Inilah kabar baik bagi kemanusiaan. Mitos 'diabetes tidak bisa disembuhkan namun hanya dapat dikontrol' telah berakhir. Kini, diabetes sudah bisa disembuhkan melalui operasi bariatrik.
Bagi saya sendiri sebelum menjalani operasi bariatrik oleh Norgen Health di Asia Pacific Bariatric & Metabolic Surgery Centermitos itu jadi keyakinan saya sehingga saya pun tergantung kepada obat-obatan medis.
Tetapi kini, saya sudah sembuh. Pengalaman saya sendiri membuktikan mitos itu berakhir sudah. Hanya dengan operasi selama 80 menit pada hari Senin 7 Maret 2016 lalu di Guangzhou, Tiongkok, dalam dua pekan saja, kadar gula darah saya telah normal. Ini pengalaman baru dan luar biasa, di tengah usia saya yang sudah mencapai 54 tahun.
Dulu, rutinitas saya sebagai pengidap diabetes, bangun pagi langsung minum obat. Kemudian sesudah makan, obat lagi. Total empat butir obat dalam sehari. Obat sudah maksimum, tetapi hasilnya tidak begitu baik, karena HBA1C (rata-rata kadar gula dalam tiga bulan terakhir), masih di atas 7 persen.
Mengidap diabetes parah seperti yang dulu saya alami, sungguh menyiksa. Sebentar-sebentar harus ke kamar mandi, buang air kecil. Daya penglihatan mata untuk jarak dekat, berbanding lurus dengan kadar gula. Makin parah, makin besar positif mata.
Duduk sebentar, kaki sering kesemutan. Selain itu, badan lemas dan mudah mengantuk. Daerah betis kaki menjadi lokasi rawan pegal, setiap dua sampai tiga hari minta dipijat. Kadar gula yang tinggi, membuat peredaran darah tidak lancar, akibatnya kaki terasa pegal.
Gula Darah Normal
Setelah dioperasi, dalam tempo yang sangat singkat, kadar gula saya sudah normal. Boleh dibilang, dalam tiga minggu, seakan-akan tidak pernah mengidap diabetes. Mengapa, karena kadar gula saya sudah normal.
Saya dioperasi Senin 7 Maret 2016. Hanya satu malam saja di ruang pemulihan, esok harinya (Selasa 8 Maret) saya sudah kembali ke ruang rawat biasa. Menurut dokter, pemulihan saya tergolong cepat, hanya satu malam.
Prof Wu Liangping, ahli operasi bariatrik yang mengoperasi saya, mengatakan, jangan makan obat lagi. Obat diabetes dan darah tinggi, jangan makan lagi. "Bersamaan dengan berkurangnya lemak dalam tubuh, kadar gula dan tekanan darah tinggi akan menurun juga," kata Prof Wu.
Kadar gula saya pada 20 Maret tercatat 117 mg/dL (atau 6,5 MMO, Tiongkok menggunakan satuan MMO).Gula (puasa) saya menjadi 100 (30 Maret), 112 (31 Maret), 105 (1 April), 103 (2 April), 104 (3 April), 108 (4 April), 119 (5 April), 117 (6 April), 114 (8 April), 96 (15 April), 91 (16 April), 94 (17 April), 105 (23 April), 90 (24 April), 107 (25 April), 103 (26 April).
Tekanan darah setelah tiga minggu dioperasi, berada di level 117/68 hingga di bawah 130 per 80. Tanpa obat lagi, Saya mengamati, bagi yang diabetes kadar gulanya berbanding lurus dengan tekanan darah. Kalau kadar gula turun, dengan sendirinya tekanan darah turun juga. Seorang dokter ahli penyakit dalam yang saya tanya tentang hal ini, membenarkan. "Kalau diabetes menjadi pemicu, maka ketika diabetes normal, seluruh masalah yang dipicu, juga akan normal," katanya.
Tekanan darah turun drastis bersamaan dengan penurunan kadar gula. Logikanya (barangkali) begini. Kadar gula dalam darah yang cukup tinggi, membuat darah menjadi kental, sehingga jantung harus memompa darah lebih kuat (inilah yang kita kenal sebagai tekanan darah tinggi). Sekarang kadar gula sudah rendah, darah sudah encer, sehingga tak perlu tekanan kuat lagi.
Berat badan saya pun sudah turun 11 kilogram, dari sebelum operasi 76 kg, kini menjadi hanya 65 kilogram. Target saya cukup 59-60 kg saja, supaya BMI saya menjadi antara 22,2 sampai 22,6 saja.
Pola Makan
Bagaimana pola makan setelah operasi? Hingga tiga pekan setelah operasi, makanan cair (tajin, susu kedelai, susu, kuah sayur, sop) tanpa minyak dan lemak. Kemudian selama 9 pekan berikutnya, makanan lembut (bubur, sayur empuk, ikan/daging empuk). Setelah tiga bulan, makanan normal seperti biasa.
Kalau makan, cepat kenyang, karena lambung memang sudah tinggal 1/6 dari dulu. Kemudian dengan bypass usus, tak semua makanan yang dikonsumsi diserap oleh tubuh. Beban pankreas menjadi rendah, produksi insulin yang memang tidak sebagus orang biasa, menjadi memadai untuk tubuh.
Mengapa Percaya
Saya mengetahui Norgen Health dan operasi bypass dari internet. Mengapa saya percaya operasi ini bisa menyembuhkan diabetes? Tahun 2008, pada pertemuan tahunan European Association for The Study of Diabetes yang ke-44 yang diselenggarakan di Roma, Italia, secara resmi diumumkan: obesitas diabetes tipe 2 merupakan penyakit usus yang dapat disembuhkan melalui operasi, sehingga operasi bypass lambung dapat dengan efektif meringankan diabetes tipe 2.
Tahun 2011, American Diabetes Association secara resmi memaparkan operasi bypass lambung sebagai salah satu pengobatan efektif untuk diabetes tipe 2. Sejak tahun 2016 operasi bypass lambung sudah masuk dalam Diabetes Guide, dan sejak inilah dunia mengakui bahwa operasi bypass berperan penting dalam pengontrolan diabetes. Jadi penemuan Pories (dokter dari North Carolina State University) tahun 1954, telah diakui dunia.
Tahun 1995, Pories melalui follow-up terhadap 146 pasien diabetes obesitas tipe 2 selama 14 tahun, menemukan, kesembuhan diabetes tipe 2 melalui operasi bypass mencapai 83%. Sejak itu dimulailah sebuah cara bedah baru untuk pengobatan diabetes tipe 2. Di Inggris dan Italia, juga telah diuji selama 5 tahun.
Tahun 2013, operasi bariatrik masuk dalam ‘'10 Inovasi Pengobatan 2013.' Pantaslah operasi bariatrik masuk 10 besar dunia, karena sudah terbukti bisa menyembuhkan diabetes dan obesitas.
Maka bagi saya tak ada alasan untuk meragukan operasi bariatrik. Sederhana saja, jika kita percaya pada teknologi, dengan naik pesawat terbang bisa dari Jakarta ke Surabaya, maka kita pun harus percaya pada operasi bariatrik. Mengapa, keduanya merupakan teknologi yang terlebih dahulu diuji coba baru diterapkan dan dipasarkan.
[***]
Sihol Manullang
Ketua Umum Barisan Relawan Jokowi Presiden (BARA JP)==