Setelah sempat dua kali mangkir, bekas menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari akhirnya memenuhi panggilan KPK. Siti diperiksa dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan RS Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Kepala Bagian Pemberitaan dan Media KPK Priharsa Nugraha menyatakan, Siti Fadilah Supari diperiksa sebagai saksi dalam perkara ini. Kesaksiannya untuk melengkapi berkas perkara dua tersangka Mintarsih dan Bambang Giatno Raharjo.
Penyidik KPK telah memangÂgil Siti untuk diperiksa pada pertengahan Februari dan 2 Maret lalu. Namun Siti tak memenuhi panggilan itu. Dia meminta pengunduran jadwal pemeriksaan," kata Priharsa.
Pemeriksaan terhadap Siti, keÂmarin, berlangsung selama tiga jam. Dicegat saat keluar dari geÂdung KPK, Siti mengatakan tak tahu menahu mengenai proyek alkes RS Unair tahun 2010. "Itu kan tahun 2010, bukan tahun saya (lagi) jadi menteri, jadi saya tidak tahu dong," katanya.
Saat proyek itu berjalan, Siti sudah tak lagi menjadi Menteri Kesehatan karena digantikan Endang Rahayu Sedyaningsih. "Aku nggak tahu, wong itu proyeknya Bu Endang. Tadi hanÂya ditanya tugas-tugas menteri itu apa," kata Siti. Endang telah meninggal pada 2012 lalu.
Mintarsih dan Bambang Giatno Raharjo ditetapkan sebagai terÂsangka kasus korupsi pengadaan alat kesehatan dan laboratorium tropik infeksi RS Unair, sejak 18 Desember 2015.
Mintarsih adalah Direktur Marketing PT Anugerah Nusantara. Perusahaan ini milik M Nazaruddin, bekas Bendahara Umum Partai Demokrat. Sedangkan Bambang, Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan.
KPK menjerat Bambang Giatno selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyalahgunaÂkan wewenangnya dan kongkaÂlikong dengan Mintarsih dalam menunjuk rekanan yang akan menggarap proyek ini.
Kasus ini terkuak dalam setÂelah penyidik KPK mengemÂbangkan kasus dugaan korupsi yang dilakukan Nazaruddin. Di persidangan kasus dugaan penÂcucian uang Nazaruddin di Pengadilan Tipikor Jakarta, terungkap bahwa bekas anggota DPR memerintahkan para anak buahnya untuk menggarap dan menggolkan proyek-proyek di sejumlah kementerian.
Mintarsih ditunjuk unÂtuk menggarap proyek di Kementerian Kesehatan. Proyek alkes RS Unair dibiayai dana APBN 2010. Namun pengangÂgaran proyek ini dirancang sejak 2009. Saat itu, Siti masih menÂjabat Menteri Kesehatan. Siti baru melepas jabatannya pada Oktober 2009.
Untuk mendalami kasus ini, penyidik KPK pernah memerikÂsa Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti. Nyalla terserempet kasus ini lantaran perusahaanÂnya, PT Airlangga Tama ikut joint operation mengerjakan proyek RS Unair.
La Nyalla yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur itu mengaku proyek RS di Unair tersebut suÂdah selesai sejak 2010.
Kilas Balik
Dibangun Bertahap Sejak 2007, Habiskan Biaya Rp 488 Miliar
Setelah mulai didirikan sejak tahun 2007 lalu, Rumah Sakit Universitas Airlangga (Unair) mulai hari ini siap dioperasiÂkan. Pengoperasian diresmikan Menteri Pendidikan M Nuh dan Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi selaku Ketua Majelis Wali Amanah Airlangga, 14 Juni 2011.
Direktur Rumah Sakit Unair Prof dr Dikman Angsar, SpOG menuturkan, pembangunan rumah sakit ini bukan untuk menyaingi Rumah Sakit Dr Soetomo yang selama ini dijadiÂkan tempat praktik mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair.
"Rumah Sakit Unair kita fokusÂkan sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan, ini bisa mengurangi penumpukan pasien di beberapa rumah sakit," kata Dikman.
Saat ini RS Unair dibangun secara bertahap. Tahun 2007 dibangun gedung senilai Rp 9 miliar, tahun 2008 senilai Rp 6 miliar, dan tahun 2009 senilai Rp 312 miliar, dengan rincian Rp 31 miliar untuk pembangunan fisik gedung dan sisanya untuk membeli peralatan medis.
Tahun 2010 dikucurkan dana Rp 130 miliar untuk perluasan bangunan. Total biaya yang sudah dihabiska mencapai Rp 488 miliar.
RS Unair dibangun di sisi geÂdung Rektorat Unair di kawasan Mulyorejo di lahan seluas 60 ribu meter persegi dengan total bangunan 40 ribu meter persegi dan memiliki delapan lantai.
Meskipun belum sepenuhnya rampung, rumah sakit ini sudah mulai beroperasi dan dilengkapi dengan 64 tempat tidur dan 110 tenaga medis, mulai dari perawat, dokter, hingga guru besar. "Para dokter senior di RSUD Dr Soetomo juga membantu," kata Dikman.
Untuk menyelesaikan total pembangunan, rumah sakit ini masih memerlukan anggaran sekitar Rp 120 miliar lagi di tahun 2011. "Mudah-mudahan dananya bisa cair (dari APBN) tahun ini," kata dia.
Meskipun belum rampung sepenuhnya, dari delapan lantai, setidaknya empat lantai saat ini sudah bisa dioperasikan dengan berbagai peralatan modern, sepÂerti lima alat bedah jantung serta enam alat radiologi.
Menteri Pendidikan Muhammad Nuh meminta RS Unair agar bisa menjadi pioneer ruÂmah sakit pendidikan untuk pengembangan riset kedokteran. "Rumah sakit ini harus pegang dua kartu, satu pendidikan, saÂtunya kesehatan," katanya.
Nuh sendiri berjanji akan memÂperjuangkan kebutuhan dana sebesar Rp 120 miliar yang dibuÂtuhkan RS Unair tahun 2011.
Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi selaku Ketua Majelis Wali Amanah Unair meminta rumah sakit ini juÂga harus mengedepankan pengabÂdian kepada masyarakat. "Rumah sakit ini jangan melupakan pengÂabdian kepada masyarakat," kata Sudi. ***