Berita

foto:net

On The Spot

Polres Jaring Pendapat Soal Kenaikan Biaya SKCK

Ada Yang Setuju, Ada Yang Tidak
KAMIS, 14 APRIL 2016 | 09:27 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Biaya pembuatan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) bakal naik tiga kali lipat. Pasalnya, pemerintah bakal menerapkan aturan baru tentang penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Rencana kenaikan biaya pembuatan SKCK, tidak terlalu berpengaruh dengan antusiasme warga yang tetap memadati Markas Kepolisian Resor Jakarta Barat (Polres Jakbar) di Jalan S Parman Nomor 31, Jakarta Barat, kemarin.

Saiful contohnya. Pemuda ini terlihat sibuk menyiapkan berkas yang dibungkus rapi ke dalam map warna biru. Beberapa lembar berkas yang tidak pent­ing, dimasukkan ke dalam tas punggung yang dibawanya. Warga Cengkareng, Jakarta Barat ini lantas berdiri sambil menunggu di dekat loket pembuatan SKCK.


Tak lama kemudian, salah seorang petugas memanggil namanya untuk mengambil for­mulir SKCK. "Mau buat SKCK buat daftar masinis," ujar Saiful di Polres Jakbar, kemarin.

Awal pekan ini, Kepolisian membuat aturan baru biaya pembuatan SKCK. Bagi Warga Negara Indonesia (WNI) dikenakan biaya Rp 30 ribu, semula hanya Rp 10 ribu. Sementara, Warga Negara Asing (WNA), yang tadinya hanya Rp 30 ribu, naik menjadi Rp 60.000.

Kebijakan baru tersebut, tidak menyurutkan langkah warga yang tetap antusias membuat surat catatan berkelakuan baik. Ruang pelayanan pembuatan SKCK yang tidak terlalu besar, penuh dengan puluhan orang. Saking penuhnya, kursi panjang yang disediakan tidak mampu menampung pemohon yang membludak. Beberapa dari merekamemilih berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Sembari menunggu, puluhan pemohon sibuk mempersiap­kan syarat pembuatan SKCK. Seperti, surat pengantar dari kelurahan, foto copy dua lembar, foto copy Kartu Keluarga (KK) dua lembar, fotocopy akte satu lembar. Selain itu, foto warna 4X6 lima lembar warna merah, dan foto copy paspor bagi yang ke luar negeri. Kendati biaya pembuatan SKCK akan dinaik­kan, namun tidak terlihat pen­gumuman rencana kenaikan tersebut di loket.

Saiful mengaku keberatan dengan rencana kenaikan terse­but karena langsung tiga kali lipat. "Kenaikan itu sangat berat. Apalagi saya baru lulus kuliah," keluhnya.

Kendati demikian, dirinya mengaku tetap harus membuat SKCK karena salah satu per­syaratan wajib untuk mendaf­tar masinis. "SKCK juga harus dibuat di Polres karena mendaf­tar kerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN)," sebut dia.

Kalau mendaftar kerja di tem­pat kerja swasta, kata pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak ini, cukup dengan SKCK yang dibuat di Polsek.

Saiful mengaku bersyukur karena kenaikan tersebut baru akan dilakukan bulan depan. "Jadi saya buru-buru membuat seka­rang agar tidak kena tarif baru," kata Saiful dengan tersenyum.

Berbeda, Noni salah seorang warga Palmerah, Jakarta Barat, mengaku tidak keberatan dengan rencana kenaikan pembuatan SKCK. Pasalnya, surat tersebut sangat penting untuk mendaftar di perusahaan.

"Kalau tak ada surat itu, kita tak bisa lamar kerja," kata wanita berumur 30 tahunan ini.

Selain itu, wanita berjilbab ini juga menganggap wajar kenaikan tersebut, karena tugaspolisi cukup berat dengan pelayanan pembuatan SKCK. "Coba kalau ramai, polisi berat juga tuhngurusi surat tersebut," tandasnya.

Untuk itu, dia meminta kepada pihak Polres untuk melakukan sosialisasi atas rencana kenaikan tersebut. "Tadi saya sudah dapat formulir dari polisi soal tanggapan warga atas rencana kenaikan biaya pembuatan SKCK," kata dia.

Noni mengaku akan segera mengisi formulir tersebut dan setuju atas kenaikan tersebut. "Tak apa-apa kalau cuma naik segitu. Kan tak tiap hari. Setahun juga belum tentu juga," tutupnya.

Sementara, Taufik, koordina­tor petugas pelayanan SKCK di Polres Jakbar mengatakan, pihaknya belum menaikkan biaya pembuatan SKCK sesuai dengan tarif baru tersebut. "Tarifnya masih lama, Rp 10 ribu untuk WNI dan Rp 30 ribu buat WNA," sebut Taufik, kemarin.

Untuk rencana kenaikan biaya pembuatan SKCK, Taufik men­gaku sudah melakukan sosial­isasi dengan cara mengedarkan formulir persetujuan kepada para pemohon. "Nantinya formulir tersebut akan diisi oleh pemohon dan akan direkap bagaimana tanggapan mereka atas kenaikan tersebut," ujarnya.

Untuk saat ini, lanjut dia, for­mulir masih dikumpulkan terus dan belum direkap. "Kalau su­dah terkumpul semua akan kami rekap dan diserahkan ke Polda Metro Jaya," kata pria berumur 40 tahunan ini.

Terkait pemohon pembuatan SKCK, Taufik mengatakan, jum­lahnya sangat relatif tergantung momen saja. "Paling sedikit 10 orang. Tapi kalau diambil rata-rata 40 orang setiap harinya," sebut dia.

Namun, bila ada momen penting seperti penerimaan guru honorer awal Januari lalu, kata Taufik, yang membuat surat permohonan SKCK bisa mem­bludak sampai 100 orang.

Dia mengklaim, pembuatan SKCK akan selesai dalam waktu beberapa jam saja, asalkan per­syaratannya lengkap. "Tapi kalau pendaftarnya membludak bisa lama. Tapi tak sampai dua hari," tandasnya.

Sementara, Kasubag Humas Polres Jakbar Heru Yulianto mengatakan, Polres Jakbar saat ini baru melakukan sosialiasi terhadap rencana kenaikan biaya pembuatan SKCK. "Kami baru melakukan sosialisasi selama tiga hari," kata Heru kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Sosialisasi yang dilakukan Polres Jakbar, kata Heru, dengan membagikan formulir pernyataan sikap warga terkait kenaikan tersebut. Nantinya, pendapat warga, lanjut dia, akan direkap menjadi satu dan diserahkan ke Polda Metro Jaya. "Hari Kamis (14/4) hasil pendapat warga yang berasal dari seluruh Polres akan dikumpulkan di Polda Metro Jaya," tandasnya.

Setelah pendapat warga di­kumpulkan, lanjut Heru, Polda baru akan mengambil sikap apakah akan menaikkan biaya pembuatan SKCK atau tidak. "Jadi keputusannya menunggu Kamis besok," ucapnya.

Yang pasti, kata dia, kenai­kan biaya pembuatan SKCK akan langsung masuk ke kas negara. "Sekarang terkumpul uangnya, besok uangnya lang­sung ditransfer ke kas negara," pungkasnya. ***

Populer

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

UPDATE

Tokoh Pemuda Papua Soroti Ancaman Provokasi Asing dalam Film Pesta Babi

Kamis, 28 Mei 2026 | 00:10

Geopolitik Tembaga: Peran Indonesia dalam AI Supply Chain

Rabu, 27 Mei 2026 | 23:43

Pakar IPB Ungkap Fakta di Balik Perbedaan Daging Kurban

Rabu, 27 Mei 2026 | 23:17

Athari Gauthi Tebar Sapi Kurban Lewat Jalur Parlemen Daerah

Rabu, 27 Mei 2026 | 22:30

AMPI Gerakkan Solidaritas Pemuda Lewat Penyaluran Kurban Sapi

Rabu, 27 Mei 2026 | 21:46

PTK Pastikan Operasional Maritim Tetap Jalan Selama Libur Iduladha

Rabu, 27 Mei 2026 | 21:37

Menlu Sugiono: Kunjungan Prabowo ke Prancis Penuhi Undangan Macron

Rabu, 27 Mei 2026 | 21:10

Purbaya Samakan Dirinya dengan Nabi Yusuf: Sama-sama Menteri Keuangan

Rabu, 27 Mei 2026 | 21:08

Jokowi Ingin Pamer Kekuatan ke Prabowo

Rabu, 27 Mei 2026 | 20:56

Istana: 1.098 Sapi Kurban Merupakan Bantuan Pemerintah lewat Banpres

Rabu, 27 Mei 2026 | 20:33

Selengkapnya