Berita

Muhammad Prasetyo:net

Wawancara

WAWANCARA

Muhammad Prasetyo: Koruptor Memang Banyak Uangnya, Tapi Insya Allah Kita Nggak Akan Bisa Dibeli...

SENIN, 25 APRIL 2016 | 08:13 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Setelah sekitar 13 tahun buron, koruptor kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono (SH) baru-baru ini berhasil dipulangkan dari Shanghai, China. Keberhasilan memboyong SH kembali ke Tanah Air merupakan hasil kerja Badan Intelijen Negara (BIN).
 
Namun, prestasi itu seakan terkubur, lantaran saat proses penyerahan ke Kejaksaan Agung (Kejagung), SH tak diborgol. Sebaliknya sebagai koruptor SH justru dinilai mendapat sambu­tan yang berlebih. Sejumlah kalangan mengkritik Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso dan Jaksa Agung M Prasetyo yang terkesan mengis­timewakan koruptor kelas kakap itu. Jaksa Pras yang kemarin dihubungi Rakyat Merdeka, tak mau ambil pusing mendengar kritik tersebut.

"Orang nggak paham saja itu, kita bisa maklumi. Kayak penonton bola, di luar lapangan itu kan komentarnya macam-macam. Tapi disuruh melaku­kan sendiri belum tentu paham dia," kata Jaksa Pras saat me­nanggapi kritikan tersebut. Berikut ini pernyataan lengkap Jaksa Pras;


Apa alasan Anda bikin pe­nyambutan pada saat pemulan­gan buronan BLBI Samadikun Hartono, sementara pada buro­nan yang lain tidak?
Jadi begini, kalian harus tahu yang bawa Samadikun Hartono dari Shanghai itu siapa. Kepala BIN kan. Jadi kalaupun Jaksa Agung datang ke sana bukan untuk menjemput Samadikun Hartono.

Kita harus menghormati dan menghargai Kepala BIN, yang su­dah membawa itu dari Shanghai. Itu bentuk dari pada kerja sama dan sinergitas antar lembaga. Jangan dimaknai macam-macam lah, jangan negative thinking, tidak ada seperti itu.

Tapi tangannya juga tidak diborgol seperti halnya buro­nan yang lain. Itu kenapa?
Masalah tidak diborgol itu bagian dari deal otoritas China supaya diperlakukan dengan baik. Ya harus dilaksanakan, ini bagian dari deal. Karena mereka di sana diperlakukan secara baik, ya cobalah untuk tidak diborgol.

Yang penting kan dia pulang kemari dan langsung diekseku­si. Nggak ada kompromi kan. Malam itu juga kita kirim ke Lembaga Pemasyarakatan. Apa yang kurang... Jangan berpikir negatif. Itu bagian dari deal su­paya diperlakukan seperti itu.

Mungkin karena dirasa janggal?
Kapan selesai (persoalan) bangsa ini kalau banyak yang berpikir negatif. Kapan negara ini menjadi baik, kalau semua dipikir negatif. Yang penting kan Samadikun-nya datang, kemudian kita masukkan ke lem­baga pemasyarakatan, menjalani sanksi pidananya dan berikutnya kita kejar asetnya.

Kok bisa ada deal tidak boleh diborgol?
Ya itu kan seperti yang disam­paikan Pak Kepala BIN kalau itu, sampai di sini pun coba tidak diborgol dan lain sebagainya. Kan dari awal tidak diborgol. Jangan disalahkan ke kita.

Tapi negative thinking ini sudah telanjur berkembang, usaha keras lembaga Anda menjadi tidak diapresiasi. Bagaimana Anda menyikapinya?
Saya bisa memahami lah, karena orang nggak ngerti jadi bicaranya macam-macam. Ini bagian dari strategi kita. Kalau orang melihat bahwa perlakuan­nya seperti itu, kita harapkan yang lain juga akan dengan suka rela menyerahkan diri.

Apa langkah selanjutnya yang Anda ambil terkait kasus Samadikun?
Kita akan telusuri asetnya. Malam itu juga langsung dit­anya itu bagaimana dengan uang penggantinya. Dan dia mengata­kan akan merundingkan dengan keluarganya. Makanya saya perintahkan JAM Pidsus waktu itu supaya ada anak-anaknya, agar diklirkan sekalian.

Selain Samadikun masih banyak lagi buronan BLBI lainnya yang masih berkeliaran bebas. Itu bagaimana, apakah pengejarannya dihentikan?
Berhenti bagaimana, ini kan si­sa-sisa peninggalan lama semua. Setelah 13 tahun, baru sekarang ditangkap di era kita ini. Kita ke­nal dengan Samadikun Hartono pun tidak. Kok kita dikatakan memperlakukan istimewa, di mana istimewanya.

Apakah Kejaksaan akan kembali memperlakukan buron BLBI ini dengan istimewa?
Tidak ada sedikitpun kita memperlakukan istimewa ke­pada koruptor yang berhasil ditangkap dan dipulangkan. Bagi kita yang terpenting adalah hasil akhirnya, mereka segera dijebloskan ke penjara tanpa kompromi dan selanjutnya kita segera berusaha mengeksekusi dan menagih seluruh jumlah uang telah dikorupnya.

Oh ya, selain di luar negeri, beberapa yang terlibat BLBI kabarnya masih berke­liaran bebas di dalam negeri. Bagaimana itu?
Pesan kita, tidak ada tempat yang aman bagi para koruptor. Tapi tidak serta merta seperti semudah membalikkan telapak tangan. Sekarang mereka di mana, kalau di Singapura kan sulit. Nah kita berikan apresiasi untuk Singapura yang Hartawan (buron kasus Bank Century) itu. Kita berharap sebetulnya yang lain-lain juga diperlakukan seperti itu sehingga kita bisa membawa pulang mereka ke Indonesia.

Korupsi ini kan extra or­dinary crime, sama dengan kasus narkoba dan terorisme. Apakah perlakuannya akan sama?
Koruptor juga sama saja. Koruptor itu memang banyak uangnya, tapi Insya Allah kita nggak akan bisa dibeli dengan uangnya itu ya. ***

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Wall Street Kompak Hijau Berkat Lonjakan Saham AI

Selasa, 17 Maret 2026 | 08:03

Krisis Energi Kuba: Blokade Minyak AS Picu Pemadaman Listrik Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:45

Festival 1000 Berkah: Dari Sampah Plastik Menjadi Paket Pangan untuk Sesama

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:35

Ancaman Inflasi Global Tekan Harga Emas Dunia ke Bawah Level 5.000 Dolar AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:22

Pasar Eropa Bangkit dari Tekanan, STOXX 600 Ditutup Hijau

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:07

Melawan atau Hanyut dalam Tekanan

Selasa, 17 Maret 2026 | 06:43

Negara Harus Petakan Pola Serangan KKB di Papua Demi Lindungi Warga

Selasa, 17 Maret 2026 | 06:23

Pedro Sanchez Warisi Politik Bebas Aktif Bung Karno

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:59

TNI AL Gelar Bakti Sosial dan Kesehatan di Pesisir Tangerang

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:45

SPPG IFSR Gelar Program Makan Berbuka Gratis Tanpa APBN

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:22

Selengkapnya