Berita

foto:net

On The Spot

Banyak Penumpang Pilih Ojek Pangkalan

Ketika Kopaja Ikutan Mogok Narik
KAMIS, 24 MARET 2016 | 09:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bukan cuma sopir taksi yang mogok pada Selasa (22/3). Sopir Kopaja pun melakukan aksi serupa hari itu. Akibatnya, banyak penumpang beralih menggunakan ojek pangkalan (opang) untuk mencapai tempat kerja mereka.

Panas terik menerpa kawasan Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Anis berdiri be­ramai-ramai di bawah pohon untuk menghindari panas. Lama menunggu, karyawan swasta yang bekerja di Palmerah ini, mulai bosan. Matanya kerap memelototi jam yang melingkar di tangan kirinya. "Kok tak ada Kopaja yang narik," keluh Anis.

Pagi itu, seluruh awak Kopaja yang beroperasi di Terminal Lebak Bulus, tidak narik. Beberapa penumpang bergerombol di pojok terminal. Sementara, 10 unit Kopaja 86 rute Lebak Bulus-Kota hanya teronggok di termi­nal. Para sopirnya duduk santai di mobilnya masing-masing.Sementara, kendaraan pengganti tidak kunjung datang.


Anis mengaku terpaksa menumpang ojek pangkalan agar bisa cepat sampai ke kantor yang berada di kawasan Palmerah. "Yang penting sampai kantor, walaupun sedikit mahal," keluhnya.

Wanita berumur 30 tahun ini, menghindari menumpang ojek online karena takut menjadi sasaran kemarahan sopir taksi kepada moda transportasi ber­basis aplikasi internet. "Hari ini terpaksa naik ojek pangkalan walupun harus bayar Rp 30 ribu. Padahal, kalau naik ojek online cuma Rp 15 ribu," ucapnya.

Wanita yang mengenakan jilbab ini berharap, masalah ini cepat selesai agar tidak meng­ganggu kegiatan masyarakat yang bekerja mencari nafkah.

Sementara, Sopir Kopaja rute Lebak Bulus-Kota, Cundra membenarkan seluruh Kopaja di Terminal Lebak Bulus stop operasi pada hari itu. "Kami terpaksa tidak beroperasi karena ajakan sopir lain. Soalnya kalau ketahuan sopir lain, bisa dirusak mobilnya," kata Chundra yang asyik duduk di jok mobilnya.

Padahal bila tidak dirusak, ka­tanya, dia mau narik karena ter­bentur kebutuhan hidup sehari-hari. "Kita sebetulnya butuh duit. Tapi mau gimana lagi. Dari pada mobil rusak, terus keluar banyak duit untuk memperbaiki, lebih baik stop dulu," tuturnya.

Untuk itu, dia berharap situasi kembali normal agar dirinya bisa narik lagi. "Sudah tidak ada uang lagi buat makan. Mau tak mau besok harus narik," ucapnya.

Situasi serupa juga terlihat di Terminal Blok M, Jakarta Selatan. Sejumlah Bus Kopaja dari berbagai jurusan yang biasa mangkal di terminal, berhenti beroperasi. Yang tersisa tinggal Metromini yang tetap beroperasi pada Selasa itu.

Walhasil banyak penumpangyang terlantar di terminal terse­but. Para awak Kopaja takut beroperasi karena khawatir men­jadi bulan-bulanan rekan-rekan­nya yang sedang mogok masal. Akibatnya, para penumpang angkutan umum kesulitan.

Demi menghindari penumpukan penumpang, petugas terminal akhirnya menyiagakan pulu­han bus sekolah untuk mengangkut penumpang ke berbagai tujuan yang angkutan umumnya stop operasi.

Selain itu, puluhan tukang ojeg pangkalan hilir mudik di terminal mengangkut penumpangyang terlantar, antara lain Marissa. Ibu rumah tangga ini mengaku sudah menunggu lama di terminal.

"Saya mau ke Terminal Kampung Rambutan. Tapi tak ada bus yang beroperasi. Sudah duajam menunggu tapi tak juga mun­cul," keluh Marissa, yang akan menumpang Kopaja T-57 jurusan Blok M-Kampung Rambutan.

Tak lama kemudian, keke­salannya sedikit terobati dengan datangnya bus sekolah yang khusus mengangkut penumpang untuk rute ke Terminal Kampung Rambutan.

Senada dengan Sulis. Warga Mampang ini juga mengaku akan ke kantornya yang berada di kawasan Kalibata. "Kopaja pada mogok, terpaksa naik ojek pangkalan," ujar wanita berumur 35 tahunan ini.

Walaupun tarifnya lumayan mahal, Sulis memilih naik ojek pangkalan, karena dirinya takut memesan ojek online. "Kalau naik ojek online, takut jadi sasa­ran kemarahan. Jadi naik ojek biasa saja," kata Sulis.

Sedangkan Henby, salah se­orang tukang ojek di Terminal Blok M mengaku dapat uang lumayan banyak saat demo sopir taksi. Sebab, penumpangnya naik tiga kali lipat. "Biasanya, saya paling banyak dapat 5 orang sehari. Hari ini sudah 15 orang," sebut Henby pada Selasa itu.

Para penumpang, kata pria bertubuh subur ini, biasanya meminta diantar ke kawasan yang dekat dengan terminal seperti Kebayoran Baru dan Kalibata. "Kalau jauh-jauh saya tidak mau, soalnya lagi banyak penumpang," ucapnya.

Saat ditanya berapa banyak duit yang didapatnya hari itu, Henby enggan membeberkannya. "Itu rahasia. Pokoknya lumayanlah untuk dibawa pulang," tutupnya.

Kepala Terminal Blok M, Mulya menjelaskan seluruh armada Metromini tetap beroperasi pada hari itu. Sedangkan Kopaja stop operasi. Seperti, Kopaja P-19 Blok M-Tanah Abang, T-57 jurusan Blok M-Kampung Rambutan, S-605 Blok M-Ragunan, S-66 Blok M-Manggarai dan S-63 Blok M-Depok. "Info yang saya teri­ma dari pengelola Kopaja dengan mengimbau supaya off, khawatir disweeping dan jadi korban aksi anarkis," ujar Mulya.

Sementara, Purnomo, Korlap Satpol PP Kecamatan Kebayoran Baru mengatakan, pihaknya mengerahkan 4 mobil operasionaldan 1 truk untuk mengangkut penumpang ke arah Sudirman dan sekitarnya secara gratis.

"Kami membantu para pen­umpang angkutan umum supaya tidak keleleran di jalan," kata Purnomo.

Sementara, busway Transjakarta koridor Blok M-Kota tetap normal, tapi mobilitas menuju ke Kota ataupun sebaliknya terkendala lalu lintas yang macet akibat demo massal.

"Seperti biasanya, 46 bus­way disiagakan mengangkut penumpang, namun ada keter­lambatan karena terjebak macet demo," kata Aldi, petugas pengendali Transjakarta di Terminal Blok M.

Sedangkan Kepala Unit Pengelola Angkutan Sekolah (Upas) Dinas Perhubungan danTransportasi DKI Jakarta, Mohammad Insaf mengatakan, mengantisipasi mogok massal, pihaknya menyiapkan 140 Bus Sekolah yang diperbantukan untuk mengangkut penumpangumum.

"Kita arahkan agar mereka standby di 11 terminal pada pu­kul 7 pagi. Mereka tidak boleh mengambil penumpang umum sebelum angkot melakukan aksi demonya," ujar Insaf.

Tugas utama mereka, lanjut dia, adalah mengangkut siswa ke sekolahnya, sesuai dengan rute yang dijalani setiap harinya. Setelah tugas utama selesai, mereka baru diperbantukan mengangkut penumpang umum. Apalagi, siswa masuk sekolah mulai pukul 06.30, sedangkan aksi demo awak angkutan umum dimulai pukul 07.00.

"Pada siang hari, mereka harus kembali ke jalurnya masing-masing, menjemput siswa pu­lang sekolah atau yang masuk siang hari," tandasnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya