Berita

Menkumham Yasonna H Laoly:net

Menteri Yasonna Dimarahi Warga Dunia Maya

Sebut colek dan tempeleng napi hal biasa
SENIN, 25 APRIL 2016 | 08:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menkumham Yasonna H Laoly dihujani omelan dari publik di dunia maya. Gara-garanya, menteri asal PDIP ini mengeluarkan pernyataan yang dianggap kurang pantas terkait Udang Kosim alias Abah, narapidana yang ditemukan tewas tergantung di ruang isolasi Lapas Banceuy, Bandung, tiga hari lalu. Pasalnya, sebelum tewas, Abah sempat diinterogasi oleh petugas. Nah, kata Yasonna, dalam proses interogasi, intimidasi, main fisik sampai ditempeleng adalah hal biasa.

Penyebab tewasnya Abah hingga saat ini masih tanda tanya. Para napi curiga Abah tewas karena dibunuh. Kecurigaan ini yang kemudian berujung pada pembakaran blok lapas oleh napi. Namun, pihak lapas dan Kemenkumham keukeuh bilang, Abah tewas karena gantung diri.

Kemarin sore, Yasonna dan jajarannya di Kemenkumham menggelar konferensi pers untuk memberi penjelasan mengenai kematian Abah dan kerusuhan itu. Di acara itulah, Yasonna mengakui bahwa intimidasi dan main fisik dalam proses interogasi adalah hal biasa. "Pengakuan dipaksa. Mungkin ada colek-colek. Bukan penyiksaan, beda. Ditempelenglah kira-kira. Biasalah," ucap Yasonna, kemarin.


Memang, sebelum kejadian itu, pihak lapas curiga Abah menerima paket narkoba dalam bungkusan plastik hitam dari pengendara sepeda motor yang melintas di lapas. Saat itu, Abah tengah melakukan kegiatan pembersihan di luar lapas. Petugas lalu menggeledah Abah, tapi paket itu tidak ditemukan. Dalam tes urine, Abah juga negatif. Karena tidak mengaku, Abah kemudian dibawa ke ruang isolasi. Di ruang isolasi itulah Abah ditemukan tewas tergantung.

Menurut Yasonna, intimidasi adalah hal yang wajar. Sebab, biasanya napi tidak akan mengaku jika tidak dipaksa. Karena itu, kalapas juga tidak akan main-main, karena posisinya bisa terancam jika di dalam lapas ada transaksi narkoba. "Coba bayangkan ketakutan Kalapas, kalau nggak benar (ada transaksi narkoba), dia dicopot. Petugas berpikir, 'kalau ketahuan bos pasti saya mati'. Mungkin ada kekerasan, kaya ditarik atau apa saya tidak tahu, tapi memang ada indikasi pemaksaan supaya mengaku," jelasnya.

Yasonna memastikan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan internal untuk mengetahui apakah ada pelanggaran prosedur dalam penggeledahan tersebut. Yasonna juga mempersilakan pihak kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut hingga kasus ini terang benderang. "Urusan hukum biar polisi. Saya mau semuanya (sesuai) prosedur," ucapnya.

Meski begitu, Yasonna memastikan penyebab kematian Abah bukan dibunuh. Dia menyebut Abah mati karena gantung diri. Soal talinya, Yasonna menyebut Abah gantung diri menggunakan tali celana. "Kabelnya dari tali celana," ucapnya.

Entah tali celana apa yang dimaksud Yasonna. Yang jelas, kata dia, jenazah Abah menunjukkan tanda-tanda gantung diri. "Yang dibunuh lalu digantung itu beda dengan yang masih hidup terus gantung diri. Yang gantung diri itu lidahnya keluar dan air maninya keluar. Saya sudah telepon Kapolrestabes Bandung. Hasil autopsi memang belum keluar, tapi sudah bisa dipastikan penyebab kematian (Abah) kerena bunuh diri," terangnya.

Pernyataan ini mengundang emosi publik dunia maya. Para netizen pun ramai-ramai ngomelin Yasonna.

"PakMenteri, ente mau tak ane 'colek'," sergah @jochny di twitter. Akun @didisajah tidak percaya pernyataan Yasonna ini. Kata dia, kalau cuma dicolek biasa, tidak akan menyebabkan kematian. "Bisa saja dihajar sampai kelenger trrus digantung," tuding @luviku.

Pemilik akun @jokowifri dalam forum detikcom ngomel juga ke Yasonna dengan lebih keras. "Memalukan!! Pernyataan tidak cerdas!!!... Anda tidak pantas jadi menteri, kalau Anda jantan lebih baik mundur...Kalau tidak ya Anda seorang pengecut dan tidak jantan," cetusnya.

Akun @alhanaabila sama marahnya. Dia pun membalikkan ucapan Yasonna tampar adalah hal biasa. "Tar (nanti) Bapak ditempeleng sama napi juga biasa," cetusnya. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

Ngobrol Serius Bareng Macron

Rabu, 15 April 2026 | 01:59

Diplomasi Konstruktif Diperlukan Buat Akhiri Perang di Selat Hormuz

Rabu, 15 April 2026 | 01:41

BGN Bantah Hapus Pemberian Susu dalam Program MBG

Rabu, 15 April 2026 | 01:13

Pujian Habiburokhman ke Polri soal Transparansi Sesuai Realitas

Rabu, 15 April 2026 | 00:58

Prabowo Disambut Pasukan Kehormatan saat Temui Macron di Istana Élysée

Rabu, 15 April 2026 | 00:35

Taman Sunyi: Sebuah Pembelaan atas Rumah-Rumah Fantasi

Rabu, 15 April 2026 | 00:06

Maruli Tuntut Yayasan Tanggung Biaya Perawatan Head Chef SPPG

Selasa, 14 April 2026 | 23:55

DPR Sambut Baik MDCP: Bisa Buka Kerja Sama Lain

Selasa, 14 April 2026 | 23:37

AFPI Buka Suara Usai Didenda KPPU: Kami Hanya Melindungi Konsumen

Selasa, 14 April 2026 | 23:12

Denda Rp755 Miliar ke Perusahaan Pinjol Menguak Borok Regulasi

Selasa, 14 April 2026 | 22:48

Selengkapnya