Berita

foto:net

On The Spot

Eks Warga Luar Batang Bingung Cari Duit Di Rusun

Meski Dapat Tempat Tinggal
SABTU, 23 APRIL 2016 | 09:25 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bekas warga Pasar Ikan Luar Batang yang tinggal di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) masih bingung dengan kelanjutan nasibnya. Banyak dari mereka yang belum bisa beradaptasi, dan mendapatkan mata pencaharian pengganti.

Suasana di Lantai 5 Blok C5 Rusunawa Marunda, Cilincing, Jakarta Utara lengang. Suara siaran televisi dari sebagian unit rusun, mengisi kekosongan suasana di lantai tersenut. Sore itu, nyaris tak ada warga yang berkegiatan di luar unit rusun­nya. Yang ada hanya dua bocah bermain mobil-mobilan di dekat tangga bagian tengah Rusunawa Marunda. Dua bocah itu bermain di depan pintu unit rusun Nomor 515 yang terbuka.

Di dalam rusun, ada seorang wanita bersama anaknya. Sambil menyaksikan tayangan tele­visi, perempuan itu bermain dengan anaknya yang berumur satu tahun.


Wanita tersebut bernama Siti Nurjami. Ibunya bernama Siti Asmani. Mereka merupakan bekas warga Pasar Ikan Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Mereka menempati rusun ini sejak 8 April 2015, atau dua hari setelah terbitnya Surat Peringatan Kedua (SP2) bagi warga Kampung Akuarium dan Pasar Ikan Luar Batang.

"Begitu turun SP2, kami lang­sung ke posko pendaftaran rusun di Museum Bahari. Ternyata da­patnya di sini. Jumatnya angku­tin barang dan langsung pindah," ujar Siti Asmani.

Asmani mengaku dirinya terpaksa daftar rusun lantaran khawatir kelangsungan hidup­nya. Sebab, setelah turun SP2, dia merasa percuma memper­tahankan tempat tinggalnya. Dia yakin, lokasi yang ditinggalinya sejak 1983 itu pasti digusur,dan tidak akan mendapat ganti rugi yang memadai dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Pasalnya, meski rumah terse­but adalah miliknya, namun dia tidak punya surat-suratnya. Surat kepemilikan rumah itu, akunya, sudah jadi debu. Rumahnya termasuk yang terkena musibah kebakaran Luar Batang beberapa tahun lalu.

"Apalagi pas turun SP2 Camat ikut ke lokasi, dan mengumum­kan tentang penggusuran seluruh wilayah Kampung Aquarium dan Pasar Ikan Luar Batang. Dari pada tak dapat apa-apa, mending saya nurut pindah ke rusun," ucap dia.

Asmani memaparkan, setelah SP1 diterbitkan, Camat Penjaringan, Abdul Khalid sempat menjelaskan kepada warga tentang area yang akan kena gusuran. Ketika itu, Khalid me­nyatakan tidak semua area Kampung Aquarium dan Pasar Ikan Luar Batang yang akan digusur. Daerah yang akan digusur hanya yang berada di sekitar kali. Oleh karena itu, warga yang tinggalnya agak ke tengah tidak langsung bersiap pindahan. Namun kenyataannya berbeda saat turunnya SP2.

"Ternyata jadi semuanya. Makanya banyak warga yang buru-buru angkut barang, dan bongkar bangunan. Saya ini beruntung, masih dapat rusun walau tetep bingung buat makan," curhatnya.

Ibu lima anak ini bercerita, sebelum pindah ke rusun, dirinyabiasa berjualan ikan di sekitar Luar Batang. Ikan-ikan itu diperoleh dari para nelayan yang pulang melaut, untuk dijualnya ke rumah-rumah warga. Ikan cue ekor kuning dijualnya Rp 25 ribu per ekor, cumi dijual Rp 30 ribu per kilo, sementara ikan-ikan lain dijual sekitar Rp 20 ribu per ekor.

"Suami saya nelayan, tapi sudah meninggal tiga tahun lalu. Tak banyak juga dapatnya, cuku­plah buat makan dan jajan anak. Kekurangan pendapatan dibantu anak pertama dan ketiga, serta me­nantu yang bekerja," ucapnya.

Menurut Asmani, saat ini un­tuk biaya hidup, dia hanya men­gandalkan pemberian dua anak dan menantunya tiap seminggu sekali. Sebab, dua anaknya yang bekerja di ITC Mangga Dua, memilih untuk ngekos bersama temannya. Sementara sang me­nantu pun numpang tinggal di rumah temannya, yang berada dekat Pelabuhan Sunda Kelapa.

"Menantu buruh pelabuhan. Kalau mereka tinggal di sini, duitnya bisa habis untuk ongkos. Capek juga karena terlalu jauh," kata dia.

Dari anak dan menantunya, Asmani mendapat Rp 150 ribu per minggu. Uang tersebut di­gunakannya untuk membeli beras, lauk-pauk, bayar lis­trik, jajan anak, dan susu bagi cucunya. Lauk-pauk terpaksa dibelinya agak jauh karena sampai saat ini, Siti mengaku masih bingung mencari pasar terdekat. "Tahunya naik busway sampai Tanjung Priok doang. Nyambung kemana dari situ, tidak tahu," ucapnya.

Asmani mengaku, uang tersebut masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pasalnya, saat ini aktivitasnya hanya sebagai ibu rumah tangga, tidak bisa lagi mencari penghasilan tambahan seperti dulu. Oleh sebab itu, dirinyakerap meminta beras kepada saudaranya yang berada di blok lain. Sementara untuk lauk, ia kerap berutang ke tetangga. Dia pun merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut.

"Tidak enak karena baru kenal. Kalau di tempat lama kan sudah puluhan tahun. Tanpa diminta pun sering ada yang ngasih," kata wanita yang tinggal bersama tiga anak, dan seorang cucunya ini.

Asmani menyatakan, sebetulnya dirinya berminat untuk buka usaha kecil-kecilan. Pengelola rusun pun kabarnya mengizinkan jika ada warga yang ingin berjualan. Namun sayangnya, Asmani tidak punya modal untuk memulai usaha. Pasalnya, sampai saat ini belum ada tawaran pemberian bantuan dana buat mereka.

"Waktu mau digusur, katanya akan ada bantuan dana buat modal.Tapi sampai sekarang saya belum dapat tuh," tandasnya.

Asmani pun berharap agar Pemprov DKI Jakarta memberi bantuan dana buat mereka. Sebab, rumah yang layak huni saja tidak cukup bagi mereka. Pasalnya, banyak warga eks Kampung Akuarium dan Pasar Ikan Luar Batang yang sebelumnya sudah menjadi nelayan selama puluhan tahun. Tidak mudah untuk mengubah kondisi tersebut dalam waktu singkat, sementara kebu­tuhan hidup terus mengalir.

"Paling kami butuhnya buat buka warung kelontong atau pu­lang kampung. Nyari kontrakan kalau tak ada kerjaan percuma juga. Jadi, bantuan dananya pasti tidak sebesar jika Pemprov ganti rugi rumah yang kami bangun bertahap puluhan tahun," kata eks warga RT/RW 11/04 Pasar Ikan Luar Batang ini.

Kebingungan serupa dialami Sulastri, eks warga Kampung Aquarium. Sulastri tak pernah membayangkan bakal tinggal di rumah susun. Sebelum digusur, Lastri, sapaan akrabnya, sempat ditawari tinggal di rumah susun Rawa Bebek, Cakung, Jakarta Timur. "Tapi saya tak ngambil ke Rawa Bebek, soalnya.jauh sana sini. Saya pilih tinggal di rumah hingga hari pembongkaran," kata Lastri di Rusunawa Marunda.

Menurut eks warga RT 01 RW 04 Kelurahan Penjaringan ini, sehari sebelum pembongkaran, petugas kecamatan kembali mem­bujuk warga agar mau pindah ke rusun. Pilihannya adalah Rusun Marunda atau Rawa Bebek. Namun, Lastri bertahan karena yakin rumahnya tak kena gusur.

"Dulu ada yang bilang rumah saya tak digusur. Tahu-tahu ada SP 2 yang perintahkan semua bangunan di Kampung Aquarium dan Pasar Ikan Luar Batang di­gusur," kata perempuan berusia sekitar 60 tahun tersebut.

Sehari-hari, Lastri berjualan makanan di rumahnya itu, sepertinasi uduk dan lontong. "Saya tinggal di Pasar Ikan sudah 23 tahun," ujar Lastri. Ia berasal dari Surabaya, ke Jakarta pada 1972.

Pada hari penggusuran, Lastri tidak sempat menggotong barang-barangnya. Kejadian itu berlangsung cepat. Kasur, lemari, dan perabotan lainnya ikut tertimbun puing bangunan. Dirinya pun pingsan dan baru sadar ketika berada di Rumah Sakit Atmajaya.

Tapi, petugas kecamatan tetap menyediakan satu unit rumah untuknya di Rusunawa Marunda. Cat unit rusun Lastri berwarna abu-abu, sementara kamar lain berwarna ungu. Lantainya terbuat dari beton, dilapisi terpal plastik. Lastri tinggal di sana bersama suami, anak, dan menantunya.

Unit rusunnya itu terdiri dari dua kamar kira-kira berukuran 2 x 3 meter. Lalu ada ruang tengah, kamar mandi, dapur, dan tempat mencuci. Di dalam rusun itu ter­dapat lemari pendingin, dispenser, lemari, dan kasur busa. "Saya tak bawa apa-apa ke sini. Saat tiba di Blok B3 lantai 2, barang-barang ini sudah ada," jelasnya.

Menurut Lastri, para tetang­ganya di rusun baik. Ibu-ibu tetangganya juga mengajak Lastri ikut pengajian. "Saya baru datang aja, mereka nyamperin. Bilang, yang betah ya Nek," kata dia.

Lastri bersyukur mendapat tempat tinggal. Tapi, masih ada perasaan belum rela meninggal­kan Pasar Ikan. "Istilahnya saya mulai dari nol di Pasar Ikan," ucapnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya