Berita

Luhut Binsar Panjaitan:net

Wawancara

WAWANCARA

Luhut Binsar Panjaitan: Ada Yang Meninggal Yes, Tapi Tidak Sampai Ratusan Ribu, Apalagi Jutaan...

KAMIS, 21 APRIL 2016 | 09:25 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Senin dan Selasa lalu, Dewan Pertimbangan Presiden, Komnas HAM, Forum Solidaritas Anak Bangsa (FSAB) menggelar Simposium Nasional, yang membahas tentang tragedi 1965. Meski sempat menda­pat penolakan beberapa pihak, namun Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan menye­but acara berjalan dengan baik.

Ditemui di Universitas Indonesia, Depok, kemarin, Luhut menegaskan lagi komitmen pe­merintah menyelesaikan masalah tersebut. Dia juga menegaskan, pemerintah tidak akan meminta maaf kepada pihak manapun.

"Kita minta maaf ke siapa? Kalau ada bukti ya kita gali, termasuk kuburan massalnya. Saya malah minta, kalau ada yang punya buktinya, kita gali saja kuburan massalnya, jadi kita tidak hanya berwacana saja," ujar bekas Kepala Staf Presiden tersebut. Berikut petikan wawancaranya:


Bagaimana gelaran Simposium Tragedi 1965?
Saya pikir berjalan dengan sangat baik.

Sangat baik seperti apa?
Semua dibicarakan dengan sangat jelas. Pemerintah, kita itu ingin menyelesaikan masalah ini dengan baik. Ada yang ribut soal penyelesaian yudisial dan non yudisial.

Jadinya bagaimana?
Kalau tidak ada alat bukti yang bisa menjelaskan, kenapa dibikin ribut. Kalau ada yang meninggal pada 65, yes, tapi jumlahnya, saya ulangi, jumlah­nya tidak seperti yang disebut-sebut sampai 400 ribu, apalagi sampai jutaan.

Anda yakin tidak sampai segitu?
Yang kita lihat, tidak ada alat bukti yang menjelaskan kor­ban sampai segitu. Saya malah minta, kalau ada yang punya buktinya, kita gali saja kuburan massalnya, jadi kita tidak hanya berwacana saja.

Desakan negara minta maaf, bagaimana?
Kita minta maaf ke siapa? Kalau ada bukti ya kita gali, termasuk kuburan massalnya.

O...iya, perkembangan pe­nyanderaan oleh Abu Sayyaf bagaimana?
Kita sekarang masih moni­tor, seperti saya katakan ke­marin, yang 10 orang itu sedang melakukan finalisasi, kita tunggu saja hasilnya.

Finalisasi, artinya perusa­haan memberikan tebusan?
Kira-kira begitu yang saya tahu.

Selama ini pemerintah ber­sikeras tidak menuruti uang tebusan?
Mengenai uang tebusan itu sepenuhnya urusan perusahaan.

Kondisi sandera saat ini bagaimana?
Menurut mereka masih baik, dari hasil pembicaraan telepon kemarin.

Soal kemungkinan TNI masuk Filipina?
Tidak akan pernah bisa masuk kalau tidak ada persetujuan kongres. Karena itu Undang-Undang Filipina melarang ten­tara masuk wilayahnya.

Bagaimana keempat WNI lain yang belakangan diculik?
Empat itu masih kita teliti.

Maksudnya?
Karena begini, kita melihat apakah ini ada kaitan politik, atau sekadar masalah duit tebu­san seperti di Somalia.

Jadi sebenarnya pelakunya Abu Sayyaf atau perompak?
Kita masih belum tahu. Kita sedang mendalami. Tapi ke­mungkinan kapal tersebut diba­jak sempalan-sempalan Abu Sayyaf.

Penculikan atau perom­pakan belakangan terjadi di perbatasan Indonesia, apa langkah pemerintah?
Untuk pengamanan di wilayah tersebut, seperti yang sudah saya sampaikan, nanti tanggal 3 Mei, Menteri Luar Negeri (Menlu) Malaysia, Filipina, bertemu den­gan Menlu Retno di Jakarta.

Hanya antara Menlu?
Nggak. Ada juga pertemuan antara panglima angkatan ber­senjata Malaysia dan Filipina dengan (Panglima TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo.

Apa saja yang akan dibi­carakan?

Membicarakan mengenai kemungkinan melaksana­kan patroli bersama. Untuk menghindari tindakan-tindakan seperti di perairan wilayah Somalia. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya