DALAM rangka memperingati Hari Kesehatan Sedunia tahun 2016, di mana tahun ini merupakan tahun yang sangat istimewa, karena terdapat dua indikator penting di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang telah berhasil dicapai yaitu penurunan prevalensi stanting atau anak balita pendek menjadi 29,0 persen dan kenaikan prevalensi ASI Eksklusif menjadi 65,1 persen. Data ini merupakan hasil Survei Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan pada tahun 2015 di 496 kabupaten dengan jumlah sampel sebanyak 165.523 balita.
ASI eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) yang dimulai sejak bayi lahir tanpa memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI selama 6 bulan. ASI eksklusif memiliki kontribusi yang besar terhadap tumbuh kembang dan daya tahan tubuh anak. Anak yang diberi ASI eksklusif akan tumbuh dan berkembang secara optimal dan tidak mudah sakit. Kajian global telah membuktikan bahwa menyusui eksklusif menurunkan angka kematian karena infeksi sebanyak 88 persen pada bayi berusia kurang dari 3 bulan dibandingkan tidak menyusui (The Lancet Breastfeeding Series, 2016)
Stanting merupakan masalah kurang gizi kronis yang terjadi sejak janin masih berada di dalam kandungan dan akan terlihat saat anak berusia dua tahun. Keadaan kekurangan gizi ini dapat menyebabkan penderitanya mudah jatuh sakit dan memiliki ciri postur tubuh tidak maksimal saat dewasa. Tidak hanya itu saja, kemampuan kognitif juga berkurang, sehingga dalam jangka waktu yang panjang hal ini dapat mengakibatkan kerugian ekonomi. Stanting terjadi tidak hanya karena faktor langsung seperti kurangnya asupan gizi saja, namun faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan juga berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak, karena anak usia di bawah dua tahun sangat rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.
Contoh praktik sanitasi dan kebersihan yang kurang baik, seperti Buang Air Besar (BAB) sembarangan dapat menyebabkan infeksi bakteri kronis. Riset yang dilakukan oleh Schmidt, Charles W. (2014)menemukan bahwa semakin sering seorang anak menderita diare, maka semakin besar pula ancaman terjadinya stanting (Beyond malnutrition: the role of sanitation in stunted growth). Rendahnya praktik sanitasi dan kebersihan lingkungan juga dapat memicu gangguan saluran pencernaan, sehingga asupan energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan dialihkan fungsinya menjadi pertahanan dan perlawanan tubuh untuk menghadapi infeksi.
Melihat hal itu, intervensi gizi secara langsung saja tidak cukup, namun diperlukan intervensi sensitif lain yang difokuskan pada perubahan perilaku dalam aspek sanitasi dan kebersihan. Laporan dari Journal Lancet 2015 menyebutkan bahwa intervensi sanitasi dan kebersihan dengan jangkauan 99 persen berdampak terhadap menurunnya kejadian diare sebesar 30 persen, yang kemudian dapat menurunkan prevalensi stanting sebesar 2,4 persen.
Untuk memotong mata rantai buruknya sanitasi dan kebersihan yang dikaitkan dengan stanting, terdapat dua langkah utama yaitu dengan tidak membuang air besar sembarangan dan mencuci tangan dengan sabun. Kedua cara ini merupakan pilar yang sangat penting dalam program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) sehingga ibu hamil dan anak hidup dalam lingkungan yang bersih dan sehat.
Kabupaten Magetan : Sebuah Contoh Keberhasilan
Pada tahun 2014 Kabupaten Magetan mendapat predikat kabupaten 100 persen bebas Buang Air Besar (BAB) sembarangan atau ODF (Open Defecation Free). Keberhasilan ini telah lama dirintis, yaitu sejak tahun 1982 di sebuah desa dengan diberlakukannya Inpres Jamban dan Inpres Samijaga oleh pemerintah waktu itu. Desa tersebut berhasil mencapai ODF pada tahun 2009 dan selanjutnya ditularkan melalui gencarnya Instruksi Bupati untuk gerakan MAGETAN BERSERI yang turut mendorong semua pihak bergerak mewujudkan hidup sehat. Hal tersebut telah membuat Kabupaten Magetan berhasil meningkatkan sebanyak 40 persen rumah tangga yang mencapai ODF dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. Seluruh komponen yang terdiri dari Forum Kota sehat, PKK, PNPM, Wirausaha sanitasi dan dharma wanita bersatu padu mendukung, sehingga pencapaian 100 persen kabupaten ODF dapat tercapai. Untuk mencapai hal ini tentu saja tidak mudah, sebab program ini memerlukan kesabaran dan strategi untuk mengubah perilaku masyarakat dari kebiasaan BAB sembarangan baik di sungai maupun di kebun menjadi kebiasaan BAB di tempat yang bersih dan sehat.
Dengan di dukung oleh indikator gizi spesifik seperti pencapaian 91 persen ibu hamil telah memeriksakan kesehatan sebanyak empat kali selama kehamilan; 93 persen ibu hamil telah mendapat tablet zat besi; 100 persen anak usia 6-59 bulan mendapat vitamin A; dan 98 persen bayi telah mendapatkan imunisasi lengkap, sehingga dalam waktu tiga tahun (2012-2015) dapat menurunkan prevalensi stanting sebesar 10,5 persen dari 32,5 persen pada tahun 2012 menjadi 22 persen pada tahun 2015 (Sumber data: Laporan rutin Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan).
Prestasi yang telah dicapai oleh Kabupaten Magetan setidaknya telah memberikan gambaran kepada kita semua bahwa keberhasilan program gizi dan kesehatan lingkungan sangat penting dalam penurunan stanting. Hal penting lainnya, diperlukan Integrasi antara program gizi dan kesehatan lingkungan. Jean Humphrey, seorang Professor Ilmu Gizi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menyatakan bahwa,â€perbaikan konsumsi gizi masyarakat memang penting, akan tetapi tidak cukup bila kita ingin mencegah dan mengeliminasi stanting, diperlukan intervensi lain yang lebih dari ituâ€.
Peranan perbaikan sanitasi lingkungan khususnya melalui program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) perlu di-integrasikan. Integrasi yang dimaksud disini yaitu, antara program gizi dan kesehatan lingkungan harus mempunyai komponen dan sasaran RT atau keluarga yang sama serta terjalinnya komunikasi yang aktif antara pelaksana kedua program tersebut. Bukan integrasi yang bersifat konvergensi, dimana kedua program mempunyai tujuan yang sama, namun dalam pelaksanaan masih terjadi tumpang tindih terutama terhadap sasaran dan tidak adanya komunikasi yang terjalin antara pemangku kedua program tersebut.
Belajar dari keberhasilan Kabupaten Magetan sebagai suatu cara (Modelling the way), tentu saja masih diperlukan studi yang lebih mendalam dan bersifat kualitatif, untuk dapat mengeksplorasi lebih detail faktor-faktor yang signifikan yang membuat keberhasilan tersebut terjadi. Namun, setidaknya dapat diasumsikan bahwa disana telah sukses menciptakan komponen keberhasilan program gizi dan lingkungan yaitu dengan menciptakan kebutuhan (demand) akan pentingnya penggunaan jamban sehat serta mendekatkan supply terhadap masyarakat dan adanya lingkungan yang benar-benar mendukung kegiatan tersebut (enabling environment).
Semoga keberhasilan Kabupaten Magetan ini dapat direplikasikan kepada daerah lain, terutama kepada daerah prioritas di Indonesia yang prevalensi stantingnya masih cukup tinggi.
[***]
Ir.Doddy Izwardy,MA
Direktur Gizi Masyarakat, Kemenkes RI