Berita

foto :net

Kesehatan

Masih Banyak Anak Autis Belum Peroleh Terapi

SABTU, 02 APRIL 2016 | 11:37 WIB | LAPORAN:

Autis adalah suatu kondisi seseorang sejak lahir atau masa balita yang membuatnya kesulitan melakukan hubungan sosial atau komunikasi secara normal. Kondisi seperti ini menyebabkan pertumbuhan anak mengalami hambatan dengan lingkungan sosialnya yang disebabkan oleh gangguan perkembangan syaraf otak.

Pada setiap tanggal 2 April, warga di seluruh dunia menyuarakan kepeduliannya terhadap penyandang Autis. Berbagai kegiatan pun disuguhkan yang melibatkan penyandang Autis dan keluarganya, masyarakat juga pemerintah.

Menurut pimpinan Rumah Autis Bandung Hasanah, Juju Sukma, diskriminasi, cibiran dan perlakuan tidak manusiawi masih diterima para penyandang autis dan keluarganya. Padahal dukungan moral dari masyarakat akan membuat anak autis dan keluargannya lebih kuat menghadapi semua ini.


"Oleh karena itu perlu sosialisasi kepada masyarakat tentang Autis melalui berbagai media," kata Juju menegaskan.

Ia berharap perayaan hari autis dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat dan menerima keberadaan penyandang autis.

PBB atas usulan Qatar menetapkan tanggal 2 April sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia. Wakil delegasi PBB dari Qatar, Nassir Abdelaziz Al Nassir dikenal di negaranya sebagai aktivis pembela hak asasi individu penyandang cacat telah berhasil mengangkat masalah Autisme sebagai salah satu agenda tahunan PBB dan mendapatkan dukungan suara bulat dari 50 negara anggota PBB (1989) di Indonesia Gerakan Peduli Autis Mulai Semarak tahun 2007 yg di prakarsai oleh Yayasan Autis Indonesia (Hari-Hari Besar Internasional).

Sejak saat itu kita turut menyuarakan kepedulian terhadap Autisme. Jakarta sebagai ibukota negara sudah konsisten melaksanakan kegiatan tersebut, begitu juga di Kota Bandung, yang pada kesempatan ini Rumah Autis Bandung - Hasanah bersama beberapa komunitas Peduli Autis besok (Minggu, 3/4) akan menggelar peringatan Hari Peduli Autis se Dunia di Car Free Day - Dago.

Juju menjelaskan, penelitian tentang autisme di Indonesia sangat minim. Di samping kurangnya perhatian dan kepedulian pemerintah juga biaya yang cukup tinggi sehingga sampai saat ini tidak ada data statistik yang valid mengenai jumlah maupun sebaran daerah di mana para penyandang autis berada.

Penanganan anak Autis oleh pemerintah pun hanya menggunakan pendekatan charity (belas kasihan) berupa program santunan sosial yang kemudian menjadi akar ketergantungan.

"Budaya kita yang tidak siap jika dalam keluarga terdapat anak-anak Autis, ini membuat para orang tua berlaku tidak adil dengan selalu menempatkannya diprioritas paling akhir bahkan banyak ditemukan penyandang autis dikucilkan dan ditutup-tutupi oleh keluarganya sendiri sehingga pelan tapi pasti akan membentuk kepribadian tertutup pada sang anak.

Kemudian lingkungan yang masih belum sepenuhnya menerima mereka. "Masih banyak anak Autis di kota Bandung yang belum mendapatkan terapi atau sekolah," tegas Juju.

Hal ini, lanjut Juju terjadi karena ketidaktahuan orang tua, sedikitnya tempat layanan terapi atau sekolah yang tersedia, serta biaya terapi dan konsultasi yang mahal.

"Seharusnya mereka mendapatkan program terapi sejak dini, karena semakin dini penanganan akan semakin baik. Jika semakin besar usia anak semakin sulit menuju perkembangan yang lebih baik," jelas Juju.[wid]



Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya