Berita

M Nurkhairon:net

Wawancara

WAWANCARA

M Nurkhairon: Warga Sekitar Pabrik Semen Indonesia Yang Menderita Penyakit Pernapasan Akut Makin Tinggi

SABTU, 23 APRIL 2016 | 09:29 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Penyebab kematian pulu­han orang di Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Tuban, Jawa Timur masih misterius. Investigasi yang dilakukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) belum menemukan penyebab pasti ke­matian 29 orang dalam rentang waktu 45 hari di desa tersebut.

"Yang menjadi pertanyaan. Itu semua terjadi di satu desa, namanya Karangelo. Nah itu ter­jadinya bertepatan di daerah ring satunya pabrik Semen Gresik atau sekarang Semen Indonesia," terang Komisioner Komnas HAM Muhammad Nurkhoiron yang terjun langsung melakukan investigasi. Berikut penjela­san Nurkhoiron kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Apa hasil investigasi Komnas HAM di Tuban?
Jadi temuan Komnas HAM di lapangan, menemukan bukan 61 orang yang meninggal, tapi 28. Plus satu orang ketika kita mau pulang, jadi ada 29 orang.

Jadi temuan Komnas HAM di lapangan, menemukan bukan 61 orang yang meninggal, tapi 28. Plus satu orang ketika kita mau pulang, jadi ada 29 orang.

Apa penyebab kematian­nya?
Penyebab kematian orang-orang ini kan diawali dari be­berapa penyakit. Diawali pe­nyakit yang bermacam-macam. Seperti hipertensi, diabetes. Tapi ada juga penyakit pernapasan akut dan karena kecelakaan. Yang terakhir meninggal karena penyakit kanker kelenjar getah bening. Itu semua terjadi di satu desa.

Hanya di satu desa?
Itu yang menjadi pertanyaan. Itu semua terjadi di satu desa, namanya Karangelo. Nah itu terjadinya bertepatan di daer­ah ring satunya pabrik Semen Gresik atau sekarang Semen Indonesia.

Kemudian, dari penyakit yang diderita orang-orang yang men­inggal ini kan, penyakitnya tidak tunggal. Sehingga kita tidak bisa menyimpulkan antara kema­tian mereka dengan kedekatan tempat tinggal dengan pabrik semen.

Tidak ada data rujukan?
Kita cek di Puskesmas Kecamatan Kerek yang sebagian besar pasiennya itu di daerah ring satu pabrik semen.

Apa hasilnya?
Ditemukan, tahun 2013 ada sekitar 1800an orang yang men­derita infeksi saluran pernapasan akut. 2014 berkurang jadi sekitar 1700an orang hingga 1500. Tapi 2015 naik hingga 2058 orang. Nah yang menjadi pertanyaan kami, kok yang mengalami penyakit pernapasan akut kok tinggi. Ada apa sebenarnya?

Langkah Komnas HAM selanjutnya?
Kami minta kepada Dinas Kesehatan di Kabupaten Tuban, apakah ada hubungan antara penyakit tersebut dengan daerah itu yang berada di wilayah ring satu pabrik semen. Jadi kami mendorong Dinkes Tuban untuk melakukan kajian.

Sebelumnya apa pernah dikaji?
Nah, Kepala Dinkes Tuban tahun 2014 itu telah menyam­paikan, banyaknya penderita infeksi pernapasan akut akan dilakukan kajian untuk melihat hubungan antara wilayah itu dengan cerobong asap debu dan tambang semen.

Kesimpulannya?
Nah kita belum bisa menyim­pulkan itu misalnya tergolong tinggi atau bagaimana. Belum ada pembuktian ilmiah. Dan itu penting untuk dilakukan, kar­ena kami juga punya data dari penelitian yang sudah dimuat di dalam jurnal internasional di Semen Andalas, Padang, bahwa udara sekitar 5 kilometer dari pabrik itu sudah tidak bersih, dan cukup berbahaya. Nah itu kajian dan ada jurnalnya.

Dari lembaga lain selain Dinkes, belum pernah dikaji?
Belum, belum ada kajiannya. Kemarin baru kita yang terjun ke lapangan.

Termasuk LSM Walhi?
Ya belum.

Lalu kapan akan menyam­paikan ke presiden?
Laporan presiden itu kan terkait dengan tim dari Komnas HAM yang akan membuat ka­jian di mana wilayah yang akan menimbulkan konflik dengan perusahaan. Perencanaan sudah proposal.

Hasil investigasi itu akan menjadi kajian nasional di Komnas HAM bulan depan lalu diserahkan ke Presiden Joko Widodo. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya