Berita

Genjot Wisatawan, NTB Harus Jadikan Bali Sebagai Hub Bukan Rival

KAMIS, 11 FEBRUARI 2016 | 16:59 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengingatkan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk tidak menjadikan Bali sebagai rival dalam menggenjot jumlah wisatawan. Bali, yang jumlah wisatawannya terbanyak, harus digandeng. Agar wisatawan yang datang ke Pulau Dewata menjadikan Lombok, sebagai destinasi berikutnya.

Demikian disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam diskusi bertajuk Wisata dan Infrastruktur Nusa Tenggara Barat "Peluang Devisa dalam Prespektif Pers Nasional", di Hotel Lombok Raya, Mataram, NTB, pada Senin (8/2) lalu.

Diskusi yang merupakan rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional 2016 tersebut menghadirkan tiga pembicara lainnya. Yaitu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemprov NTB, Chairul Mahsul; Kepala Bank Indonesia NTB, Prijono; dan Editor in Chief majalah National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim. Sementara yang bertindak sebagai moderator adalah Pemred Lombok Post, Rudy Hidayat.


"Indonesia tidak lebih dikenal dari pada Bali dan ini tidak perlu didebatkan lagi," tegasnya.

Demikian juga Menpar dalam memperlakukan Singapura. Dia tidak menjadikan negara Singa itu sebagai rival, namun sebagai hub. Karena semungil apapun negara itu, Singapura adalah titik penghubung Barat-Timur, Utara-Selatan, Tenggara-Barat Laut. Makanya dia menjadikan Singapore sebagai gate, menuju "the world next door” Indonesia.

"Yang tidak mengakui bahwa Singapura itu hub dunia, pejabat yang seperti itu harus diganti. Karena dia benci rivalitas (Singapura) itu, dia merugikan Indonesia. Analoginya sama. Jadi kalau kamu ada rivalitas daerah pada daerah lain, padahal de facto daerah itu menjadi hub pariwisata, pejabat itu merugikan daerahnya," ungkapnya.

Dia menegaskan, meski NTB menjadikan Bali sebagai hub, bukan berarti tidak ada potensi NTB bisa mengalahkan Bali. Dia mencontohkan bagaimana Telkomsel bisa mengalahkan Telkom, induk usahanya.

"Bisa, ada contohnya Telkomsel itu bisa mengalahkan Telkom. Dan banyak cerita seperti itu. Endorsnya dikalahkan sama yang diendors. Asal kamu punya positioning sendiri," sambung mantan Dirut Telkom ini.

Karena itu dia menambahkan, brand Wisata Halal untuk mempromosikan wisata Lombok sudah melalui berbagai pertimbangan. Wisata Halal tersebut menjadi positioning NTB pada umumnya dibanding daerah lainnya.

"Ketika Lombok mau menjadi destinasi utama, dia harus punya posisi tersendiri, tidak bisa bisa merupakan bagian dari destinasi lainnya. Kita harus pikir terus apakah positioning itu dalam berkali-kali diskusi. Kita sepakat salah satunya adalah wisata halal. Itu memang pilihan. Seperti (Candi) Borobudur itu, kita tetapkan sebagai mahakarya budaya dunia," tandasnya.

Apalagi, dia menambahkan, tidak ada keraguan terhadap keindahan alam dan budaya yang ada di Lombok. "Pariwisata itu ada 3 A. Pertama, atraksi. Disini atraksi tidak ada keraguan. Mau alam bagus dan budaya bagus," ungkapnya.

Meski memang, untuk 2 A lainnya, yaitu akses dan amenitas masih harus diperbaiki. Dia menegaskan hal itu akan menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah.

"Ketika akses itu enggak ada, maka kita lemah. Anda tidak akan membangun karena tidak ada akses. Kita ke Bima sulit. Kalau ke Bima harus ke Dompu. Di Mandalika juga sama, akses ke bandara sulit, dan bandaranya juga belum betul-betul internasional yang 300 Km runway," ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu M. Fauzan mengakui bahwa Bali itu sebagai hub wisatawan mancanegara.  "Saya tidak membuat Bali menjadi rival, pasti Bali itu hub-nya. Kita setuju itu. Realitasnya memang iya. Kita masih bergantung konektifitasnya dari Bali," ungkapnya usai diskusi.

Karena itulah, Pemprov NTB membangun kerja sama dengan Pemprov Bali. Begitu juga pelaku usaha wisata atau business to business. "Bali dengan Lombok itu punya jejaring yang bagus," tandasnya. [zul]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

KDM Didukung DPRD Hentikan Alih Fungsi Lahan di Gunung Ciremai

Kamis, 22 Januari 2026 | 03:49

DPD Soroti Potensi Tumpang Tindih Regulasi Koperasi di Daerah

Kamis, 22 Januari 2026 | 03:25

Monumen Panser Saladin Simbol Nasionalisme Masyarakat Cijulang

Kamis, 22 Januari 2026 | 02:59

DPRD Kota Bogor Dorong Kontribusi Optimal BUMD terhadap PAD

Kamis, 22 Januari 2026 | 02:45

Alasan Noe Letto Jadi Tenaga Ahli Pertahanan Nasional

Kamis, 22 Januari 2026 | 02:22

Peran Pelindo terhadap Tekanan Dolar AS

Kamis, 22 Januari 2026 | 01:59

Retribusi Sampah di Tagihan Air Berpotensi Bebani Masyarakat

Kamis, 22 Januari 2026 | 01:47

DPRD Kota Bogor Evaluasi Anggaran Pendidikan dan Pelaksanaan SPMB

Kamis, 22 Januari 2026 | 01:20

Noe Letto Tegaskan Tidak di Bawah Bahlil dan Gibran: Nggak Urusan!

Kamis, 22 Januari 2026 | 00:59

Jabar di Bawah Gubernur Konten Juara PHK

Kamis, 22 Januari 2026 | 00:59

Selengkapnya