Berita

Inspektur Jenderal (Irjen) Tito Karnavian:net

Wawancara

WAWANCARA

Inspektur Jenderal (Irjen) Tito Karnavian: Kalau Ada Anggota Terlibat Nanti Kita Proses, Kan Ada POM & Provost

KAMIS, 18 FEBRUARI 2016 | 09:16 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jenderal bintang dua ini siap mem-back up penuh Guber­nur Ahok untuk menertibkan wilayah Kalijodo. Jenderal Tito menilai penertiban wilayah Kalijodo berbeda den­gan penertiban di beberapa wilayah lain di DKI Jakarta. "Kenapa berbeda? Karena di sini ada persoalan penyakit masyarakat (pekat)," jelas Tito, setelah melakukan per­temuan tertutup dengan Gubernur Ahok dan Pangdam Jaya Teddy Lhaksmana di Mapolda Metro Jaya, kemarin. Lalu, apa saja pekat yang ada di wilayah itu, berikut penjelasan bekas Kepala Densus 88 itu:

Kalijodo ramai menjadi pembicaraan, apa saja per­masalahannya?

Ya, jadi persoalan di Kalijodo ini berbeda dengan yang di Kampung Pulo ya. Kenapa? Karena di sini ada persoalan pekat.

Pekatnya apa saja?

Pekatnya apa saja?
Mulai dari tempat berkum­pulnya para preman, tempat berkumpulnya pelaku kejahatan, kemudian ada miras ilegal, ke­mudian ada mucikari, prostitusi, ada juga yang bawa narkotika di situ. Itu tidak ditemukan da­lam kasus di Kampung Pulo. Sehingga ada persoalan masalah Kepolisian di sana.

Lalu?

Persoalan pemukiman liar. Nah persoalan pemukiman liar ini yang ada di atas tanah pemerintah, itu menjadi persoalan Pemerintah Daerah dibantu Kepolisian dan didukung Pak Pangdam.

Seperti apa bentuk dukungannya?
Khusus untuk Kepolisian, namanya operasi pekat, jadi dari kewilayahan. Kepolisian-Kepolisian Resort (Polres) yang ada di situ, dari Polres Jakarta Barat dan Jakarta Utara nanti yang melakukan operasi, didu­kung Komando Distrik Militer (Kodim). Selain itu juga nanti ada operasi dari Polda dan didu­kung Kodam.

Untuk penertiban pemuki­man liar?
Nah nanti khusus untuk penertiban pemukiman liar, dari Pemda, waktunya kapan, nanti kita lihat dan dijelaskan oleh Gubernur. Dari Polda dan dari Kodam, kami siap mendukung Pemda.

Bagaimana mekanisme penertibannya?
Jadi perlu diingat, jangan ber­bicara mengenai penggusuran. Terminologinya berbeda. Ini penertiban, karena ini tanah yang diduduki adalah tanah negara.

Kapan akan dimulai penertiban?
Operasi penyakit masyarakat, besok (hari ini) akan dimulai di sana. Tempat itu harus bersih dari pelanggaran-pelanggaran, seperti (kepemilikan) senjata tajam.

Berapa personil yang akan diturunkan?

Nanti kita lihat situasi. Saya kira dari kewilayahan mungkin sekitar lebih dari 500. Kemudian nanti operasi dari Polda, kekua­tannya mungkin 1000 sampai 2000 personil.

Bagaimana jika nanti ada perlawanan?
Kalau seandainya ada yang menolak kami melakukan opera­si penegakan hukum narkotika, miras, premanisme dan lain-lain, siapapun yang menghambat akan kita lakukan penegakan hukum.

Sudah dipetakan detailnya?

Iya, sudah dipetakan.

Tapi banyak juga yang me­nentang (penertiban)?
Saya yakin masyarakat nanti akan banyak mendukung lang­kah-langkah ini. Karena ini kan langkah-langkah untuk mem­bersihkan penyakit-penyakit masyarakat dan lain-lain.

Gubernur Ahok bilang ada yang melakukan penganca­man?

Ya kalau memang ada kita tangkap saja. Kalau itu pidana, pastinya kita akan proses.

Bagaimana dengan aparat yang menjadi beking?
Kalau ada ya nanti kita proses. Kita belum dengar. Kan nanti ada Polisi Militer (POM) dari Kodam dan Provost Polda.

Di mana target operasi pekat selanjutnya?
Nanti kita lihat. Saya akan dis­kusikan dulu. Saya nggak bisa memutuskan sendiri. Diskusi dengan Pangdam, diskusi den­gan gubernur. Mana lagi tem­patnya. Pak Pangdam ada saran, Berlan.

Bagaimana dengan prostitu­si di Hotel Alexis yang sempat disinggung Gubernur Ahok?
Oh nggak. Itu kan nggak mengganggu. Itu kan tempat dia sendiri, bukan tempat liar.

Jadi ada perbedaan?
Problem di Kalijodo ini adalah pemukiman liar. Kalau di Alexis dan tempat-tempat pijat kan itu bagaimana nanti tindakan Pak Gubernur. Kalau beliau sepakat, kita oke. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya