Berita

foto:net

On The Spot

Ketinggian Air Bendung Katulampa Sudah Normal

Tapi Bukan Jaminan Jakarta Tidak Banjir Lagi
SENIN, 25 APRIL 2016 | 09:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Debit air di Bendung Katulampa sudah kembali normal. Sejak Jumat sore hingga kemarin sore, ketinggian air hanya berada di angka 30-40 centimeter (cm). Namun, hal itu tidak menjamin Jakarta bebas banjir.

Andi Sudirman berdiri di teras Posko Pemantauan Air Bendung Katulampa, Bogor, Jawa Barat. Kepala Petugas Jaga Bendung Katulampa ini, memantau perkembangan ketinggian air yang melalui tempat tersebut.

Debit air yang melewati Bendung Katulampa sore itu tidak terlalu deras. Tumpukan batu kali di sungai Ciliwung itu, bisa terlihat jelas. Air yang berasal dari kawasan puncak tersebut, mengalir lancar melalui celah di antara bebatuan tadi.


Memang bukan berarti debitair yang ada di Bendung Katulampa sedikit. Pada sisi lain pintu penahan air (Mercu Bendung), ketinggian air nyaris melampaui sembilan Mercu Bendung yang berada di sana. Namun, hanya pada lima Mercu Bendung yang airnya sampai lewat dari bagian atas. Pada dua Mercu Bendung lain, air hanya mengalir dari bagian bawah dan tidak deras.

Sedangkan pada dua pintu penahan air sisanya, yang be­rada di paling ujung dari kedua sisi Bendung Katulampa, tidak dialiri air sama sekali. "Sebab, debit airnya sedang rendah. Kalau tinggi juga, semua Mercu Bendung pasti dilalui air dari bagian atasnya," ujar Andi.

Seusai melakukan pemantauan,Andi masuk kembali ke posko berwarna merah muda itu. Ia kemudian menuju ke sudut posko, di mana terdapat monitor pantauan CCTV, sebuah sofa, dan sebuah meja kayu yang di atasnya terdapat radio komu­nikasi antar petugas pintu air hingga Jakarta.

Pada meja itu juga terdapat sebuah buku besar yang berisi catatan hasil pantauan keting­gian air tiap jamnya. Catatan pada Sabtu, pukul 13.00 WIB menunjukkan, ketinggian air berada di angka 40 cm. Angka ini terjadi sejak pukul 17.00 WIB hari Jumat.

"Jumat pagi sampai sore, airnya sempat di ketinggian 50 cm, tapi malamnya turun. Sampai sekarang relatif stabil di angka 30-40 cm," ucapnya.

Andi menjelaskan, seminggu belakangan, ketinggian air hanya mengalami peningkatan drastis pada Rabu dan Kamis dini hari lalu. Pada Rabu sekitar pukul 05.00 WIB, ketinggian air sem­pat berada di angka 150 cm. Sementara pada Kamis sekitar pukul 03.00 WIB, ketinggian air sempat berada di angka 130 cm. Dua angka tersebut sekaligus menjadi puncak ketinggian air pada April.

"Pada akhir Maret, ketinggian air di Katulampa relatif normal. Ketinggian air meningkat drastis lagi karena hujan yang merata di berbagai tempat, dan dalam waktu berdekatan," ucapnya.

Andi memaparkan, ketinggian air tersebut sampai kemarin sore berada di level normal akibat rendahnya curah dan intensitashujan di kawasan Puncak. Seminggu belakangan, hujan di kawasan Puncak hanya terjadi di sore hari. Itu pun tidak deras, dan tidak berlangsung lama. Hujan di kawasan tersebut saat ini berada pada intensitas sedang.

"Hujan yang agak gede itu terjadi Jumat, 25 Maret lalu. Ketinggian air sempat naik di angka 60 cm pada Jumat malam. Lalu sempat naik lagi di angka 80 cm atau siaga 4 pada Sabtu, jam 8 pagi. Tapi siangnya sudah turun lagi ke angka 50 cm, lalu sorenya kembali turun ke 40 cm," paparnya.

Andi menjelaskan, dua bulan ini puncak ketinggian air ter­jadi pada 7 Maret, pukul 22.00 WIB. Ketika itu ketinggian air menyentuh angka 2,5 meter. Tingginya debit air yang melalui Bendung Katulampa itu terjadi karena hujan mengguyur ka­wasan puncak sejak sore. Deras dan lamanya hujan membuat ketinggian air meningkat drastis dari jam 7 hingga 9 malam.

"Puncaknya jam 10 malam. Setelah itu ketinggian air turun. Pada pertengahan Maret, keting­gian air sempat sering berada di level siaga 4. Selebihnya, untuk tahun ini ketinggian air juga be­rada di siaga 4 (50 cm -80 cm) atau normal," jelasnya.

Andi mengatakan, jika ketinggian air dalam kondisi normal,sebagian besar tugasnya hanyamemberikan laporan rutin tiapjamnya, sembari mendengar perkembangan di pintu air Jakarta. Sebab, Bendung Katulampa hanya berfungsi sebagai tempat pemantauan ketinggian air, pengatur irigasi, dan pem­berian informasi.

"Bendung Katulampa dibangun untuk mengatur kebutuhan air irigasi, bukan penahan banjir. Jadi kami hanya melakukan pe­mantauan, dan menyampaikan informasi ke Jakarta. Di Jakarta baru diatur pengaliran debit airnya supaya tidak banjir," terangnya.

Selain itu, dia dan enam orang rekannya juga bertugas melakukan pembersihan rutin terhadap Bendung Katulampa. Pembersihan tersebut dilakukan tiap satu minggu sekali, yaitu tiap Jumat. Kegiatan bersih-bersih tersebut dilakukan oleh seluruh petugas jaga Bendung Katulampa.

"Selain itu ya jaga di posko untuk mantau dan ngasih lapo­ran. Jaganya dibagi dua shift, yaitu pagi sampai malam, dan malam sampai pagi lagi. Yang shift pagi biasanya tiga orang, sementara untuk shift malam biasanya dua orang," tuturnya.

Andi menambahkan, meski di kawasan puncak hujan berinten­sitas sedang dan pihaknya telah melakukan pembersihan rutin, namun tidak ada jaminan Jakarta aman dari banjir. Pasalnya, besarnya debit air di Jakarta dipengaruhi juga oleh keadaan di Kota Bogor dan Depok. Jika di kedua kawasan itu dan di Jakarta kebetulan hujan bersamaan, bukan tak mungkin Jakarta kembali dilanda banjir seperti Kamis lalu.

"Saat ini diperkirakan intensitas hujannya sedang, karenalangit juga cuma kelihatan agak mendung tapi tidak hujan, kecualisore hari. Tapi kalau ber­samaan, tetap saja bisa mening­katkan debit air secara drastis," tegasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan, hingga hari Minggu kawasan Jabodetabek masih berpotensi diguyur hujan. Pada beberapa tempat intensitasnya masih se­dang, namun dengan kecenderungan menurun.

"Intensitas untuk besok-besok mulai menurun, meski di beber­apa tempat pada skala sedang. Paling tidak akhir April sampai Mei, potensi hujan masih ada," kata dia.

Menurut Mulyono, April 2016 masih penghujung musim penghujan, sedangkan kemarau mulai masuk pada Mei 2016. Namun, meski sebenarnya sudah masuk musim kemarau pada Mei, bukan berarti hujan sama sekali tidak ada. "Ada hujan, tapi probabili­tas lebih sedikit dibanding saat kondisi sekarang," tegasnya.

Mulyono menambahkan, pihaknya memprediksi fenomena alam La Nina akan datang mulai Juli 2016. Imbasnya, musim ke­marau akan lebih pendek.

"Bicara masalah La Nina, saat ini dalam status El Nino meskipun intensitasnya skala sedang ke lemah. Nah, apakah ini kemudian jadi La Nina? Dimungkinkan setelah terjadi El Nino ada La Nina, tapi belum saat ini," jelas dia.

Mulyono menjelaskan, ge­jala La Nina yang bisa meningkatkan intensitas hujan lebat, diprediksi mulai tampak pada Juli-Agustus 2016. Sekarang El Nino diprediksi sedang lemah, dan akan memasuki fase netral pada Mei-Juni-Juli.

"Setelah El Nino ada La Nina. Bisa kita lihat indikasi kuatnya bulan Agustus-September nanti, belum saat ini," ucapnya. ***

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ini Pemicu Perubahan Sikap Jokowi ke Prabowo

Minggu, 18 Oktober 2026 | 08:15

Prancis Membara, Demonstran Bakar Gedung Pemerintah hingga Jarah Toko

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:57

OMC di Sumsel Turunkan Polusi Asap dari Kategori Berbahaya

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:40

Kopdes Buka Peluang Kerja dan Usaha bagi Generasi Muda

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:32

Gerindra Pilih Redam Polemik Gibran

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:21

Dua Tahun Rezim Prabowo-Gibran: Double-Track Menuju Swasembada Energi

Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:55

Ketum BPP HIPMI Ajak Pelaku Usaha Tetap Optimistis di Tengah Gejolak Pasar

Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:23

Seorang Peserta ITB Ultra Marathon 2026 Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:47

Desa dalam Otonomi Terpasung

Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:21

Operasi Badai Kasuari Sukses Rampas Kembali Persenjataan OPM

Minggu, 18 Oktober 2026 | 04:59

Selengkapnya