Berita

Edhie Baskoro Yudhoyono:net

Wawancara

WAWANCARA

Edhie Baskoro Yudhoyono: Kita Akui, Banyak Yang Menilai Ibu Ani Dan Pak Pramono Edhie Layak Jadi Capres 2019

SENIN, 14 MARET 2016 | 09:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Putra bungsu Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono ini menyangkal tudingan yang menyebut­kan kegiatan "SBY Tour De Java" yang digelar Partai Demokrat sebagai persiapan pencapresan. Pria yang akrab disapa Ibas ini menjelaskan, kegiatan itu hanya ajang nostalgia sekaligus silaturahmi dengan warga sambil menyerap aspirasi.

"Ini sebenarnya kegiatan rutin Partai Demokrat. Yang spe­sial tahun ini, kegiatan dipimpin langsung oleh Pak SBY selaku Ketum Demokrat sekaligus Presiden keenam RI," ujar Ibas saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, kemarin.

Ibas menegaskan, partainya tak ingin terburu-buru menentukan siapa yang bakal diusung, meng­ingat pelaksanaan pilpres masih sekitar 3 tahun lagi. Berikut pen­jelasan Ibas selengkapnya;


Setelah sempat 'puasa' presta­si di pileg dan pilpres 2014, apa ambisi Partai Demokrat di Pemilu 2019?
Tentunya keinginan Partai Demokrat sama seperti partai-partai lain, yakni ingin berhasil di Pemilu 2019. Apakah itu legislatif, maupun pilpres.

Namun, kami tidak ingin mendahului karena Belanda masih jauh. Kami masih berkon­sentrasi dulu dalam konsolidasi internal, mulai dari pusat sampai daerah.

Tapi apakah sudah ada bisik-bisik di internal Demokrat soal siapa yang akan dijagokan pada Pilpres 2019?
Seperti yang saya bicara­kan tadi. Setiap partai punya strategi untuk itu. Tapi kami tidak ingin berwacana dulu. Kami ingin fokus konsolidasi internal dan mempersiapkan pesta demokrasi yang ada di depan mata dulu, yakni pilkada serentak tahun 2017 dan 2018. Dan Alhamudillah, pada pilkada 2015 kemarin, target keme­nangan kami tercapai, bahkan lebih.

Dengan pileg dan pilpres yang digelar serentak, tentu­nya setiap parpol harus punya capres yang diusung bila mau suara legislatifnya mening­kat...

Itu perlu didiskusikan lagi. Saya jadi teringat pada pemilu 2004. Saat itu Demokrat bukan pememang pemilu, tapi berhasil mengusung capres. Dan pada 2009, kami menang pileg dan pilpres. Meskipun akhirnya kami kecewa harus di posisi 4 dan absen di pilpres.

Jadi, apakah benar seorang tokoh yang punya populari­tas tinggi, maka menang. Dan apakah popularitas figur bisa mempengaruhi suara parpol, tentunya perlu diskusi kembali.

Sejauh ini, popularitas SBY masih tinggi?

Saya tegaskan, Pak SBY su­dah 10 tahun menjadi presiden atau dua periode. Dan tentunya itu cukup jadi alasan bagi SBY untuk tidak maju kembali seba­gai presiden.

Tetapi kami tidak menampik, kalau masyarakat kita masih banyak yang mengelu-elukan, menghormati, mengagumi dan berharap beliau maju kembali. Tapi secara undang-undang itu tidak memungkinkan. Dan kami mengikuti aturan yang berlaku.

Bagaimana dengan Ibu Ani yang juga banyak dijagokan untuk maju bertarung?
Kalau itu silakan tanya lang­sung kepada Ibu Ani. Tapi kita akui, memang banyak kader Demokrat yang berpikiran sep­erti itu. Para kader berpendapat, tokoh-tokoh seperti Ibu Ani, Pak Pramono Edhie layak untuk diusung. Atau kami ambil lagi tokoh-tokoh yang dulu sempat ikut konvensi capres Partai Demokrat di tahun 2014.

Tapi yang pasti, kami masih menggodok nama-nama tersebut. Termasuk membuka peluang di luar nama-nama itu, misalnya seorang Gubernur yang mum­puni atau anggota DPR yang juga layak. Tetapi biarlah itu berjalan secara alami saja. Kami tidak mau berwacana dulu soal itu.

Anda sendiri siap bila ditu­gaskan partai untuk maju?
Kalau itu saya akan jawab bahwa saya tidak akan men­calonkan diri. Jangan sampai masyarakat menilai seolah-olah Partai Demokrat ambisi besar untuk terus menguasai pucuk pimpinan di negeri ini.

Masa itu akan datang silih berganti. Tapi tidak menutup kemungkinan memang semua parpol berharap menang di pemilu, apakah itu legislatif ataupun presiden.

Terkait penjaringan calon, apakah Demokrat akan kem­bali bikin konvensi capres seperti tahun 2014?
Jujur saja, kita belum seperti negara-negara maju dalam menentukan capres yang akan diusung. Masyarakat kita belum banyak mengetahui soal tujuan dilakukan konvensi capres. Padahal dalam konvensi ke­marin, Partai Demokrat ingin tunjukan kader-kader yang kred­ible, ternyata masyarakat kurang menangkapnya. Tapi apakah kami akan lakukan lagi model konvensi, itu juga masih kami kaji kembali.

Tapi siapa pun nanti yang akan maju dan dipilih masyarakat, saya berharap tatanan yang sudah kita bangun tidak sampai hilang. Kemarin saat proses transisi kepemimpinan Pak SBY dengan Pak Jokowi, itu kita lihat sangat bagus sekali. Ini merupa­kan pendidikan politik yang baik untuk ke depannya agar terus dipertahankan. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya