Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat Komisaris Jenderal Budi Waseso menonaktifkan Kepala BNN Maluku Utara Komisaris Besar Ely Jamaludin. Gara-garanya, perwira menengah Polri ini terjaring dalam razia tempat hiburan di Maluku Utara.
"Saya sudah mengeluarkan surat perintah penonaktifan yang bersangkutan," kata Komisaris Jenderal Budi Waseso dalam jumÂpa pers di kantornya, kemarin.
Sejauh ini, menurut Buwas (panggilan beken Budi Waseso), Ely baru dipastikan melanggar kode etik kepolisian dan personel BNN saja. "Tapi, ya, kalau sudah nonaktif begitu nggak bisa diakÂtifkan kembali," tegas Buwas.
BNN masih melakukan peÂmeriksaan intensif terhadap dugaan pelanggaran berat yang dilakukan Ely. Saat terjaring razia di Kafe Royal, Sentiong, Ternate, di room karaoke Manchester di lantai dua yang diÂpakai Ely, ada pemandu lagu dan minuman alkohol.
Berdasarkan hasil pemerikÂsaan awal, Ely terbukti tidak ikut razia gabungan yang dilakukan Polri, TNI, Satpol PP dan BNN Maluku Utara.
Perwira menengah Polri itu hanya menandatangani surat perintah agar anggotanya turut dalam razia. "Keberadaan yang bersangkutan berada di luar operasi ini. Dia hanya menanÂdatangani surat perintah untuk anggotanya bergabung dalam operasi itu," tandas Buwas.
Buwas berharap kasus Ely bisa menjadi pelajaran untuk personel BNN lainnya agar tak melakukan pelanggaran. Ia mengingatkan kepada semua personel BNN bahwa mereka telah menandatangani pakta integritas.
Dia menegaskan, personel yang melanggar pakta integritas akan ditindak tegas. Sebab diÂanggap telah mengkhianati proÂfesi. "Kalau berani coba-coba, salah sendiri. Kalau dipecat karena melakukan pelanggaÂran, salah sendiri," kata bekas Kepala Bareskrim Polri itu.
Ely sudah memberikan klariÂfiasi mengenai razia ini. Ia menÂgaku berada di tempat hiburan itu untuk memantau operasi. Hanya saja, ia terlebih dahulu datang ke tempat hiburan tersebut.
"Saya kan Kepala BNN Maluku Utara, wajar saja kan kalau saya di lokasi untuk meÂlihat anak buah saya bertugas. Saya memang di lokasi saat itu, namun tidak sedang berada di dalam room karaoke," kata pria yang berniat menjadi calon Bupati Maluku Tengah 2017 itu.
Ely pun siap dites narkoba untuk membuktikan dirinya bersih. Ia terakhir melakukan tes narkoba pada Jumat (15/4), sehari sebelum razia. "Hasilnya negatif," sebutnya.
Pada hari yang sama, Ely mengaku menandatangani surat perintah razia. Razia dilakukan Sabtu, 16 April mulai pukul 23.00 malam WIT.
Sebelum melaksanakan kegiaÂtan razia tempat hiburan malam di Ternate, tim gabungan mengÂgelar apel malam di markas kantor Polisi Militer Ternate di Jalan Revolusi, Ternate Tengah, Kota Ternate.
Razia dimulai pukul 23.30 WIT dengan tujuan pertama Kafe D'stadion di Kelurahan Stadion Ternate Tengah, Kota Ternate. Di kafe itu, tim gabunÂgan memeriksa seluruh penÂgunjung dan pramuria selama 40 menit.
Pukul 24.15 WIT, tim gabunÂgan melanjutkan razia di Kafe Royal di Kelurahan Santiong. Di kafe inilah tim razia memerÂgoki Ely.
Kepala Humas Polda Maluku Utara Ajun Komisaris Besar Hendrik Badar membenarÂkan kabar Ely terjaring razia. "Laporan yang kami terima memang benar tim razia meliÂhat Pak Ely di tempat hiburan," katanya.
Kilas Balik
Buwas Tak Tolerir Personel BNN Yang Edarkan Narkoba
Sejak menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Budi Waseso bertekad melakuÂkan bersih-bersih di lembaga yang dipimpinnya. Ia tak akan mentolerir personel BNN yang "nakal".
"Kalau ada oknum-oknum begitu, pasti saya sikat habis. Yang seperti itu harus diberantas, bukan institusi tapi oknumnya. Pasti yang begitu sengaja," tegasnya.
Ketika menjabat Kepala Bareskrim Polri, Budi Waseso pernah menindak oknum penyidik yang nakal. "Ada oknum yang saya proses, sampai ditahan di Bareskrim dan disidik," ujarnya.
Menurut pria yang dijuluki Buwas itu, mengemban tugas seÂbagai Kepala BNN banyak tanÂtangannya. Sebab dia berhadaÂpan dengan jaringan pengedar narkoba tingkat lokal maupun mancanegara.
"Lawan saya di pertempuran ini adalah mereka yang ingin merusak negara dengan narkoba. Kalau generasi dirusak kan negara bisa rontok, masak mau negara kita dipimpin sama korÂban atau pengguna narkoba," imbuhnya.
Meski jaringan itu mengguÂrita bahkan melibatkan oknum aparat, Buwas tak gentar. Ia akan bersinergi dengan berbagai pihak untuk memberantas narkoba.
Buwas pun geram ketika menÂdengar kabar Iptu A, anggota BNN ditangkap mengedarkan sabu-sabut. Ia pun meminta oknum perwira pertama itu diÂhukum berat.
"Sudah dari awal saya masuk sini, semua harus tertib. Ikuti aturan hukum dan kita harus bisa jadi panutan dalam penegakan hukum. Siapa yang melanggar akan ditindak lebih tegas dan lebih berat," tegasnya.
Iptu Aditangkap anggota Reserse Narkoba Polres Metro Tangerang di kawasan Bogor. Ia diduga terlibat jaringan pereÂdaran sabu. Ketika dites narkoba, hasilnya positif.
Kepala Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar M Iqbal mengatakan, anggota Reserse Narkoba Polres Metro Tangerang memang tak berhasil menemuÂkan barang bukti ketika meÂnangkap Iptu A. "Tetapi yang bersangkutan positif memakai narkoba," ungkapnya.
Kasat Reserse Narkoba Polres Metro Tangerang, Ajun Komisaris Besar Juang menÂjelaskan, penangkapan perwira BNN itu bermula dari tertangÂkapnya tersangka J yang kedapaÂtan membawa sabu 2 gram.
Dari mulut J diperoleh ketÂerangan jika mendapat sabu dari temannya berinisial D alias Irul. Irul pun ditangkap dengan barang bukti 10 paket sabu siap edar.
Kepada penyidik, Irul menÂgaku sabu itu diperoleh dari perÂwira BNN aktif berpangkat Iptu berinisial A. "Akami amankan di Bogor saat berada di rumah sauÂdaranya. Kami masih melakukan pengembangan terkait peredaran narkoba yang dilakukan jaringan A," kata Juang. ***