Berita

Agus Santoso:net

Wawancara

WAWANCARA

Agus Santoso: Ada Indikasi Teroris Indonesia Beli Senjata Ke Militer Filipina Yang Korup

MINGGU, 24 APRIL 2016 | 09:17 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menggelar pertemuan dengan sejumlah pimpinan PPATK negara tetangga di Medan be­lum lama ini. Salah satu agenda penting yang dibahas adalah terkait risiko perpindahan uang di daerah perbatasan, khususnya untuk kepentingan terorisme.

Salah satunya target yang tengah diungkap adalah jarin­gan Abu Sayyaf. Jaringan ini terdeteksi menjadi pusat pem­belian senjata untuk terorisme di Indonesia. Besar dugaan, penyediaan senjata ini dibekingi oleh militer Filipina. Berikut wawancara Rakyat Merdeka dengan Wakil Ketua PPATK Agus Santoso selengkapnya;

Apa saja kerjasama yang in­gin dibangun dengan negara-negara perbatasan ini?

Ada empat kerjasama yang dibangun. Yang pertama, sharring informasi. Kedua, melakukan pen­guatan pengenalan risiko regional. Karena sebetulnya terorisme dan sebagainya itu cross-border ya yang berbatasan. Misalnya Nurdin M Top dan Dokter Azhari itu kan orang Malaysia yang ada di Indonesia, orang ke Suriah juga lewat jalur Kalimantan nyebrang ke Malaysia, terus nyebrang ke Thailand lalu ke India sana. Kita memetakan jaringan teroris di regional.

Ada empat kerjasama yang dibangun. Yang pertama, sharring informasi. Kedua, melakukan pen­guatan pengenalan risiko regional. Karena sebetulnya terorisme dan sebagainya itu cross-border ya yang berbatasan. Misalnya Nurdin M Top dan Dokter Azhari itu kan orang Malaysia yang ada di Indonesia, orang ke Suriah juga lewat jalur Kalimantan nyebrang ke Malaysia, terus nyebrang ke Thailand lalu ke India sana. Kita memetakan jaringan teroris di regional.

Apa ada analisis atau pem­bahasan terkait jaringan Abu Sayyaf?
Saya tidak terlalu berbicara mengenai kasus Abu Sayyafnya ya, tetapi selama ini ada jaringan atau hubungan terorisme yang ada di Filiphina Selatan dengan yang ada di Indonesia.

Bagaimana hubungannya itu?
Hubungan itu yang saya lihat, (jaringan teroris) yang ada di Indonesia itu beli senjata dari Filiphina. Yang teroris di Sarinah Januari lalu itu pun kita duga beli senjatanya dari Filiphina. Maka itu kita ingin mengungkap jarin­gan itu secara lebih jelas.

Sumber pendanaannya dari mana sih sebenarnya?
Kalau sumber pendanaan kita sudah mendeteksi, karena Indonesia ini cukup besar ada pendanaan intern dari Indonesia sendiri. Nah sumber pendan­aan itu sudah berubah empat generasi.

Maksudnya?
Sudah empat tahap perubah­annya itu. Dulu, dari tahun 2011 hingga 2012 awal, itu sumber pendanaan dari konstribusi ang­gota. Kemudian 2012-2013 itu mereka merekrut orang-orang yang pendidikannya agak ke bawah ya, untuk mengumpul­kan dana dengan perampokan bersenjata.

Tahun 2013-2014 mereka berubah lagi. Mereka merekrut orang-orang yang berpendidi­kan cukup tinggi, yaitu dengan meng-hack, bisa menghasilkan uang Rp 500 juta satu kali hack. Jadi mereka merekrut hacker. Pada tahun 2015, mereka men­coba membiayainya dengan men-generate income dari pe­rusahaan yang sah.

Jadi teroris yang ada di Indonesia itu beli Senjata ke Abu Sayyaf?

Ya kita lihat ada jaringan mereka itu ngejual senjata. Menyediakan senjatalah.

Kok bisa?
Nah ini asal-muasal terorisme ini memang korupsi sih ya.

Kaitannya?

Ya senjata itu berasal dari pabrik senjata di Filipina. Kemungkinan ada pihak mi­liter di Filipina yang korup menjual senjata. Kemudian di perbatasan-perbatasan kalau imigrasinya bisa disuap ya tam­bah jadi susah gitu lho. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya