak ada pada zaman saya. Memang ada nuansa uang, pada waktu Munas ke II di Bali. Tapi itu nuansa uang, bukan keharusan untuk menyetor atau memberikan kontribusi untuk Munas.

Lalu bagaimana cara men­cari dana waktu itu?

Tentu saja kami dengan segala cara mencari sumber pembi­ayaan. Alhamdulillah bisa kami lakukan dan laksanakan cukup baik, sehingga terpilih Pak Jusuf Kalla sebagai ketum Partai Golkar. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Denny Indrayana Optimistis MK Diskualifikasi Gibran

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:05

Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:03

Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:55

Nonton Film ‘Istimewa’ Bareng Penyandang Disabilitas, Legislator PKS Dorong Kesetaraan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:49

Masuknya RG Jadi Wantimpres Pelajaran untuk Tak Terlalu Anti Kekuasaan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:43

Ribuan Prajurit Dikerahkan Dalam HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:34

SBY dan Jokowi Kompak Hadir di Upacara HUT Ke-81 TNI

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:33

IHSG Positif di Awal Perdagangan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:32

Profil Komandan Upacara HUT Ke-81 TNI Letjen TNI Lucky Avianto

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:18

KPK Telusuri Dugaan Setoran dari Wajib Pajak Sektor Pertambangan di Banjarmasin

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:17

Selengkapnya