Berita

foto: istimewa

Dirjen WTO Salut Peran Indonesia Sangat Konstruktif

RABU, 13 APRIL 2016 | 19:35 WIB | LAPORAN:

Presiden Joko Widodo menerima kunjungan Direktur Jenderal World Trade Organization (WTO), Roberto Azevedo, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/4).

Presiden sendiri didampingi oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, dan Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir.

Usai pertemuan, Thomas Lembong menjelaskan bahwa pertemuan Dirjen WTO dengan presiden tersebut membicarakan tentang kondisi terkini perdagangan dunia sekaligus melaporkan hasil dari "10th Ministerial Conference" yang telah dilaksanakan di Nairobi pada 19 Desember yang lalu.


"Beliau menyampaikan apresiasi kepada bapak Presiden atas peranan Indonesia yang sangat konstruktif di WTO. Antara lain tiga tahun yang lalu ada KTT WTO di Bali. Itu keberhasilannya luar biasa,” jelas Menteri Perdagangan dalam keterangan pers usai pertemuan.

Lebih jauh, WTO juga memberikan pujian atas agenda reformasi ekonomi yang saat ini sedang dilakukan di Indonesia. Roberto secara khusus menyebutkan bahwa reformasi perekonomian di Indonesia dijadikan contoh oleh banyak negara di seluruh dunia.

Kesempatan tersebut juga dimanfaatkan oleh Presiden Joko Widodo untuk menjelaskan kepada WTO mengenai upaya-upaya pemerintah Indonesia untuk memperbaiki kondisi perekonomian yang salah satunya dengan cara deregulasi.

"Bapak Presiden juga menerangkan kepada Azevedo mengenai program deregulasi dan 11 paket kebijakan yang sudah diterbitkan. Kira-kira itu inti pembicaraan tadi,” tambahnya.

Ketika ditanya oleh awak media apakah upaya-upaya tersebut dilihat secara positif oleh WTO, Thomas menjelaskan bahwa posisi Indonesia cukup istimewa di mata WTO karena Indonesia berada di antara negara besar dan kecil sehingga bisa menjembatani semua negara anggota.

"Posisi Indonesia cukup istimewa karena kita negara yang besar namun tidak meraksasa, menjadi anggota G20 tetapi masih termasuk dalam negara berkembang. Jadi kita pas berada di tengah-tengah antara negara besar dengan negara kecil, negara kaya dengan negara berkembang. Jadi kita bisa bicara dengan semua. Oleh karena itu membuat posisi Indonesia menjadi istimewa dan strategis,” demikian Thomas. [sam]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya