Berita

foto:net

On The Spot

Jumlah Jamaah Masjid Luar Batang Meningkat

Khawatir Masjid Bersejarah Digusur
JUMAT, 15 APRIL 2016 | 09:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Adzan zuhur berkumandang. Jamaah berduyun-duyun memenuhi shaf terdepan. Sejurus kemudian, empat shaf terdepan terisi penuh. Begitulah pemandangan di Masjid Jami Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, kemarin.

Usai sholat, Fadli tidak terburu-buru pulang. Warga Tangerang ini terlebih dahulu berziarah sejenak ke makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus, pendiri Masjid Luar Batang. Lokasinya berada persis di serambi depan sebelah kiri masjid yang dibangunpada 1739 ini.

"Hampir tiap minggu saya ke sini sambil berjaga-jaga agar penggusuran tidak berlangsung," kata Fadli penuh semangat.


Semakin hari, jamaah masjid yang berada di tengah-tengah permukiman padat penduduk Kampung Luar Batang ini, se­makin membludak. Pasalnya, masjid kramat ini dikabarkan akan dibongkar Pemerintah Provinsi (Provinsi) DKI Jakarta.

Maklum saja, tak jauh dari masjid, tepatnya di Pasar Ikan, puluhan beko telah meluluh-lantakkan puluhan rumah yang menurut Pemprov DKI, berdiri di atas lahan milik negara.

Puluhan spanduk warna putih berukuran besar yang berisikan penolakan warga atas penggusuran rumah-rumah tersebut, masih membentang di sepanjang jalan menuju masjid. Padahal, penggusuran telah dilakukan Pemprov DKI.

Spanduk serupa juga masih terpasang di halaman masjid. Isinya, "Keberadaan Masjid Jami Keramat Luar Batang dan masyarakat sekitar adalah satu kesatuan dalam sebuah situs sejarah Kampung Luar Batang". Spanduk itu ditulis dengan tinta merah dengan huruf besar.

Keberadaan masjid cukup mencolok dari kejauhan karena dua menara menjulang tinggi berbentuk runcing. Siang itu, masjid ini cukup ramai didatangi para jamaah. Di serambi masjid, terlihat puluhan orang meman­jatkan doa di makam pendiri masjid. Masuk ke dalam ruang utama, karpet warna merah ter­hampar luas.

Di tengah-tengah, berdiri be­lasan pilar beton dengan ukuran sama. Untuk mengusir panas, tersedia kipas angin yang di­pasang di segala penjuru.

Masjid yang berdiri sejak tiga abad lalu ini, sudah mengalami renovasi dalam skala besar tahun 1991. Kubah masjid yang se­mula berbentuk bawang, diganti dengan kubah joglo. Selain itu, lantai kayu dan ubin sudah di­ganti dengan keramik dan batu granit. Di dalam masjid juga terdapat sejumlah kamar untuk para peziarah ataupun musafir yang datang atau singgah.

Fadli mengaku akan berkun­jung setiap hari ke masjid ini, sampai betul-betul masjid ini tidak akan digusur Pemprov DKI Jakarta. "Hati saya belum tenang," tandasnya.

Senada, Fauzi, peziarah asal Lampung mengaku sengaja jauh-jauh datang ke masjid ini karena mendengar kabar Masjid Luar Batang akan dibongkar. "Saya penasaran sekali, apakah benar pemerintah tidak akan membongkar masjid ini," tanya Fauzi dengan wajah sedih.

Pria berumur 35 tahunan ini mengingatkan, Masjid Luar Batang merupakan cagar budaya yang seharusnya dilestarikan, bukan dibongkar.

Tidak sendirian, Fauzi ber­sama 20 temannya melakukan perjalanan religi hampir setiap satu bulan sekali. "Kalau sampai dibongkar, saya akan jaga masjid ini sampai titik darah pengha­bisan," tegasnya.

Juga, Sholeh, warga Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara ini belum yakin betul masjid ini tidak akan digusur. Dia pun mengaku sedih jika Masjid Luar Batang digusur Pemprov DKI Jakarta. Sebab, masjid yang dibangun Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus pada 1739 itu, mempunyai banyak sejarah bagi warga sekitar. "Banyak banget kenangannya," tutur Sholeh dengan mata berkaca-kaca.

Menurut sejarah yang dike­tahuinya, masjid ini berdiri di atas tanah hadiah dari Gubernur Jenderal VOC dan memiliki sejarah yang panjang. Bahkan, di dalam masjid itu juga terdapat makam pendirinya, yakni Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. "Dari kecil saya itu aktif di masjid. Tadarus, buka puasa bersama. Belum lagi kalau ada acara ziarah, makin banyak jamaahnya," tuturnya dengan wajah sedih.

Untuk itu, Sholeh berharap agar Pemerintah DKI betul-betul tidak menggusur masjid ini. "Kalau dirobohkan, saya tak tahu bagaimanajadinya nanti," ucapnya.

Sementara, Sekretaris Masjid Jami Kramat Luar Batang, Mansur Amin mengakui, akhir-akhir ini pengunjung masjid mem­bludak hingga 200 sampai 300 orang setiap harinya.

"Biasanya paling banyak 100 orang. Itu juga Sabtu dan Minggu atau waktu libur, karena banyak yang ingin berziarah saja," kata Mansur, kemarin.

Banyaknya warga yang men­datangi masjid, kata Mansur, karena mereka mendengar isu masjid ini akan dibongkar Pemprov DKI.

Pria berumur 50 tahun ini mengatakan, peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Jakarta, akan tetapi berasal dari berbagai daerah. Seperti, Banten, Lampung, Palembang. "Bahkan dari luar negeri juga banyak. Kedatangan mereka selain ingin berziarah, juga untuk melihat langsung Masjid Luar Batang ini," ucapnya.

Mansur mengaku tidak tenang akhir-akhir ini, karena kabar ren­cana penggusuran Masjid Luar Batang semakin santer terden­gar. Padahal, beberapa hari sebe­lum penggusuran rumah warga di Pasar Ikan, Kampung Luar Batang, pihak aparat kecamatan datang ke pengurus masjid dan menjamin tidak akan menggusur masjid bersejarah ini. "Tapi apa mereka bisa menjamin selamanyatidak akan digusur?" tanya dia dengan berapi-api.

Bila Pemerintah DKI ingkar janji, Mansur menyatakan akan terjadi penolakan luar biasa dari masyarakat. "Bahkan akan lebih besar penolakannya dibanding pembongkaran makam Mbah Priok di Tanjung Priok," ucapnya.

Sebab, pria yang rambutnyasu­dah mulai memutih ini mengaku, setiap hari menerima ratusan sms dan telepon dari ulama dan umat Islam dari seluruh daerah yang menanyakan kabar pem­bongkaran masjid bersejarah ini. "Kalau sampai dibongkar, mereka siap bergerak ke Jakarta dan menjaga masjid ini," tandasnya.

Hal lain yang membuat dirinya miris, bukan soal pembongkaran masjid, tapi banyaknya warga Pasar Ikan yang kehilangan rumah dan mata pencahariannya karena rumahnya dirobohkan pemerintah. "Akhirnya mereka banyak mengadu ke pengurus masjid, meminta bantuan makandan uang untuk kehidupan se­hari-hari," ucap Mansur sambil menyeka air matanya.

Selain itu, ketakutan dia se­lanjutnya adalah jika penggu­suran terhadap warga Pasar Ikan bukan sepenuhnya untuk ke­pentingan publik. "Tapi untuk kepentingan pengembang besar yang ingin menguasai wilayah sini," khawatirnya.

Sebab, Mansur mengaku mendengar selentingan bahwa Kampung Pasar Ikan akan di­jadikan apartemen yang masih bagian dari rencana reklamasi.

Namun apapun alasannya, ka­ta Mansur, Masjid Luar Batang tidak boleh digusur. "Ini milik umat. Kalau digusur umat yang akan marah," tandasnya.

Terpisah, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memastikan, tidak akan menggusur Masjid Luar Batang. Bahkan, Ahok berjanji akan memperindah masjid tersebut.

"Justru nanti Masjid Luar Batang jadi cantik. Kalau dilihat dari laut, masuk dari Sunda Kelapa, dari Museum Bahari, langsung lihat masjid," ujar Ahok.

Ahok juga mengaku akan memberikan lampu di tower masjid agar bisa terlihat dari kejauhan. "Selasar kita kasih lampu LED, sehingga malam indah banget," janjinya.

Adanya isu penggusuran masjid, Ahok meminta Satpol PP me­waspadai potensi penghasutyang menggerakkan massa melawan penertiban. Para penghasut itu diperkirakan akan menggunakan isu masjid Luar Batang bakal digusur. "Gila, ini teknik untuk menggerakkan massa. Mereka pasti mau mati, mau berdarah karena masjidnya digusur," tandasnya.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, bekas ang­gota DPR ini meminta petugas Satpol PP membuat pengumu­man melalui pengeras suara, bahwa pemerintah tidak akan melakukan penggusuran terh­adap masjid ini.

Selain itu, lanjut bekas Bupati Belitung Timur ini, pengumu­man tersebut perlu disampai­kan berulang-ulang, sehingga masyarakat jelas bahwa Masjid Luar Batang yang bersejarah tidak akan digusur. "Ini tidak ada hubungannya dengan masjid," pungkasnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya