Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melarang program televisi yang mempertontonkan pria keÂmayu alias bergaya kewanitaan. Ada tujuh poin yang menjadi sorotan KPI, di antaranya adalah gaya berpakaian, riasan make up, bahasa tubuh dan gaya bicara yang kewanitaan.
Keputusan tersebut mendapat protes dari Lola Amaria. MenuÂrut artis, sutradara, produser dan penulis skenario ini, sebeÂlum mengeluarkan surat edaran tersebut, KPIharus berdiskusi dengan seniman.
"Iya. KPI perlu bicara dulu dengan para pelaku seni," sesÂalnya.
Seni seharusnya tidak bisa dibatasi karena hak setiap orang untuk mengapresiasikan. Lola pun menyesalkan KPI bisa memberikan kebijakan secara sepihak.
"Orang mau berperilaku kelaÂki-lakian atau keperempuan-perempuanan (banci) dalam berkesenian itu hak tiap orang, nggak boleh dilarang. Dalam hal ini makanya saya tanya, sejauh mana parameter yang boleh dan nggak boleh," tutur bintang Novel
Tanpa Huruf R dan MinÂggu Pagi di
Victoria Park ini.
Lola lantas mencontohkan keberadaan penari Didik Nini Towok yang bergaya halus dan lembut saat sedang tampil meÂnari di televisi.
"Dia kan bergaya keperemÂpuanan karena itu seni. Dia menari sebagai Shinta dengan topeng dan memperlihatkan gerakan gemulai. Bukan berarti dia kenapa-kenapa juga kan," bebernya.
Soal lain. Lola mendapatkan pelajaran yang begitu berharga di film garapan teranyarnya berjudul
Jingga, yang mengisahÂkan tentang tunanetra tersebut. Wanita berusia 38 tahun yang masih
single ini mengaku salut dengan mereka yang mempuÂnyai keterbatasan dalam melihat, mendengar, berjalan, berbicara dan sebagainya.
"Saya melakukan riset dan memÂpelajari lebih dalam tentang merÂeka. Begitu luar biasanya mereka, bisa mengenali orang hanya dari baunya, bunyi suara, gerak langkah. Berbeda dengan kita yang katanya normal dan sempurna," ungkap Lola. ***