Berita

Jenderal Badrodin Haiti:net

Wawancara

WAWANCARA

Jenderal Badrodin Haiti: Operasi Tinombala Berakhir 10 Maret, Tapi Kita Lanjutkan

SABTU, 27 FEBRUARI 2016 | 09:03 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sudah bertahun-tahun menggelar operasi militer, hingga kini Kepolisian belum berhasil menangkap teroris kel­ompok Santoso di Poso Sulawesi Tengah. Untuk me­nangkap kelompok Santoso, setidaknya sudah lima kali digelar operasi yakni; Operasi Camar Maleo I, II, III, IV, dan yang baru-baru ini polisi menggandeng TNImengge­lar operasi gabungan bertitel Operasi Tinombala untuk menangkap kelompok Santoso. Namun hingga kini teroris kelompok Santoso belum juga berhasil ditangkap. Padahal tenggat akhir operasi Tinombala tersisa dua pekan lagi yakni pada 10 Maret 2016.
 
Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengakui anak buahnya mendapat hambatan besar untuk menangkap kelompok Santoso. "Terutama faktor alam dan perala­tan," ujar Jenderal Badrodin.

Lantas apakah operasi Tinombala akan terus dilanjutkan, mes­ki hingga kini belum membuah­kan hasil, berikut ini penjela­san Jenderal Badrodin kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Bagaimana perkembangan pengejaran teroris di Poso?
Sampai saat ini terus dilaku­kan pengejaran. Tidak berhenti.

Memangnya sulit melum­puhkan kelompok teroris Santoso?
Memang ada beberapa ken­dala yang dihadapi di lapangan. Sekarang-sekarang terhambat oleh cuaca, hujan deras terus. Kemudian kondisi alam yang bergunung-gunung. Jadi mer­eka (teroris) itu masih bertahan di pegunungan. Dan kita terus melakukan upaya pengejaran dan melokalisir.

Apakah masih terjadi kon­tak senjata?
Ya, dan semenjak kontak sen­jata, pengejaran demi pengejaran dilakukan terus.

Apa nama operasi pengeja­ran terorisme di Poso?
Kan sebelumnya sudah ada Operasi Camar Maleo Satu, Camar Maleo Dua, Tiga dan Empat. Sekarang, lanjut lagi dengan operasi Tinombala 2016. Sudah banyak yang dilumpuhkan dan ditangkap. Nah, ini masih terus melakukan pengejaran.

Kan dalam operasi-operasi itu ribuan TNI juga diserta­kan, kok kelompok Santoso masih juga belum berhasil dilumpuhkan?

Kalau bersama dengan TNIkan sudah bersama-sama sejak Operasi Camar Maleo Tiga dan Camar Maleo Empat. Ya kita bersama-sama melaku­kan pengejaran. Soal apakah bisa langsung ditangkap, itu kan tidak bisa dipaksa. Enggak bisa dipaksakan bisa segera dapat dilumpuhkan. Yang pasti, penge­jaran masih terus dilakukan. Ini terus kita upayakan.

Operasi Tinombala 2016 akan segera berakhir di bulan Maret ini, bagaimana langkah selanjutnya?
Iya, tanggal 10 Maret 2016 nanti Operasi Tinombala ini be­rakhir. Dan, tentunya akan terus dilanjutkan lagi. Ya lanjut lagi operasinya.

Bagaimana kondisi di lapan­gan saat ini?
Nah, kondisinya faktor alam, cuaca dengan hujan deras terus terusan, dan pegunungan tempat teroris itu bersembunyi cukup menghambat pengejaran saat ini. Mereka (teroris) masih di daerah pegunungan.

Jika cuaca dan kondisi menghambat, apakah tetap dilakukan pengejaran?

Iya, tetap dilakukan pengeja­ran. Nah, kalau sekarang ini juga sedang dilakukan pemotongan jalur logistic para terorisme itu.

Seperti apa pemotongan jalur logistik itu?
Di sana dibagi dama empat pos untuk pemotongan jalur logistik teroris. Setiap pos ada penanggung jawabnya dari TNI bersama Polri. Jadi distribusi logistik teroris dipotong dulu.

Dari mana saja distribusi logistik bagi teroris di Poso?
Ya dari mana-mana. Tapi, yang pasti di empat pos itu jalur distribusinya.

Apakah ada temuan jarin­gan asing yang masuk ke dalam distribusi logistik Kelompok Teroris Santoso di Poso?
Kita terus mengejar, meman­tau dan memotongnya. Saat ini dari luar yang bergabung dengan kelompok Santoso itu ada dari ouigour (Cina). Baru itu yang nyata yang kita temukan dari luar Indonesia yang bergabung dengan jaringan Santoso. Jadi, dengan kondisi alam yang menghambat upaya pengejaran kepada teroris di sana, paling tidak distribusi lo­gistik teroris ke gunung-gunung tempat persembunyian mereka bisa dipotong dan tetap kita jaga dulu. Sembari terus menurunkan tim melakukan pengejaran hingga ke pegunungan itu. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya