Berita

Natalius Pigai:net

Wawancara

WAWANCARA

Natalius Pigai: Sepanjang Kepemimpinan Presiden Jokowi, Pelanggaran HAM Terjadi Hampir Tiap Saat

JUMAT, 01 APRIL 2016 | 08:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Komitmen pemerintahan Presiden Joko Widodo ter­hadap persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) di bumi Papua kembali dipertanyakan. Karena dalam periode kepemimpinannya, tercatat ada 700 kasus pelanggaran di Papua. Ironisnya negara justru ditengarai menjadi ak­tor utama dari pelanggaran HAM tersebut.
 
"Strategi pertahanan dan keamanan di Papua tidak per­nah berubah dari masa ke masa. Konflik akan terus berlanjut meskipun presiden telah silih ber­ganti," kata Natalius saat berbin­cang dengan Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin. Berikut petikan wawancaranya:

Seperti apa bentuk pelang­garan HAM-nya?
Mulai dari ditangkap, disiksa, hingga dibunuh, dan itu hampir terjadi tiap saat.

Mulai dari ditangkap, disiksa, hingga dibunuh, dan itu hampir terjadi tiap saat.

Setiap saat?
Saya nggak mengatakan tiap hari lho. Tapi itu hampir terjadi tiap saat sepanjang kepemimpi­nan Presiden Jokowi. Secara keseluruhan itu tidak kurang dari 700 kasus. Tapi, aktivis di lapangan menyebut tidak hanya 700, sampai dua kali lipatnya, sekitar 1400 kasus.

Apa saja kasus yang menye­dot perhatian?
Selama 2015, setidaknya ada sembilan kasus besar terkait pe­langgaran HAM di Papua selama 2015. Di antara yaitu meninggal­nya 41 anak secara misterius di Kabupaten Nduga, penembakan di Yahukimo, penembakan di Dogiyai, kerusuhan di Tolikara, dan penembakan di Timika.

Selain itu, sedikitnya 500 orang Papua ditangkap di bawah masa kepemimpinan Jokowi dengan berbagai tuduhan ter­masuk makar. Kemudian ada juga kasus saham PT Freeport Indonesia, proyek MIFE di Merauke dan berbagai proyek pembangunan yang mengabai­kan masalah sosial warga ada.

Siapa pelaku pelanggaran HAM-nya?
Ya aparat-aparat Kepolisian maupun militer, dan juga aparat sipil pemerintahan.

Kenapa itu terjadi, karena strategi pertahanan dan keaman­an di Papua tidak pernah berubah dari masa ke masa. Karena itu, konflik akan terus berlanjut meskipun presiden telah silih berganti.

Lalu apa langkah dilakukan Komnas HAM yang saat ini terkait temuan tersebut?
Sampai saat ini masih melaku­kan pemantauan. Selain itu, Komnas HAM juga melaku­kan pendampingan terhadap para korban pelanggaran HAM. Seperti yang telah Komnas HAM lakukan terhadap para pengunjuk rasa asal Papua yang ditangkap ketika unjuk rasa di Bundaran HI pada 1 Desember 2015 lalu.

Sudah ada rekomendasi ke pemerintah?
Belum, belum. Komnas HAM masih terus melakukan peman­tauan dan penyelidikan.

Ada pelanggaran lain?
Iya ada. Yang saya sebutkan barusan masih pelanggaran HAM dalam bidang keamanan dan politik. Saya belum me­nyebutkan bidang-bidang lain seperti budaya, pendidikan, kesehatan, dan yang lain seba­gainya.

Memang seperti apa?
Di pemerintahan saat ini ada indikasi kuat terjadinya pem­berangusan terhadap institusi adat rakyat Papua yang telah tumbuh dan berkembang selama berabad-abad.

Hal ini merupakan diduga sebuah pelanggaran serius ter­hadap HAM khususnya di bidang kemanusiaan.

Sudah ada tindak lanjut pemerintah?

Pemerintah, lewat Menko Polhukam Luhut Panjaitan menye­but akan melakukan penyelesa­ian hukum terhadap pelanggaran HAM di Papua, dan itu patut diapresiasi.

Dan yang perlu saya ingatkan sekali lagi adalah, alangkah baiknya jika pemerintah melakukan pengurangan terhadap anggota TNI maupun Polri yang bertugas di Papua.

Kenapa harus dikurangi?

Karena dengan keberadaan tersebut, rakyat Papua merasa seperti terjajah di tanah mer­eka sendiri. Lebih baik pasukan tersebut ditempatkan di wilayah-wilayah perbatasan. Mereka leb­ih berguna melindungi wilayah perbatasan negara kita.

Lalu bagaimana cara ter­baik pendekatan keamanan di Papua?
Harus diubah menjadi pendekatan pembangunan dan ke­manusiaan. Pemerintah harus memanusiakan orang Papua dengan memutus mata rantai kejahatan kemanusiaan di Papua secara total, dan juga mengelu­arkan kebijakan yang berbasis penghargaan terhadap HAM. Kalau tidak, berbagai tragedi kemanusiaan akan tetap terjadi di Papua tiap tahunnya. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya